Setiap manusia normal tentu ia akan memiliki potensi untuk pacaran, mencintai dan dicintai. Namun cinta menuntut selektivitas karena mencintai berarti bertanggung jawab dalam nenanggung segala resiko. Oleh sebab itu kita perlu adanya melihat ,meneliti dan mempertimbangkan kembali orang yang hendak kita cinta, terutama untuk menegakkan keimanan.

Menurut Achmad Sunarto, memperhatikan kecenderungan pacaran dikalangan remaja. Pacaran sudah identik dengan adanya seks bebas ala ke barat-baratan, sehingga banyak sekali kasus-kasus kehamilan diluar nikah.

Seperti kasus aborsi(pengguguran bayi) yang meningkat, menurut pemikiran BKKBN ada sekitar dua juta kasus aborsi yang terjadi setiap tahunnya dan terdapat juga sebuah penelitian sebanyak 60 persen aborsi dilakukan oleh kalangan remaja.

Ditambah lagi dengan mewabahnya PMS(penyakit menular seksual), adapun catatan yang dikemukakan oleh beberapa rumah sakit di Surabaya ,Yogyakarta dan Semarang frekuensi penderita kelamin yang tertinggi antara usia 15-21 tahun(usia remaja).

Jenis penyakit kelamin yang terbanyak sebagaimana yang telah dilaporkan oleh RSUD Dr. Sarjito Yogyakarta pada tahun 1985 dan 1986 adalah kencing nanah sebanyak (71,9%), disusul oleh keputihan (15,8%), kadiloma akuminatum (6,9%) dan silifis (2,2%).  Penyakit tersebut mucul akibat dari gaya pacaran remaja yang sudah menjerumus ke seks bebas.

Dengan adanya kondisi seperti ini banyak pihak yang peduli dengan dunia remaja dan sebagian diantara mereka kemudian berusaha untuk mencari formulasi konsep pacaran yang sehat untuk remaja. Diharapkan dengan adanya konsep tersebut dapat menjadi panduan para remaja dalam berpacaran.

Pacaran sehat ala rukun islam 

Pertama ialah syahadat rukun pertama adalah “syahadat”. Bermula dari “syahadat” yang berarti mengungkapkan atau menyatakan, pacaran dimulai dengan “syahadat” dimana ada satu pernyataan dari kedua belah pihak bahwa mereka saling cinta atau bahasa gaulnya “nembak” alias pengungkapan cinta. Jadi pacaran dimulai dari “syahadat” dimana terdapat “pernyataan” dan kemudian kedua pasangan menyatakan “sepakat” untuk menjalin cinta.

Kedua ialah shalat kemudian memasuki rukun yang kedua adalah shalat yang artinya “menghadap” atau waktu kunjung pacar yang biasa disebut dengan apel . Tentunya, seperti shalat yang telah ditentukan waktunya , apel pun juga harus ada waktunya jangan sampai meninggalkan tugas utama.

Ketiga ialah puasa memasuki rukun yang ketiga adalah puasa, dalam hal ini harus sangat diperhatikan yaitu pandai dalam menahan diri, termasuk menahan hawa nafsu untuk tidak berkontak fisik dengan pasangan.

Keempat  ialah zakat yang berarti berbagi kesukaan pasangan, boleh dengan pemberian hadiah atau yang lain sebagainya dengan disertai ketulusan.

Kelima ialah haji dalam hal ini berartian untuk mencapai martabat yang tinggi. Dalam berpacaran martabat yang tinggi adalah tergabungnya pengertian mendalam diantara kedua pasangan dengan saling menyayangi.

Pacaran sehat fisik, psikologis dan sosial

Konsep ini banyak disosialisasikan oleh para relawan PKBI, secara garis besar seperti yang telah dikemukakan Ary Bumi Kartuni dalam “ pacaran, kenapa?” bahwa pacaran sehat mengenal tiga prinsip pacaran yakni sehat secara fisik, sehat secara psikologis dan sehat secara sosial.

Pertama ialah sehat secara fisik artinya dalam berpacaran tidak saling menyakiti secara fisik antara pasangan, misalnya tidak menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan, terkena HIV/AIDS atau PMS. Dalam hal pacaran sehat seks harus dihindari. Tidak boleh dilakukan, karena dapat menyebabkan  dampak negatif.   .

Kedua ialah sehat secara psikologis, artinya dalam berpacaran tidak saling menyakiti psikologis, misalnya tidak terlalu mengengkang pasanganya, menyakiti perasaan melalui kata-kata dan sebagainya.

Ketiga ialah sehat secara sosial, artinya dalam berpacaran sebuah pasangan harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya, misal dengan lingkungan keluarga dan masyarakat. Tentunya untuk menuju pacaran sehat ini, kedua belah pihak sebisa mungkin dapat berperilaku asertif, artinya seseorang dapat mengapresiasi secara langsung, jujur dan proporsional ( pada tempatnya ) dari pikiran, perasaan, kebutuhan, atau hak-hak pribadi tanpa kecemasan yang tidak beralasan.

Tips-tips pacaran seputar pacaran sehat

1.Membuat komitmen bersama dan berusaha keras untuk mematuhi komitmen tersebut. Komitmen dalam hal ini adalah kesepakatan tentang batas-batas aktivitas seksual yang dipilih dalam hubungan berpacaran. Dalam mengambil keputusan ini perlu dipertimbangkan berbagai hal, seperti norma, nilai, resiko, manfaat dan sebagainya.

2.Hindarilah situasi atau tempat yang konduktif menimbulkan fantasi atau rangsangan seksual seperti berduaan dirumah yang tidak berpenghuni, di pantai malam hari, tempat gelap dan sepi.

3.Hindarilah frekuensi pertemuan, karena jika sering bertemu tanpa aktivitas yang pasti dan tetap, maka keinginan untuk mencoba aktivitas seksual biasanya semakin menguat. Libatkan banyak teman atau saudara untuk berinteraksi sehingga kesempatan untuk selalu berdua semakin berkurang, hal ini juga dapat  menghindari ketergantungan dengan pacar.

4.Carilah kegiatan alternatif baru sehingga dapat menemukan kepuasan yang mendalam dari interaksi yang terjalin ( bukan kepuasan seksual)!

5.Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang masalah seksualitas dari sumber yang dapat dipercaya.

6.Pertimbangkan resiko dan tiap-tiap perilaku seksual yang dipilih.

7.Mendekatkan diri kepada Tuhan dan berusaha keras menghayati norma-norma atau nilai-nilai yang berlaku.

Makna cinta, cinta adalah perasaan halus yang muncul dari dalam hati yang memenuhi subtansi orang yang sedang jatuh cinta. Allah telah menciptakan cinta untuk menyempurnakan pendekatan dan proses keturunan yang menjadi sumber kelestarian kehidupan umat manusia.

Adapun cinta yang paling tinggi tingkatannya adalah cinta kepada Allah dan rasulnya, jika seseorang sanggup mencapai cinta yang satu ini, maka ia akan memperoleh kebaikan dunia serta akhirat, dan tingkat keimananya benar-benar telah sempurna.

Dari Anas ra, tentang sabda nabi Muhammad SAW

“Barangs siapa yang memiliki tiga sifat ini niscaya ia akan merasakan manisnya iman, yaitu mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala-galanya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan tidak mau lagi kembali kafir setelah diselamatkan Allah sebagaimana ia tidak mau apabila dilemparkan ke dalam neraka.”(HR. Bukhori)

  • Judul Buku : Nikmatnya pacaran menurut syariat islam
  • Penulis: Achmad Sunarto
  • Tanggal liris : 1 Oktober 2012
  • Penerbit : Ampel Mulia Surabaya