Gonggongan habis-habisan Nikita Mirzani atas Habib Riziq Shihab bukanlah gonggongan biasa.

Keberanian Nikita Mirzani patut diapresiasi dan diberi jempol sebanyak-banyaknya. Sebab, kehidupan bersama di Indonesia pada masa kini sedang dirongrong oleh kejahatan yang memiliki banyak balutan pakaian yang profan sekaligus yang non-profan. Dan, kita butuh banyak orang seperti Nikita Mirzani.

Perseteruan terjadi kala Nikita Mirzani hadir dalam speech-nya yang mengatakan bahwa Habib Riziq Shibab adalah si tukang jual obat. Komentar ini sontak melahirkan kritikan pedas dari sana-sini. Juga adu mulut antara Nikita Mirzani versus ustaz Maaher At-Thuwailibi. 

Namun, tidak sedikit masyarakat yang pro dengan sosok serba kontroversial ini. Terlihat hari-hari ini, sedang terbentuk kubu Nikita Mirzani VS Habib Riziq.

Kisah perseteruan ini sangat menarik. Terlebih melihat sepak terjang dari Nikita Mirzani berhadapan dengan “oligarki agama” yang satu ini. 

Nikita Mirzani bukan seorang presiden, atau menteri, atau seorang yang berpengaruh dalam bidang pemerintahan. Kiprahnya dalam perseteruan ini juga tidak untuk mencari posisi penting dalam pemerintahan. Tidak sama sekali.

Nikita Mirzani bukan pula seorang perempuan berciri agamis yang kesehariannya menampilkan kekudusan di depan banyak orang. Image yang dibawanya hanyalah artis serba-kontroversi: berseteru dengan artis ini atau artis itu. Image ini jauh dari ajaran agama yang mengajarkan umat untuk hidup baik dengan sesamanya. Dan kini, karakter kontroversialnya itu hadir dan menggoncang jiwanya untuk berseteru dengan Habib Riziq Shihab.

Emansipasi dan Subjektivisasi Nikita Mirzani

Nikita Mirzani secara tiba-tiba muncul ke permukaan publik dengan komentar pedas atas diri Habib Riziq Shihab dengan sebutan “Tukang Obat”. 

Kemunculan Nikita Mirzani ke permukaan ini disebut emansipasi. Tindakan emansipasi ini menunjukkan bahwa seseorang bisa berpikir. Bagi Jacques Rancière, semua orang bisa berpikir (Méchoulan, 2004:3), termasuk seorang perempuan seperti Nikita Mirzani.

Tindakan emansipasi yang dilakukan oleh Nikita Mirzani sungguh-sungguh berasal dari dirinya sendiri. Emansipasi Nikita Mirzani berarti dia melihat realitas yang ada, kemudian dibatinkannya, dipikirkannya, dan secara berani dikritiknya realitas itu. 

Emansipasi ini tidak datang dari pihak lain. Apabila emansipasi ini datang atau hasil intervensi dari pihak di luar diri Nikita Mirzani, namanya bukan lagi emansipasi, dan relasinya berubah antara yang memberi dengan yang diberi (relasi atas-bawah).

Selain itu, perlawanan yang dilakukan oleh Nikita Mirzani ini menjalar pada banyak orang. Salah satunya adalah Panglima Kodam Jaya, Mayor Jendral TNI Dudung Abdurachman, S.E., M.M. Video pidatonya hari-hari ini viral di berbagai mass media karena speak up melawan Habib Riziq Shihab (dengan cara menurunkan baliho Habib Riziq Shihab) dan usulan lantang untuk membubarkan FPI.

Hemat saya, yang merasa teremansipasi bukan hanya seorang Nikita Mirzani. Keresahan atas Habib Riziq Shihab sebenarnya sudah dirasakan banyak orang. Hanya saja, baru Nikita Mirzani yang berani speak up mengungkapkan kegundahannya pasca kepulangannya dari Arab Saudi. 

Hingga pasca-komentar Nikita Mirzani atas Habib Riziq Shihab, rupanya mengundang banyak orang untuk mengemansipasi dirinya, untuk kemudian berani juga untuk speak up mengungkapkan kegundahannya.

Emansipasi tidak pernah berhenti pada suatu subjek. Emansipasi ada pada setiap subjek dan selalu menjalar aktif ke semua subjek. Emansipasi yang terjaring dalam banyak individu ini disebut subjektivisasi (subjectivization). 

Subjektivisasi ini sebenarnya adalah kelanjutan dari emansipasi, namun sudah terasa makna komunitasnya. Dengan lain kata, subjektivisasi ini adalah emansipasi kolektif yang mana terdapat relasi atau hubungan antara diri sendiri dengan diri orang lain (Rancière, 1992:60).

Nikita Mirzani seperti mengalirkan strom listrik kepada orang banyak untuk juga berani keluar dari ketakutan untuk melawan Habib Riziq Shihab. Di sini kita bisa melihat suatu fenomena massa, muncul orang-orang yang awalnya takut melawan Habib Riziq Shihab tetapi kini berani keluar dari ketakutan itu dengan cara mengemansipasi diri untuk berani speak up and action dalam rangka melawan Habib Riziq Shihab.

Kita Butuh Penggonggong

Apa yang dilakukan oleh Nikita Mirzani hari-hari ini adalah hal yang luar biasa. Indonesia yang masih kuat dengan keresahan yang dilakukan oleh Habib Riziq Shihab dan FPI-nya ditembusi dan diganggunya. 

Padahal, sebenarnya kita berharap agar yang membongkar konstruksi negara berciri agama ini adalah mereka yang mendapat posisi bagus, dalam pemerintah. Tetapi, tanpa kita sadari, tanpa kita buat hitung-hitungan, tanpa kita bayangkan sebelumnya, yang hadir paling depan adalah sesosok perempuan janda yang kontroversial itu; Nikita Mirzani.

Hemat saya, keberadaan orang-orang seperti Nikita Mirzani ini adalah sangat penting. Keberadaan mereka adalah untuk mengawal kehidupan bersama. Ibarat anjing yang melihat pencuri sedang beraksi di rumah tuannya, emansipasi Nikita Mirzani berujung pada gonggongannya pada Habib Riziq Shihab sekaligus membangunkan negara ini dari tidurnya. 

Dalam kasus Nikita Mirzani, kita bisa melihat bagaimana seorang Riziq Shihab yang adalah seorang habib dan klaim diri sebagai cucu Nabi Muhammad tidak bisa menjadi contoh yang baik untuk para pengikutnya sekaligus menyadarkan orang banyak bahwa ada yang tidak beres dengan Habib Riziq Shihab.