Berbohong sudah menjadi kebiasaan yang menyehari. Setiap orang pernah mengalami dan dialami oleh kebohongan. Tidak ada manusia terjujur, setiap dari kita selalu mengenakan topeng untuk menutupi wajah asli. Kita mengenakan topeng itu sesuai situasi yang kita alami, dalam dunia yang serba kompleks dan tidak pasti.

Friedrich Nietzsche (1844-1900) menulis essai berjudul “On Truth and Lies in a Nonmoral Sense”. Pertanyaan mendasar yang hendak dijawab dalam essai itu adalah, ‘dalam ketidakpastian dunia, apakah ada kebenaran yang pasti?’

Manusia, dalam dirinya terkandung hasrat untuk mengejar pengetahuan dan kebenaran. Bagi Nietzsche, kebenaran itu terletak dalam forma sosial, ia dikonstruksi sesuai konteks budaya tertentu. Karenanya, mengagungkan kebenaran tertentu dan merendahkan yang lain, sebetulnya adalah kebohongan belaka, kesia-siaan.

Karena manusia hidup secara bersama, manusia menyepakati perdamaian, menyudahi peperangan. Kesepatakan itu bukan berupa kesepatakan dalam bentuk norma, konvensi, atau kontrak sosial seperti dalam gambaran Thomas Hobbes, John Locke, atau JJ. Rousseau –melainkan bahasa.

Melalui bahasa, kebenaran berusaha untuk disingkap. Bahasa memberikan kita representqasi pada obyek tertentu, bekerja secara korespondensi. Dengan kata lain, bahasa menjadi instrument untuk memberi pemahaman pada kita, tentang terminologi yang menjelaskan akan sesuatu, obyek itu.

Namun bagi Nietzsche, kebenaran justru disembunyikan melalui bahasa. Manusia menggunakan bahasa sebagai topeng, wajah, seragam untuk mengupayakan sedemikian rupa sebuah keterungkapan atas diri dan dunianya, padahal tidak sama sekali. Yang tersingkap hanya permukaan saja.

Dalam artikel itu, Nietzsche mengutarakan bahwa seorang pembohong adalah dia yang menggunakan motif tertentu, mengurai kata-kata, untuk menunjukkan yang tidak nyata menjadi terlihat nyata. Misal, ketika seseorang berkata bahwa ia orang kaya. Bisa saja orang-orang di sekitar mempercarai ucapannya, meski sebetulnya ia tidak benar-benar kaya.

Artinya, bahasa tidak selalu menunjuk pada kebenaran, kenyataan sesungguhnya. Bisa saja seseorang mendesain kebenaran tertentu melalui bahasa, untuk membuat orang lain percaya padanya. Pemikiran darinya ini nantinya digunakan oleh para pemikir postmodern, terutama oleh Lyotard dan Foucault, untuk membongkar kedok kekuasaan melalui konstruksi bahasa.

Permisalan lain, ketika seorang adik dan teman bertanya pertanyaan yang sama tentang Tuhan, kita akan menjelaskan dan mungkin saja berkutat dalam diskusi ketat dengan teman, namun memberi jawaban sesederhana mungkin ke si adik. Artinya, kita juga menampakkan wajah berupa-rupa dalam konteks situasi yang berbeda, dengan mereplika bahasa sedemikian rupa untuk membuat seseorang mempercainya.

“A uniformly valid and binding designation is invented for things, and this legislation of language likewise establishes the first laws of truth. For the contrast between truth and lie arises here for the first time. The liar is a person who uses the valid designations, the words, in order to make something which is unreal appear to be real. He says, for example, “I am rich,” when the proper designation for his condition would be “poor.”  

Bahasa menjadi instrumen yang melekat pada manusia untuk mengekspresikan kesadarannya atas dunia. Bahasa apa saja, bersifat terbatas dalam mengungkap realitas dan selalu terikat dengan konteks di mana ia diciptakan oleh manusia. Ia dikenakan sebagai seragam, berfungsi untuk me-metaforkan obyek-obyek yang ada. Meski, pada akhirnya bahasa yidak tahu persis kedalaman dari kenyataan itu seperti apa –thing in itself. 

Thing in itself (sesuatu dalam dirinya)–terma yang dipakai pertama kali oleh Immanuel Kant—merupakan konsepsi yang mengandaikan kebenaran, yang tak terjamah dengan kesadaran langsung manusia. Bahwa, kita tidak akan mampu melihat ke dalam sumur yang dalam, yang gelap, di mana kebenaran itu berada. Nietzsche dalam salah satu aforismenya mengatakan, “ketika kamu menatap ke dalam kegelapan, kegelapan itu akan menatap balik ke arah mu”.

Terma itu itu merujuk pada sebuah kesunyian, dari pikiran, sensasi, mimpi, dan seterusnya. Sisi gelap dari diri, di mana ketika kita mencoba untuk menelisik lebih dalam menembus batas-batas alam bawah sadar, kita akan menemukan sisi lain dari diri, dasar yang destruktif dan menyeramkan.

Semua bahasa merupakan metafor. Ketika bahasa dipakai untuk menunjuk pada obyek tertentu, itu tidak lebih adalah proses artistik saja –karena bahasa sendiri merupakan ciptaan manusia. Kenyataan tidak dapat ditelanjangi dengan keterbatasan bahasa. Kita, hanya merepresentasikan kenyataan itu dalam metafor linguistik saja.

Kita melupakan sesuatu, kata Nietzsche, bahwa bahasa adalah metafor yang telah menjadi kebiasaan menyehari. Sehingga, setiap orang menganggap metafor itu sebagai sebuah kenyataan. Akhirnya, kita akhirnya terperangkap dalam ilusi kita sendiri, kesulitan dalam membedakan kebenaran dan kebohongan, melalui bahasa.   

Kita menyatakan bahwa kita mengetahui kebenaran akan sesuatu, tetapi nyatanya, kita tidak sedang mengetahui apa-apa. Ketika merujuk pada sesuatu untuk disingkap, namun kita tidak sedang menyingkap apa-apa. Kebenaran adalah metaphor atas sesuatu itu, yang dikonsepsikan atas entitas tertentu –kulit luar yang mengalami pengungkapan berbeda-beda dari setiap orang. Kebenaran sejati adalah ilusi.

“we believe that we know something about the things themselves when we speak of trees, colors, snow, and flowers; and yet we possess nothing but metaphors for things — metaphors which correspond in no way to the original entities… A word becomes a concept insofar as it simultaneously has to fit countless more or less similar cases — which means, purely and simply, cases which are never equal and thus altogether unequal.”

Atas dasar itu, Nietzsche hendak berupaya menggambarkan apa itu kebenaran dan kebohongan, yang diawali dari satu titik, bahasa. Baginya, memihak pada kebenaran berarti menyuguhkan metafor-metafor demi tujuan moralitas. Kita tidak menyatakan kejujuran begitu saja jika itu akan memberi sakit kepada seseorang.

Berbohong, tidak hanya diartikan sebagai subyek yang menyatakan sesuatu yang berkebalikan dari kebenaran. Namun, berbohong adalah kecendrung untuk mengungkap sesuatu dengan cara yang berupa-rupa, dengan prasangka dan penuh arogansi.

Pembohong adalah ia yang menyatakan suatu hal demi kepentingan diri dan memberi kesakitan pada subyek lain di luar dirinya. Seperti ungkapan Nietzsche, “The liar uses the valid terms, the wors to make the unreal appear real”. 

Bagi Nietzsche, konsep agaknya berjarak dengan kebenaran transendental –kenyataan yang tak terungkap, thing in itself. Konsep hanya buatan manusia, sebuah delusi yang seolah-olah mampu menginterpretasi totalitas kenyataan. Lalu membawa kita pada kebuntuan karena ketidakmampuan konsep itu sendiri dalam menyingkap kenyataan.