Terus terang saja, saya lebih sering mereview seorang fisuf atau teoritisi sosial. Namun, Tesla memiliki keunikan tersendiri. Terutama soal kemanusiaan. Itu yang membuat saya harus mereviewnya.

Ya. Kemanusiaan yang melampaui segalanya. Itulah kalimat yang menurut saya cocok. Untuk menggambarkan seorang Tesla. Seorang ilmuwan yang terlampau gigih. Dalam memperjuangkan kemanusiaan.

Dia hidup sekitar 1856-1943.  Lahir di Austria. Sekarang Croatia. Anak seorang pendeta ortodoks. Ibunya juga anak dari seorang pendeta ortodoks.

Sewaktu dia lahir. Bidan yang membantu kelahirannya mengatakan. Bahwa Tesla akan menjadi anak kegelapan. The child of darkness. Lantaran dia lahir ketika badai dan petir sedang bergemuruh. Namun, Ibunya menampik perkataan itu dengan mengatakan tidak. Dia akan jadi anak penerang. The child of light.

Ternyata. Itu benar adanya. Dia dianugerahi kejeniusan yang luar biasa. Dia mampu mengingat buku yang dia baca. Dengan sangat detail. Kecerdasannya begitu tampak. Bahkan sejak di bangku sekolah. Dia mampu menghitung kalkulus integral. Hanya dalam kepala. Hingga gurunya mengira dia menyontek. Ini cerita yang sangat terkenal.

Tahun 1875. Dia mengikuti seleksi beasiswa. Di salah satu perguruan tinggi. Salah satu perguruan tinggi teknik di Austria. Di  perguruan tinggi, Dia dikenal sebagai mahasiswa jenius. Lulus dengan nilai tinggi. Pada setiap ujian di tahun pertamanya. Banyak pujian dari para pengajarnya.

Dia bekerja dari jam tiga pagi hingga jam sebelas malam. Mengerjakan sesuatu. Tidak ada libur akhir pekan baginya. Sangat sedikit sekali waktu untuk tidur. Namun, Tesla tidak pernah meyelesaikan pendidikan tingginya. Lantaran beasiswa yang dia peroleh harus dihentikan. Karena suatu hal. Dalam sebuah riwayat, dia berkonflik. Dengan salah seorang pengajar.

Bekerja untuk Edison

Sekitar tahun 1882. Dia mulai bekerja di perusahaan Thomas Edison di Prancis. Ya, Kemudian, tahun 1882 dia pindah ke New York. Masih di perusahaan Edison. Di perusahana itu, dia ditawari untuk melakukan perbaikan mesin-mesik Edison. Agar bisa bekerja dengan lebih efisien.

Namun, Edison tidak yakin dengan ide itu. Edison lalu menjanjikan imbalan pada Tesla. Jika dia mampu melakukannya. Mendengar tawaran itu, Tesla bekerja gigih. Membuat segala perhitungannya. Dan kemudian berhasil.

Singkat kata, mesin-mesin Edison bekerja lebih efisien. Lebih baik. Namun, Edison tidak menepati janji itu. Edison mengatakan bahwa janjinya itu hanyalah candaan. Edison kemudian menawarkan kenaikan gaji untuk Tesla. Yang tidak seberapa.

Tesla tidak menerima kenaikan gaji. Yang ditawarkan untuknya itu. Kesal dan kecewa. Karena kasus itu, Tesla kemudian mengundurkan diri. Keluar dari perusahaan Edison.  

Sebagai catatan. Masa-masa itu adalah fase di mana listrik menjadi suatu komoditi. Yang sangat menggiurkan. Banyak investor berinvestasi. Di sektor pengembangan industri kelistrikan.

Setelah keluar dari perusahaan Edison. Kemudian Tesla terus berkutat pada pengembangkan sistem Alternating Curren (AC). Arus listrik bolak-balik. Sambil bekerja buruh kasar. Hingga, Dia bertemu seorang beberapa investor. Yang siap mendanai ide-idenya.

Kemudian Tesla mengembangkan industri listrik berbasis AC. Sebagai catatan, industri kelistrikan yang dikembangkan Edison berbasis Direct Curre (DC). Sejak itu. Tesla dan Edison terus bersaing. Dalam upaya pengembangan industri kelistrikan. Edison dengan sistem DC-nya. Dan Tesla dengan sistem AC.  

Mesti diakui. Sistem AC Tesla memang sangat ramping. Juga efisien. Ini yang membuat Tesla sejujurnya lebih unggul dari Edison. Dalam sistem DC, dibutuhkan kabel yang sangat besar. Untuk mendistribusikan listrik. Itupun jangkauannya tidak luas. Dalam hal produksi juga tidak efisien. Berbanding terbalik dengan sistem AC. Yang dikembangkan Tesla.

Menara Kehidupan

Dari sinilah ambisi kemanusiaan seorang Tesal mulai tampak. Dia hendak membangun sebuah mega proyek. Sebuah menara. Setinggi sekitar 50 meter. Yang bisa memancarkan listrik gratis. Pada semua manusia. Di sudut bumi ini. Menara itu yang kemudian hari disebut dengan menara Tesla. Meskipun sekarang menara itu sudah tidak ada.

Ya. Energi gratis. Penerangan gratis. Untuk semua sudut bumi. Betapa besarnya. Ambisi kemanusiaan seorang Tesla. Justru itu yang membuat para investor tidak begitu tertarik dengan ide Tesla. Ingat, tidak ada yang gratis berhadapan dengan para investor. Kebanyakan investor selalu mengejar profit.

Singkat kata, proyek ini tertunda. Karena terkendala dengan persoalan finansial. Meskipun Tesla telah menguras semua koceknya. Untuk proyek itu. Bahkan dia terlilit banyak hutang. Karena berusaha mendanai proyek itu secara mandiri. Hingga akhirnya dia menjual properti itu.

Lihat. Betapa Tesla begitu mencintai kemanusiaan. Semua uangnya  dia habiskan untuk proyeknya. Demi menciptakan sesuatu untuk kemanusiaan.

Bagi Tesla, kemanusiaan melampaui segalanya. Dia memiliki 300 hak paten. Namun, dia hidup dalam kemiskinan. Dia tidak perduli dengan harta. Maupun ketenaran. Semuanya dicurahkan untuk kemanusiaan.

Padahal, seorang yang memiliki hak paten sebanyak itu. Harusnya bisa hidup bergelimang harta. Namun tidak dengan Tesla. Dia memilih mengabdikan itu semua untuk kemanusiaan.

Mungkin, itulah yang disebut idealisme. Sebuah keinginan dan totalitas. Untuk mengabdi pada kemanusiaan. Tanpa imbalan apapun. Tanpa tukar tambah dengan suatu apapun.

Kegagalan proyek menara Tesla bukanlah suatu hal tanpa beban. Kita bisa pahami. Depresi tingkat tinggi. Itu salah satunya. Yang menimpa Tesla. Pasca kegagalan Proyek menaranya.

Tahun 1937, dia mengalami sebuah kecelakaan lalu luntas. Ketika dia akan pergi ke suatu tempat. Untuk memberi makan merpati-merpati. Itu kebiasaannya. Dia tertabrak oleh taksi. Tiga rusuknya patah.

Menurut riwayat, dia tidak mau di bawa ke rumah sakit. Dia tidak mau diperiksa oleh dokter. Kemudian, dia meninggal di sebuah kamar hotel. Dia memasang  tanda di handel pintunya. Sebuah tulisan berbunyi do not distrub. 

Rupa-rupanya. Tanda itu bukan sembarang tanda. Ada maksud mendalam. Di balik tanda itu. Tanda itu berarti, jangan ganggu aku. Aku ingin pergi dengan tenang.

Kejeniusan dan Idealisme Adalah Kutukan

Ya. Ada Tesla di sekeliling kita. Sebagian besar teknologi yang kita pakai hari ini. Adalah hasil kerja dari seorang Nikola Tesla. Dialah peletak dasar-dasar teknologi modern. Yang kita pakai sehari-hari hari ini. Mulia dari setrika, hand phone, radio, televisi, listrik, internet, hingga roket penjelajah luar angkasa.

Ada sebuah riwayat yang cukup menarik. Ketika seseorang bertanya pada Einstein. Ya Albert Einstein. Si jenius itu. "Hai Einstein. Bagaimana rasanya hidup sebagai orang paling cerdas di dunia ini". Dia menjawab, "Entahlah. Seharusnya kau menanyakan ini pada Nikola Tesla".

Mungkin benar. Jika dikatakan bahwa. Idealisme dan kejeniusan adalah kutukan. Namun, idealisme yang pernah disuguhkan oleh Tesla adalah idealisme abadi. Tidak akan terlupakan. Akan membekas dalam relung sejarah. Sebuah ajaran dari maha guru kemanusiaan.

Menara Tesla itu. Meski bangunan fisiknya sudah dirobohkan. Namun, menara itu terus menerangi dunia. Sebagai sebuah ide. Sebagai sebuah ide tentang kemanusiaan. Sebuah ide tentang bagaimana mendedikasikan diri pada kemanusiaan.

Memang. Kejeniusan dan idealisme lebih merupakan sebuah kutukan. Dari pada berkah. Keduanya benda itu yang membuat sesorang keras kepala. Untuk tidak menghiraukan banyak hal. Dua benda itu yang terus mendorong untuk fokus. Dalam mendedikasikan hidup untuk kemanusiaan.