3 bulan lalu · 1240 view · 3 min baca menit baca · Filsafat 94112_50794.jpg
Pinterest

Nietzsche dan Para Pastor Bersepakat: Tuhan Telah Mati

Manusia adalah binatang pemuja. Jika pujaannya mati, ia tak kehilangan akal; ia akan mencari pujaan lain, termasuk dirinya sendiri. ~ Nietzsche

“Tuhan Telah Mati”, sebuah pernyataan keras, frontal, dan sebuah klaim provokatif yang dilontarkan oleh Friedrich Nietzsche, pemikir ateis dan filsuf berkebangsaan Jerman tahun 1883. 

Tidak hanya provokatif, pengakuan angkuh bahwa Tuhan telah mati adalah sebuah ketegasan dan ajakan bahwa manusia tidak perlu lagi menyembah dan memuja Tuhan dalam kehidupan ini. Di luar Tuhan, kita bisa menciptakan moral dan nilai hidup sendiri.

Sama dengan Nietzsche yang dengan sombong mengatakan“Tuhan telah mati”, hari ini para rohaniwan Kristen dengan wajah sendu, dari altar yang suci mengirim pesan yang sama: Tuhan kita telah mati!

Tuhan telah mati dengan titik berangkat gagasan kematian yang berbeda. Para rohaniwan bertolak dari sebuah dogma yang bersumber dari kitab suci dan tradisi Kristen. Rohaniwan berpikir di bawah awan teologis, sedangkan Nietzsche memulai dari nihilismenya, kemudian tenggelam di lautan filosofis yang ia buat sendiri.

Lalu tentang kematian Tuhan, pertanyaannya, apakah Tuhan benar-benar mati? Apakah kematian yang religius itu juga bersamaan dengan kematian filosofis?


Para religius mengakui bahwa memang benar Tuhan telah mati, dan itulah kenapa hari ini adalah Jumat Agung. Mewarisi tradisi, mereka percaya Tuhan akan hidup. Sebuah pemaknaan religius untuk menegaskan bahwa kematian adalah jalan menuju kemenangan, dan itu adalah sumber iman Kristen.

Penghendakan akan kematian. Orang-orang Kristen percaya, kematian adalah jalan menuju kemenangan; mereka percaya adalah kehidupan abadi setelah kematian.

Sedangkan kematian Tuhan ala Nietzsche tentu menitikberatkan pada rasionalitas, gagasan nihilisme, serta ateismenya. Ia menolak kerangka religius Kristen tentang Tuhan dan menyuguhkan pandangan yang berbeda.

Baginya, Tuhan yang selama ini dikatakan sebagai sumber dari nilai sebenarnya adalah salah satu produk dari kreativitas manusia. “Tuhan sudah mati”. Tuhan dan kecemasan akan hidup sesudah mati menjadi tidak berguna lagi karena hanya mengalihkan perhatian kita dari masalah utama, yaitu bagaimana manusia menjalankan hidupnya. Usaha untuk menjalankan hidup adalah tanggung jawab kita sendiri bukan tanggung jawab iman. (James Garvey, 2010).

Nietzsche percaya dengan kematian Tuhan, justru manusia akan membentuk suatu nilai yang bukan lagi datang atau bersumber dari nilai kristiani yang juga datang dari tradisi Yunani Kuno.

Komunitas Kristen percaya, mengimani bahwa kematian Tuhan adalah sarana untuk keselamatan setalah kehidupan. Nietzsche lebih menganggap bahwa kematian Tuhan adalah sebuah jalan untuk menuju kepada kepenuhan hidup saat ini.

Kredo iman kristiani berbeda dan berbanding terbalik dengan kredo Nietzsche. Kredonya adalah keraguan dengan sombong akan kredo Kristen.


Berbicara tentang ketiadaan Tuhan, Nietzsche bukan orang pertama. Ia sendiri mengikuti Schopenhauer bahwa Tuhan tidak ada dan kita tidak memiliki jiwa yang abadi.

Baginya, hidup adalah sebuah jerih payah yang didorong oleh kekuatan irasional. Lalu menarik bahwa ia mengajukan pertanyaan yang masih relevan sampai hari ini; bagaimana cara terbaik untuk hidup dan bisakah kita hidup dalam dunia tanpa Tuhan dan tanpa makna?

Pertanyaan dan gugatan Nietzsche adalah sebuah ruang gugat umum yang perlu dijawab dan dibuktikan oleh pengalaman iman Kristen secara pribadi.

Nietzsche, pengikutnya, dan komunitas ateis telah membuktikan bahwa mereka bisa menemukan nilai yang hadir tanpa kehadiran Tuhan. Mereka bisa menjadi humanis pada level tertinggi tanpa adanya penjaga moral yang bernama Tuhan. Tanpa adanya sumber moralitas dari kitab suci.

Semoga komunitas Kristen tidak ikut membunuh Tuhan dalam bentuk dan konteks yang lain, sehingga pada akhirnya Nietzsche menjadi benar; yang membunuh Tuhan adalah kita semua.

Nietzsche dan para Pastor telah bersepakat hari ini: "Tuhan telah Mati". Inilah muara yang sama dari dua mata air besar pemikiran yang berbeda. Nietzsche seorang pesimisme yang menolak moralitas budak tentang penyerahan dan pengorbanan diri, yang dapat kita saksikan dari Tuhan orang Kristen yang mati hari ini.

"Matilah semua Tuhan: sekarang kita menginginkan manusia yang unggul untuk hidup!"


Selamat merayakan dan mengenang Kisah Sengsara Tuhan!

“Kalau Tuhan tidak ada, segalanya boleh” – F. Dostoevsky

Artikel Terkait