Dalam sebuah hadisnya yang populer, Nabi Muhammad menyeru kepada para pemuda dengan seruan: “Hai pemuda, siapa diantara kalian yang al-ba’ah (mampu) untuk menikah, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya”, (HR. Bukhari)

Ada dua alasan penting mengapa hadis ini penting dikutip.

Pertama, untuk menegaskan bahwa yang yang dianjurkan untuk segera menikah itu adalah pemuda, atau dalam bahasa Arabnya disebut al-syabab. Secara definisi, al-syabab bermakna pemuda yang sudah baligh dan usianya masih belum melewati 30 tahun ke atas.

Kedua, hadis ini tersebut menegaskan bahwa pemuda yang ingin menikah tersebut tergolong dalam kategori ­al-ba’ah (mampu). Secara bahasa, ­al-ba’ah menurut Imam Nawawi dalam Syarh shahih muslim menyebutkan bahwa mampu itu terbagi menjadi dua; pertama, mampu dan kuat untuk melakukan hubungan seksual dengan pasangannya, bahkan dalam beberapa literatur syarh hadis disebutkan dengan istilah yang agak frontal, quwwat al-jima‘, membaca penjelasan semacam ini lantas saya terpikir,  inikah landasan agamanya kenapa di Indonesia produk-produk ‘obat kuat’ itu laku keras ? Entahlah.

Dan kategori mampu kedua adalah mampu secara kemampuan secara finansial, meliputi pembiayan mahar, dll.

Secara normatif, Islam hanya mensyaratkan dua itu saja kepada para pemuda jomblo yang ingin segera menikah. Namun persyaratan itu semakin rumit ketika ditarik dalam konteks sosial masyarakat kita.

Bagi masyarakat kita, khususnya Indonesia. Menikah adalah ajang untuk pamer gengsi dan gaya. Hal itu bisa dilihat dari fenomena biaya mahar yang semakin tinggi, pun dengan biaya resepsi.

Namun ditengah budaya yang semacam itu, beberapa bulan silam kita digemparkan dengan kasus Alvin, anak dari Ustadz Arifin Ilham yang berani memutuskan untuk segera menikah muda.

Gebrakan semacam ini sensasional, dan heboh pula. Sebab selama ini yang mengakar dikepala pemuda kita adalah menikah adalah persoalan sanggup dan mandiri secara finansial. Oleh sebabnya, dengan berbagai alasan pemuda kita menunda untuk menikah.

Melihat kasus Alvin, secara normatif dalam Islam sebenarnya tidak bermasalah. Dia termasuk dalam kategori al-syabab, dan termasuk pula dalam kategori al-ba’ah (mampu). Sebab Alvin adalah anak yang berasal dari ekonomi yang berkecukupan.

Namun secara Kompilasi Hukum Islam (KHI) Indonesia, pernikahan Alvin adalah termasuk dalam kategori pernikahan muda.

Nikah muda sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah yang genting secara normatif dalam hukum Islam. Namun yang menjadi masalah itu adalah banyaknnya kasus-kasus perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga disebabkan oleh pernikahan muda yang belum siap secara emosional.

Bagi saya, Alvin sebagai idola baru remaja sekarang harus bisa mematahkan mitos kalau nikah muda itu gampang cerai.

Pun sebaliknya bagi para penggemar Alvin, perlu ditegaskan bahwa menikah bukan urusan sehari dua hari, ini hubungan janji suci seumur hidup. Sebab Allah sangat tidak menyukai perceraian, oleh sebabnya perlu kematangan diri sebelum nikah. Kelabilan emosional dengan cara ikutan nikah muda ala Alvin justru akan menimbulkan masalah baru.

Masalah baru itu bisa lahir ketika nikah muda, kemudian hamil dan punya anak. Sedangkan pasangan tersebut tidak bisa memberikan yang dibutuhkan bayi dengan alasan ekonomi.

 Jika demikian, kualitas anak Indonesia jadi tergadaikan, apalagi pada tahun 2020-2045 Indonesia akan mengalami bonus demografi, ledakan penduduk. Oleh karenanya, nikah di usia yang ideal, persiapan yang matang merupakan ikhtiyar terbaik untuk menyiapkan generasi Indonesia terbaik.

Sebenarnya perbincangan soal nikah muda adalah perbincangan yang complicated tetapi pembahasannya clear. Tuntas karena pada ujungnnya pihak Kantor Urusan Agama (KUA) akan memberikan solusi bagi yang ingin menikah di usia dini dengan berbagai persyaratannya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa pernikahan adalah sebuah solusi terbaik dalam menyalurkan naluri seks manusia. Dalam sejarah umat manusia pun, baik manusia primitif maupun modern mengakui adanya institusi pernikahan ini, meskipun dengan cara yang berbeda-beda.