Untuk pernyataan pada judul tulisan di atas, saya kira tidak ada hal yang perlu dipertanyakan dan dibingungkan. Karena memang nikah beda agama itu bisa.

Yang belum jelas itu ialah boleh atau tidak. Sebab masih terjadi perdebatan yang alot di kalangan para ulama Islam. Ada yang memperbolehkan dan ada yang tidak. Mereka belum menemukan kata sepakat. Dan itu saya kita akan terus berlanjut hingga kapan nanti.

Sebelum dilanjut, mungkin ada yang masih bingung perihal perkataan ‘bisa’ dan ‘boleh’. Kenapa dibedakan? Bukannya dua-duanya sama? Nah, begini, pembaca yang budiman. Sebagaimana yang saya pelajari dalam ilmu filsafat, antara ‘bisa’ dan ‘boleh’ itu beda. Tidak sama.

Apa bedanya? Bedanya adalah ‘bisa’ itu berbicara tentang kekuatan atau power kita untuk melakukan sesuatu. Bisa tidak kita melakukan nikah beda agama? Jawabnya bisa. Karena kita punya daya atau kekuatan untuk melakukan itu. 

Tapi kalau kemudian pertanyaannya dilanjut, apakah nikah beda agama itu boleh? Belum pasti. Tetapi yang jelasnya adalah ‘boleh’ itu soal legalitas. Berbicara tentang sah atau tidak. Dari sini jelaslah antara ‘bisa’ dan ‘boleh’ itu berbeda. Demikian kira-kira.

Sekarang mari kita lanjut pada perdebatan boleh tidaknya.

Ketika membicarakan nikah beda agama, umumnya, baik ulama atau cendekiawan muslim, merujuk pada Alquran surah al-Baqarah ayat 221:

Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka.

Kemudian surah al-Mumtahanah ayat 10:

Mereka (wanita-wanita muslimah) tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.

Jumhur ulama dengan ayat yang disebut terakhir menyimpulkan dan bersepakat, bahwa wanita muslimah jelas dan tegas tidak boleh menikah dengan pria kafir atau non-muslim. Laki-laki pun demikian, ketika didasarkan al-Baqarah 221, dilarang dan dianjurkan untuk tidak menikahi wanita musyrik kecuali setelah ia mempersembahkan keimanan.

Namun hal ini agak sedikit membingungkan karena terkesan ‘dibantah’ oleh al-Maidah ayat 5 yang pada intinya membolehkan laki-laki muslim menikah dengan wanita non-muslim dengan catatan wanitanya adalah seorang ahli kitab.

Terkait ahli kitab, lagi-lagi para ulama masih berdebat. Berdebat bukan pada ranah makna redaksinya. Karena maknanya sudah jelas, yaitu mereka yang berasal dari agama yang juga diberikan kitab oleh Allah, seperti Yahudi dan Nasrani, melainkan pada kenyataan apakah ahli kitab itu kini masih ada atau tidak?

Sebab, baik umat Nasrani maupun Yahudi saat ini ‘diduga’ oleh ulama Islam telah banyak melenceng dari ajaran mereka yang benar, yakni ajaran yang bersumber pada kitab yang autentik sebagaimana diwahyukan oleh Allah pertama kalinya.

Selanjutnya, perdebatan tentang nikah beda agama. Jika kita tilik lebih lanjut, hakikatnya tidak hanya berhenti pada perdebatan tentang ayat Alquran, melainkan juga merembet pada status dari nikah itu sendiri, masuk dalam ketegori ibadah atau mualamah.

Jika termasuk ibadah, maka tanpa tawar-menawar pernikahan harus dilaksanakan oleh dua insan yang memiliki kesamaan akidah. Artinya, sama-sama Islam.

Berbeda lagi jika nikah dikategorikan sebagai bagian dari muamalah. Karena pada prinsipnya, muamalah dapat dilakukan kepada siapa saja. Ia adalah interaksi sosial. Jadi tanpa pandang bulu apakah ia muslim atau non-muslim.

Dan konsekuensinya, dalam kasus nikah beda agama, adalah sah dan boleh-boleh saja, baik laki-laki menikah dengan wanita non-muslim atau sebaliknya. Demikian tulis Prof. M. Amin Suma (Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah) dalam bukunya Kawin Beda Agama di Indonesia.

Terlepas dari perdebatan ulama di atas. Secara pribadi, saya mengira sah-sah saja kiranya kalau seseorang mau nikah dengan orang yang beda agama atas dasar cinta dan suka sama suka. Namun pertanyaannya kemudian ialah, seberapa kuatkah kita mempertahankan hubungan tersebut?

Apalagi di dalam masyakat kita ada yang lebih sakral dari sebuah hubungan yang dibangun atas dasar cinta. Apa itu? Yaitu teologi, hal yang berkaitan dengan akidah.

Isu akidah merupakan sesuatu yang sangat sensitif di Indonesia. Kita jangan sampai gegabah dan serampangan dalam melangkah.

Saya pikir kita semua sudah tahu akan hal itu. Nikah beda agama sangat berisiko. Tapi kalau kita sudah siap menerima konsekuensinya, misalnya tekanan psikis berupa pengucilan, gunjingan, dan nyinyiran orang yang akan datang bertubi-tubi, silakan, go ahead.

Konsekuensi semacam ini ditangkap oleh Buya Hamka. Makanya beliau, misalnya di dalam Tafsir Al-Azhar-nya saat berbicara ihwal nikah beda agama, ia hanya mengatakan bahwa nikah itu sebaiknya memang dilakukan antara dua insan yang sudah memiliki kedekatan budaya dan nilai-nilai. Biar bisa langgeng hingga kemudian dan menimalisasi terjadinya pertikaian dalam rumah tangga.

Pernyataan Buya Hamka ini perlu untuk kita perhatikan dan pertimbangkan terlebih dulu sebelum melakukan nikah beda agama. Agar tidak menyesal di kemudian nanti.