10 bulan lalu · 134 view · 3 min baca · Sejarah 90449_67015.jpg

Nie Wieder

Dachau, sebuah kota kecil di Jerman, tak jauh dari Munich. Ia menanggung aib berat.

Di kota itu kamp konsentrasi pertama Nazi didirikan. Tanggal-tanggal masih terlacak: berdiri 20 Maret 1933, mulai beroperasi Juni 1933, dibebaskan oleh tentara Amerika pada 29 April 1945. Perkiraan jumlah kematian: 28.000 sampai 32.000.

Sekarang tempat itu jadi monumen. Di salah satu sudut tersusun batu-batu kelabu yang membentuk sebuah tembok. Padanya tertera tulisan-tulisan berwarna hitam: Nie wieder, Never again, Plus jamais, dan dua bahasa lain yang terdengar asing—mungkin Yiddi dan Ibrani. Di depan tembok itu meletak sebuah kotak. Isinya: abu para korban yang ditemukan ketika kamp Dachau dibebaskan.

Tulisan lima bahasa itu seakan suatu lambang: Holocaust bukan cuma masalah Jerman, masalah Nazi, masalah Hitler. Ia masalah semua orang, termasuk kita. "Holocaust," kata Zygmunt Bauman dalam Modernity and the Holocaust, "lahir dan terlaksana dalam masyarakat modern yang rasional, pada tahap tinggi peradaban kita dan pada puncak capaian kebudayaan manusia. Itulah mengapa, ia adalah masalah bagi masyarakat, peradaban dan kebudayaan itu."


Dalam arti itu, sekurang-kurangnya di mata Bauman, Holocaust bukan penyelewengan dari modernitas. Malah sebaliknya: modernitas-lah yang memungkinkan—kendati bukan langsung menyebabkan—Holocaust. Bagaimana tidak? Kita, manusia modern, hidup dengan menghirup birokrasi, teknologi, kantor, jawatan, mesin: unsur-unsur yang sama dengan unsur-unsur yang memungkinkan Holocaust.

Lantas bagaimana kita masih bisa hidup bersama, bila tatanan, bahkan rasa percaya, telanjur hancur?

Dari situ terbit arti Nie wieder: pengakuan dan harapan. Pengakuan, bahwa di sini, sesuatu yang buruk pernah terjadi; juga harapan, supaya yang buruk itu tak terulang di masa depan.

Jadi apa artinya berkata Nie wieder? "Mengampuni dan berjanji,” jawab Hannah Arendt. Pengampunan dan janji ibarat silih buat dua sifat yang melekat pada tindakan manusia: tak terulang (irreversible), tak terduga (unpredictable).

Orang Eropa abad ke-18 dan 19 tak pernah membayangkan, birokrasi dan teknologi yang mereka dorong dengan gencar itu akan ambil bagian dalam Holocaust. Dan sekarang, siapa bisa mengulang hidup, seakan-akan tak ada birokrasi atau teknologi? Itulah mengapa, dalam perkara jangka panjang seperti ini, manusia “lebih sering tampak sebagai korban dan penderita daripada pengarang atau pelaku”, kata Arendt dalam The Human Condition.

Di tengah kekelaman itu, pengampunan dan janji seperti suatu nyala baru. Rantai kekerasan sejenak putus. Kita menghela nafas, mengais puing-puing, pelan-pelan membangun hidup bersama lagi, tapi seraya tetap mengingat. Sebab setiap kali, Nie wieder itu seperti sedang menyapa.

Tapi Arendt berasal dari Jerman: sebuah negeri yang kini punya monumen, museum, patung, hari peringatan, dan banyak cara lain untuk mengenang Holocaust; negeri yang bahkan sampai sekarang masih menjatuhkan hukuman buat siapa pun yang pernah terlibat di dalamnya (sekalipun mereka telah jadi kakek-nenek—kadang-kadang kasihan juga); negeri yang dihinggapi rasa bersalah yang menggigit, kendati upaya untuk menyangkalnya tentu selalu ada.

Sedangkan kita? Kita hidup di sebuah negeri yang sedang bergairah lagi nonton film propaganda.


Tapi—untuk sedikit menghibur diri—kita bukan satu-satunya. Pada 1949, Arendt kembali dari pelariannya di Amerika untuk menengok Jerman, tanah kelahirannya. Setahun kemudian terbit Besuch in Deutschland. Di dalamnya Arendt melaporkan apa yang dilihatnya dalam diri orang-orang Jerman pasca-Nazi: ketidakpedulian, sikap acuh tak acuh, seakan-akan mereka tak terlibat sedikit pun dalam mesin-mesin yang sanggup menghabisi kira-kira 6 juta orang.

Ternyata, apa yang disebut “rasa bersalah Jerman” (German guilt) itu—kalau ia ada—bukan sesuatu yang bisa terbentuk dalam semalam. Perlu latihan, pembiasaan, pembatinan. Tak lupa: kerendahan hati dan kesungguhan berkata Nie wieder.

Tapi tidakkah sampai sekarang neo-Nazi masih ada? Dan Amerika, seraya kian enggan menatap imigran, memasang cita-cita jadi great again. Semua bobrok, dan kita seakan wajib ikut bobrok.

Monumen di Dachau itu pun lama-lama jadi sesuatu yang rutin. Tapi itu masih lebih baik, daripada tak punya apapun untuk berkata Nie wieder kepada kekerasan yang dilakukan atas nama negara.

Akhir kata: selamat nobar.


Artikel Terkait