Mahasiswa
3 tahun lalu · 4421 view · 2 menit baca · Budaya socrates_pio-clementino_inv314.jpg
Foto: en.wikipedia.org

Nikah dan Jadilah Seorang Filsuf

“Menikahlah! Jika isrimu baik, kamu akan bahagia. Jika istrimu jahat, kamu akan menjadi filsuf sepertiku.” ~ Socrates

Banyak meme bertebaran di media sosial bahwa tahun 2016 adalah saat di mana manusia jebolan 1990, 1991 dan 1992 harus melangsungkan pernikahan. Sontak saya pun merasa terpanggil. Benar saja, kawan-kawan semasa saya MI (Madrasah Ibtidaiyah setingkat SD) dan kawan-kawan seperjuangan di bangku kuliah sudah banyak yang melepas masa lajangnya.

Bagaimana dengan saya? Jangankan melakukannya, takut yang ada saat memikirkannya. Ketakutan tersebut tentu bukan tanpa alasan.

Menikah merupakan suatu putusan hidup yang sangat penting, butuh kematangan dan kesiapan lahir dan batin dalam menjalani proses sebelum dan sesudahnya. Menikah bukanlah candaan atau permainan yang dilakukan di saat kita berada di titik kejenuhan dalam hidup dan bukan pula sebagai ajang uji coba atau uji nyali.

Dalam pernikahan, di samping ada dua jiwa yang dipersatukan, juga ada dua keluarga yang dipertemukan. Pernikahan melibatkan banyak pihak, sehingga proses yang dilalui tidaklah semudah memasak air atau membalikkan kedua telapak tangan. Sehingga banyak di antara kita yang merasakan ketakutan yang maha dahsyat saat akan memutuskan untuk menikah.

Biasanya, ketakutan seorang lelaki dalam hal kenapa dirinya belum memutuskan untuk menikah karena ia merasa: pertama, belum mapan dalam hal material; kedua, ketidaksiapan mental meski dari segi materi sudah cukup.

Ketiga, ketidaksiapan menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk pasca ia menikah, dan ini adalah problem eksistensial; dan keempat, meski dari segi material dan mental sudah siap, tapi belum ada perempuan yang mau menikah dengan dirinya alias jomblo, dan ini yang paling tragis, bersabarlah.

Namun demikian, haruslah kita menjawab dua pertanyaan mendasar terkait dengan permasalahan ini. Pertama, atas dasar apa pernikahan itu harus dilakukan dan kedua, apa tujuan utama yang harus terwujud dari proses pernikahan tersebut.

Untuk pertanyaan pertama, sebagai bagian dari umat Islam, saya akan mengambil jawaban yang sudah tertulis di dalam rujukan utama, yaitu al-Quran. Pertanyaan itu oleh al-Quran dijawab dengan jawaban yang sangat romantis dan sederhana; cinta. Ya, atas dasar cinta engkau harus menikah. Di dalam surat al-Nisa ayat 3 dinyatakan: “Nikahilah olehmu perempuan yang engkau sukai/cintai.”

Saya sengaja memotong ayat tersebut sampai kalimat “mâ thâba lakum min al-nisâ” untuk mendapatkan sebuah makna bahwa cinta harus menjadi dasar untuk melakukan pernikahan. Jika ayat tersebut tidak dipotong, oleh kebanyakan ‘ustadz-ustadz’ dijadikan dasar dan rujukan untuk berpoligami. Na’udzubillah.

Saat cinta menjadi alasan dasar dalam pernikahan dua insan, maka tidak ada pihak yang merasa dipaksa atau dirugikan, satu sama lain merasa ikhlas dan saling memasrahkan jiwanya untuk bersatu membangun peradaban kecil yang disebut keluarga. Sebaliknya, Islam pun menjadikan ‘haram’ hukum nikah jika ada unsur keterpaksaan dan terdapat niat buruk di dalamnya. Waspadalah!

Kemudian pertanyaan kedua, apa tujuan dari pernikahan? Jawabannya adalah untuk mewujudkan keluarga yang tenang (sakinah), ramah (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah, sumber rujukannya bisa dilihat dalam surat al-Rum ayat 21).

Jika kondisi-kondisi kejiwaan tersebut sudah terwujud dalam rumah tangga, maka bisa dikatakan bahwa keluarga tersebut adalah keluarga yang bahagia. Kebahagiaan adalah tujuan utama dari adanya pernikahan, dan hal itu adalah asa dan harapan dari semua orang yang menikah.

Syarat utama membangun rumah tangga yang bahagia adalah menjalin hubungan yang baik antara suami dan istri. Di dalam risalah tentang prinsip-prinsip sosial dan perempuan, Ibn Sina membahas soal ini.

Ia menyatakan: “Maka adalah kewajiban bergaul dengan baik kepadanya, supaya sang istri bergaul baik pula, dan supaya ia membentuk suasana rumah tangga yang harmonis yang menyebabkan pendorong baginya untuk mengurus rumah tangga dan segala pekerjaannya.”

Namun, bagaimana jika dalam membangun rumah tangga kebahagian tak didapat? Tenang saja, tak usah kau akhiri semuanya. Saat kebahagiaan tak kau dapat, semoga engkau menjadi filsuf sesuai dengan sabda sang bijaksana, Socrates

Artikel Terkait