Jika kebanyakan para filsuf dirumorkan memiliki hubungan dekat dengan beberapa wanita, atau bahkan ketika berstatus sebagai Dosen, memiliki hubungan dengan mahasiswinya sendiri. Seperti Jelan Paul Sartre dengan Simon de Beauvoir atau Martin Heidegger dengan Hanna Arendt. Namun kisah yang serupa sepertinya tidak untuk seorang Nietzsche. Sekalipun ia juga adalah seorang Dosen.

Kisah itu diketahui melalui perjumpaannya dengan seorang gadis remaja cantik dari Rusia bernama Lao Andreas Salomo. Boleh disebut bahwa Salomo adalah cinta sejati Nietzsche. Sebab seorang Nietzsche bahkan pernah sampai tiga kali menyampaikan "perasaannya" pada Salomo dan berujung pada penolakan yang kurang sedap.

Salah satunya bentuk dari perasaan itu adalah melalui sepucuk surat yang ia kirim kepada Salomo, "bahwa hari yang lewat, tampak seperti hari ulang tahunku; engkau kirimi persetujuan-mu (datang dan tinggal selama tiga Minggu) hadiah terbaik yang pernah orang berikan kepadaku..."

Maksud surat yang selain bentuk perasaan Nietzsche, juga mengartikan kesunyian yang mendalam atau "keterpisahan-nya" setelah meninggal Basel (dan juga aktivitas mengajar) pada tahun 1879. Sehingga, bisa dikatakan bahwa Salomo adalah salah satu penyebab keterpisahan Nietzsche dari keterpisahan-keterpisahan lainnya yang "ikut" membantu persalinan Nietzsche sebagai seorang filsuf yang banyak bergulat dengan pemikiran Soliter-nya. 

Keterpisahan lainnya, adalah lebih dulu ketika Nietzsche memisahkan diri dari iman Kristiani, yang berawal dari perjumpaannya dengan seorang eksegesis (penafsir teks) kitab suci yang beraliran liberal. Kehilangan iman yang secara implisit meruntuhkan uraian sejarah atau kredo Lutheran yang ia anut sejak dini.

Kemudian, keterpisahan yang juga tidak terlepas dari kerabat-kerabatnya. Terutama Richard dan Cosima Wagner -- sepasang kekasih sekaligus komposer terkenal di Jerman kala itu yang merupakan kerabat dekatnya -- namun Nietzsche justru "diisukan" memiliki hubungan gelap dengan Cosima.

Dan bahkan keluarga dekat atau bahkan adiknya sendiri, yang setelah wafatnya Nietzsche. Memiliki peranan penting dalam mengumpulkan karya-karya tulis Nietzsche dan membukukannya. Tetapi sebelum terlalu masuk ke dalam pemikiran sang filsuf, perlu kiranya untuk mengulik asal usulnya.

Berikut Biografi Singkat Nietzsche

Nietzsche, atau lebih lengkapnya Friedrich Wilhelm Nietzsche, lahir di sebuah kota kecil bernama Rocken (Prusia) pada 15 Oktober 1844 silam. Nietzsche bersaudara 3, satu di antara meninggal. Nietzsche juga ditinggal oleh Ayahnya karena sakit yang diderita di bagian kepala. Penyakit ini juga yang nantinya akan dialami Nietzsche. Maka yang tersisa hanya ibu dan adik perempuannya bernama Elisabeth Foster Nietzsche.

Nietzsche tumbuh dan besar dalam tradisi keluarga Lutheran. Ayah dan kakeknya termasuk Padri Luteran. Awalnya Nietzsche memang diharapkan untuk mengikuti jejak sang ayah dan kakeknya. Ia sempat mengenyam pendidikan formal untuk menjadi seorang Padri atau pernah di sebuah Gimnasium. Namun Nietzsche muda kala itu menolak dan justru keluar.

Nietzsche muda juga gemar membaca puisi dan bermain musik, sekalipun ia bukan komposer dan pujangga yang handal. Nietzsche banyak melibatkan diri dalam klub musik dan sebagainya, terutama ketika di Naumburg.

Pada tahun 1865 Nietzsche masuk ke salah satu Universitas di Leipzig mengikuti seorang profesor filologi bernama Friederich Ritschl. Di sana Nietzsche muda belajar dan bekerjasama dengan Ritschl. Dan bahkan sampai mendirikan semacam komunitas untuk para filolog.

Setelah beberapa tahun kemudian, tepat di usianya ke 24 tahun. Ia mendapat gelar Profesor (dan tanpa gelar Doktor) sekaligus mengajar filologi di sana. Filologi adalah ilmu yang mempelajari bahasa-bahasa klasik, kebudayaan, pranata dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan peradaban umat manusia.

Namun, terlepas dari berbagai penghargaan dan pencapaian Nietzsche di usianya yang masih terbilang muda sebagai generasi intelektual di zamannya dan sekaligus seorang filolog. Apa yang ingin penulis sampaikan, adalah bagaimana Nietzsche dikenal atau melihatnya sebagai seorang filsuf yang tentunya sangat rumit, kontoversial dan sulit dipahami. Selain itu Nietzsche adalah seorang filsuf yang tidak mau "diikuti", ia justru ingin agar orang yang membacanya menjadi dirinya sendiri.

Melihat Nietzsche Sebagai Seorang Filsuf

Secara historis, terminologi filsuf ditujukan pada  sekelompok orang-orang di zaman Yunani sekitar abad ke 6-3 sebelum Masehi yang menguasai filsafat. Maksud dari menguasai filsafat adalah mereka yang mempelajari berbagai bidang ilmu. Seperti Astronomi, Metafisika, Matematika, Politik, Etika, Retorika hingga Logika. Namun, secara harfiah, pengertian filsafat adalah orang-orang yang cinta pada kebijaksanaan atau kearifan.

Pengertian filsafat bagi orang-orang yang cinta pada kebijaksanaan atau kearifan bisa ditemukan dalam tragedi kematian Sokrates. Konon sang filsuf dijatuhi hukuman Mati oleh pengadilan Athena (Yunani), supaya meminum secangkir Hemlock, semacam tanaman bunga dengan racun yang mematikan. Putusan hukum tersebut karena Sokrates dianggap memprovokasi anak muda untuk melawan segala otoritas Tiran dan bahkan dituduh menciptakan dewa-dewa baru. Padahal Sokrates hanya menyampaikan kebenaran.

Sokrates kemudian dianggap sebagai kearifan dan satu-satunya bentuk kejujuran intelektual sepanjang masa. Namun, bukan berarti setiap filsuf yang mencintai kearifan harus berakhir mati seperti Sokrates dengan secangkir Hemlock. Begitu juga dengan seorang Nietzsche yang cintai pada kearifan. Menyampaikan kebenaran dan  berbicara tentang "moralitas". 

Dengan segala keterbatasan penulis dalam memahami pemikiran Nietzsche yang begitu rumit dan dalam. Bisa dikatakan Nietzsche tidak menguraikan dengan jelas atau secara sistematis mengenai seperti apakah moralitas itu baginya. Melainkan, hanya melalui beberapa paragraf atau fragmen-fragmen tulisannya.

Lebih tepatnya, tafsiran moralitas, penulis telaah melalui Zarathustra-nya Nietzsche. Zarathustra adalah buku yang berisi dialog-dialog pendek dengan gaya penulisan yang banyak aforisme, alegoris dan metaforanya. Zarathustra diilustrasikan sebagai seorang Nabi berusia 30 tahun yang meninggal kampung halamannya dan memilih tinggal di pengunungan. Lalu setelah sepuluh tahun kemudian, turun ke lembah dan bertemu orang-orang.

Ia, Zarathustra, bagi penulis adalah seorang pengelana yang suka bercakap-cakap tentang moral dan hendak mengejarkan apa itu "Ubermanch" atau manusia unggul sebagai makna dari Bumi. 

Perlu diketengahkan, bahwa Zarathustra-nya Nietzsche bukanlah sama dengan kepercayaan orang-orang Persia kuno. Persisnya, Nietzsche hanya meminjam nama Zarathustra dan justru ingin melawan pertempuran antara baik dan buruk yang mengalihkan segalanya, termasuk pengalih moralitas ke wilayah Metafisika. Singkatnya, Zarathustra-nya Nietzsche adalah yang menjunjung tinggi kejujuran dan kebaikan tanpa pengaruh apa pun.

Ajaran manusia unggul sebagai makna bumi dapat dikatakan sebagai "alibi" dari anggapan Nietzsche bahwa semua Tuhan sudah mati. Kisah kematian Tuhan yang ia alegori-kan kepada si Gila yang membawa lentera di pagi cerah, berlari sambil berteriak di pasar tiada henti, katanya: "Kucari Tuhan! Aku mencari Tuhan! Ke mana Tuhan pergi? Aku mau katakan pada kalian. Kita sudah membunuh dia. Kau dan aku. Kita semua pembunuhannya."

Tak bisa dipungkiri bahwa Nietzsche adalah seorang Atheis (tidak bertuhan), namun dalam tafsiran penulis, yang tidak ingin masuk dalam konsep Teologi Nietzsche atau sebagaimana alegoris seperti di atas. Melainkan melihatnya sebagai bentuk kritikan yang tajam dari Nietzsche terhadap realita dan sikap amoral manusia di zamannya. 

Tak ada lagi prinsip atau pengaturan, sehingga itu tegas Nietzsche! "Marilah waspada! Marilah kita waspadai pemikir kita tentang dunia sebagai makhluk hidup. Bagaimana ia bisa tumbuh dan berkembang biak? Mari kita waspadai bahwa semesta itu adalah mesin: ia tentu tidak dibangun sedemikian rupa untuk menjalankan operasi tertentu."

Maka, ukuran Nietzsche "tidak harus" didasarkan pada apakah ia berhasil membunuh Tuhan atau tidak. Dan apakah ia adalah seorang Atheis atau Theis. Lebih dari itu adalah untuk membaca atau melihatnya dengan dalam segi moralitas. Apa lagi di era modern seperti sekarang ini dengan pemutakhiran teknologi dan informasi yang semakin pesat. 

Kritik Nietzsche terhadap moral hidup manusia, bagi penulis adalah sesuatu yang ingin menerobos atau melampaui baik dan buruk atau supaya jangan terikat dan apa lagi terintimidasi. Lebih tepatnya Nietzsche tidak mau masuk dan terjebak dalam logika formal atau logika modern. Seperti bagaimana 1 + 1 yang membuah hasil 2 dan lain seterusnya.

Seperti juga dalam kutipan yang religius berikut ini: "kita tidak hanya hidup dari pasar untung dan rugi. Kita hidup dari kepercayaan, harapan dan cinta. Pendeknya, dari apa tidak dapat kita buat dan kita beli. Itu semuanya mengubah kita dan dunia!"

Dengan demikian, secara subjektif, untuk apa pun yang banyak dibicarakan Nietzsche dengan berbagai alegoris, aforisme dan gaya metaforanya. Sebenarnya adalah "pengonsepan" Nietzsche tentang dunia yang super chaos (kacau) lagi tak bermakna sama sekali. Dan itu semua disebabkan oleh ulah manusia sendiri.

Dan kisah patah hati Nietzsche sampai ia menjadi seorang filsuf, yang dilanda kesunyian dan berbagai keterpisahan. Penulis disimpulkan sebagai perjalanan atau pun pengalaman eksistensialis-nya. Sehingga dari itulah melahirkan banyak konsep pemikiran, termasuk moralitas dalam Zarathustra-nya (dan bukan secara sistematis) yang coba penulis tafsiran dengan berbagai kerumitan bahasa yang dimiliki Nietzsche.

Hingga, apa kah yang paling mencolok atau bilamana melihat Nietzsche sebagai seorang filsuf yang banyak mengalami pasang surut kehidupan, hidup Soliter dan tetap mencintai kebijaksanaan atau kearifan. Sebuah pesan yang bagi penulis adalah untuk selalu mengajak manusia supaya "menggugat diri" secara habis-habisan, sadar terhadap realita, dan menganjurkan manusia untuk melihat lebih jauh dan luas dan bahkan melampaui.


Tabik


Khadafi Moehamad


Referensi:

1. Zarathustra Nietzsche (Penerjemah H.B Jasin dkk)

2. Gaya Filsafat Nietzsche (A. Setyo Wibowo)

Sumber Gambar: Hisamalgibran (IG)


Gorontalo, April 2021