Mahasiswa
6 bulan lalu · 1068 view · 4 menit baca · Filsafat 42601_21397.jpg
Google Image

Nietzsche dan Kehendak Manusia

“Kehendak akan kebenaran”, begitulah kalian, hai orang-orang yang paling bijak, menyebut hal yang mendorong dan membuatmu menyala. - Nietzsche

Baru-baru ini di sosial media, saya terenyuh mendengarkan kabar tentang dua orang Waria (transgender) yang digebuki hingga ditelanjangi gerombolan orang karna alasan mereka transgender. Penganiayaan itu juga bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, seseorang yang dikenal penuh cinta kasih terhadap sesama. Pada hari yang sama juga diperingati Transgender Day of Remembrance, sebuah peringatan untuk para transgender yang dibunuh karna sentimen transphobia.

Pada tulisan ini, saya tidak hendak menguraikan kronologi penganiayaan tersebut, atau juga mengumbar data tentang banyaknya kasus kekerasan serupa yang terjadi di Indonesia, teman-teman bisa lacak sendiri di media sosial. Tulisan ini hanya hendak merenungkan prihal apa penyebab kekerasan itu terjadi. Apa penyebabnya? 

Ketika pertanyaan itu muncul, yang terlintas dibenak saya malah seorang filsuf bernama Nietzsche. Kehendak dan kebutuhan untuk percaya, begitu Nietzsche menyebutnya.


Freidrich Wilhelm Nietzsche, begitu nama panjangnya, lahir di Rocken (Saxe-Prusisia) pada tanggal 15 oktober. Ia adalah seorang filsuf yang dekenal dengan sebuah diktum God ist tot (Tuhan telah mati), yang sekaligus membuatnya menjadi musuh nomor wahid kekristenan, bahkan mungkin semua agama langit. 

Dasyatnya buah pikiran Nietzsche telah mampu menelanjangi dan merongrong dogma-dogma yang telah dianggap final dalam agama, sehingga banyak dari mereka yang fanatik marah dan begitu memusuhinya. Tapi bagi mereka yang berpikiran terbuka, bagi mereka yang bisa menerima kebenaran dari orang lain, tentu ada begitu banyak yang bisa kita petik dari pikiran Nietzsche.

Salah satunya adalah apa yang dikenalkan Nietzsche dengan “Kehendak dan Kebutuhan untuk percaya”, sebab kehendak telah menjadi penyebab kekerasan yang terjadi didunia ini.

David Hume, seorang filsuf pencerahan Inggris menyebutkan bahwa  yang menyebabkan perang antar bangsa terjadi justru karna kehendak yang tidak rasional. Karna bagi Hume, sejarah manusia tidak bertolak dari pemikiran rasional, melainkan dikendalikan oleh keinginan-keinginan ataupun nafsu-nafsu tertentu. Hume mencontohkan kehendak dari agama untuk menyebarkan dan menguasai daerah tertentu, sehingga telah menyebabkan pecahnya perang.

Akal budi tidak pernah dapat
bertindak sebagai kemampuan kecuali untuk melayani dan menaati nafsu-nafsu.
Akal budi manusia itu terlalu lemah untuk bisa mengendalikan perasaan-perasaan. Emosi dan keinginan telah menjadi hakikat manusia - (David Hume)

Kehendak manusia sebagaimana yang dijelaskan Hume, telah membuat manusia menjadi tidak rasional. Adanya suatu kehendak dalam diri manusia untuk menjadi yang paling asli, kehendak manusia untuk menjadi yang paling benar, kehendak manusia untuk menjadi yang paling suci, yang menjadi sumber lahirnya fanatisme akut yang menggeroti manusia. Sehingga pada prakteknya, mereka yang dianggapnya berbeda, kotor, menyalahi kodrat dan tidak suci, harus segera ditolak bahkan mungkin dimusnahkan.

Nietzsche menyebut manusia seperti itu adalah manusia dengan kehendak yang cacat, manusia yang tercerabut, lemah dan tidak tahan pada realitas yang chaos sehingga realitas itu dimusuhinya. Kehendak dan kebutuhan untuk percaya adalah sebuah kebutuhan akan sandaran yang stabil, dan menemukan ekspresinya dalam berbagai wujud kepercayaan. 

Dalam bukunya Gaya Filsafat Nietzsche, karangan A. Styo Wibowo menjelaskan bahwa bagi Nietsche, kepercayaan melingkupi semua segi kehidupan manusia, baik dalam agama, sains, filsafat, patriotisme, bahkan dalam ateisme (Wibowo, 2017:217).


Ateisme? iyaa walaupun Nietzsche ateis, tapi dia juga pengkritik keras ateisme. Sebab baginya ateisme juga merupakan sebuah kepercayaan. Yang menjadi masalah bukan pada isi doktrin atas kepercayaannya, melainkan kepada pemeluk kepercayaan. 

Bagi Nietzsche, ada suatu dalam diri manusia yang membuat dia butuh untuk percaya secara fanatik dan akan siap membelanya mati-matian. Manifestasinya bisa kita lihat dari apa yang dilakukan barisan Nazi kepada bangsa yahudi, tindakan pemberangusan bangsa Yahudi didorong oleh sebuah kehendak untuk kuasa yang mendasari atas klaim suatu bangsa yang unggul, yaitu bangsa Arya. 

Hal itu sama dengan apa yang terjadi di indonesia, bagaimana kehendak untuk kuasa, dan kehendak dari mereka yang merasa paling suci, paling bertuhan dan dengan kehendak-kehendak tersebut telah mendorong manusia untuk melakukan pemberangusan kepada sesama manusia yang dianggapnya berbeda, dalam hal ini PKI. Itu berlaku hingga sekarang, walaupun PKI sudah lama mati, tetapi hingga saat ini ketakutan itu masih terus dirawat.

Kehendak,itulah sumber dari fanatisme dan sekaligus menjadi sumber dari penolakan-penolakan dan kekerasan yang terjadi kepada mereka yang dianggap berbeda. Dua orang waria yang digebuki, ditelanjangi, maupun kampanye penolakan terhadap LGBT, bagi saya juga merupakan manifestasi dari kehendak yang cacat, sebagaimana yang dimaksud Nietzsche. 

Kenapa mereka dimusuhi adalah karna mereka dianggap berbeda, tidak suci, kotor, berdosa dan dianggap telah menjadi sumber bencana dimuka bumi ini. Sehingga mereka yang melihatnya atas nama yang suci, merasa memiliki alasan untuk menolak, bahkan memberanguskannya.

Kehendak absolut akan kebenaran, apakah itu? Apakah sebuah kehendak untuk tidak membiarkan diri salah? Apakah sebuah kehendak untuk tidak mau salah? dalam arti kedua ini lah kehendak akan kebenaran itu bisa diinterpretasikan: asal kita lalu menggeneralisirnya. ‘Aku tidak mau salah’, itu dikenakan juga pada kasus bahwa ‘aku sendiri tidak mau salah’. Tetapi, mengapa tidak mau salah? Mengapa tidak mau membiarkan diri salah? -(Nietzsche)


Begitulah fanatisme manusia, “Aku harus benar dan yang lain salah” yang kemudian menjelma menjadi Tuhan diatas bumi untuk menerakakan mereka yang dianggap berbeda, salah dan berdosa. Adakah yang lebih bejat daripada perbuatan manusia yang menganiaya sesama manusa? kita seperti kehilangan kemampuan, bahkan tak ingin memiliki kemampuan untuk hidup dari hati menerima perbedaan suku, agama, ras, dan gender. 

Manusia dengan dirinya sendiri, telah membunuh kemampuan untuk merasakan kesamaan, penderitaan dan rasa persaudaraan manusia. Manusia itu diatas segalanya dan dengan alasan itulah kita harus menjaga dan memperjuangkanya.

Referensi:

  • A. Setyo Wibowo, Gaya Filsafat Nietzsche
  • Nietzsche, Sabda Zarathustra
  • Fitzerald Kennedy Sitorus, Makalah kelas filsafat “David Hume : Sang Skeptisme Radikal”

Artikel Terkait