Kata “nasionalis" dan "nasionalisme” akhir-akhir ini mencuat begitu kuat dalam berbagai forum diskusi dan debat, baik di dunia nyata terlebih lagi di dunia dalam jaringan (online) di kalangan masyarakat Indonesia. Bagaimana pun versi nasionalisnya, ketika orang dengan lantang mengatakan “saya nasionalis”, ada di antara mereka yang merasa paling berhak mewakili Indonesia dan merasa paling menjaga tradisi dan budaya negeri ini.

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan mengklaim diri kita sebagai seorang nasionalis. Namun, perlu kiranya kita menilik lebih jauh apa sesungguhnya nasionalisme yang dipahami oleh orang-orang yang mengatakan demikian itu.

Dari hasil pengamatan empiris saya di lingkungan dan komunitas yang saya terlibat di dalamnya, ada dua tipe warga negara atas nasionalime yang mereka pahami yang tampak dari sikap dan cara pandang sosial mereka ketika berinteraksi dengan sesama komunitasnya maupun orang-orang di luar komunitasnya.

Nasionalisme yang pertama adalah yang saya sebut dengan nasionalisme substantif. Yaitu, mereka yang meyakini bahwa seorang warga negara haram hukumnya melakukan perbuatan yang merugikan bangsa dan negara dalam aspek apa pun.

Kata “merugikan” memang akan bermakna sangat relatif. Namun, merugikan yang menurut kawan-kawan saya, maksud dalam beberapa contohnya, ternyata ditujukan kepada hal-hal yang hadir dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hal itu mereka contohkan seperti korupsi, pengedaran dan pemakaian narkoba, penebangan liar hutan, perusakan laut, membuang sampah sembarangan, dan lain sebagainya yang sangat merugikan banyak pihak yang pada akhirnya berimplikasi pada individunya sendiri.

Jenis nasionalisme yang kedua adalah nasionalisme cangkang yang begitu sibuk meributkan ihwal simbol dan slogan saja tanpa memiliki keikhlasan dan kekuatan mandiri untuk membantu bangsa berdiri dengan segala kegiatan kreatif dan konstruktif. Mereka yang sering kali berbusa mulutnya, mengumpat etnis Tionghoa yang dianggap penjajah ekonomi.

Sebetulnya, alasannya sangat sederhana, mereka yang sering mengumpat adalah orang-orang yang tidak berani berjuang untuk kesejahteraan ekonomi mereka sendiri, sehingga etnis Tionghoa (yang mayoritas sangat mapan sejak Indonesia belum merdeka pun) sering kali dijadikan kambing hitam atas kondisi kemiskinan yang disebabkan oleh kemalasan mereka sendiri untuk bekerja dan berusaha.

Contoh lain dari nasionalisme cangkang ini adalah mereka yang sangat anti-Barat dengan segala teori pembenaran yang mereka gaungkan untuk membenci dan mengutuk negara dan bangsa di Barat sana. Ironisnya, banyak dari mereka juga mencintai produk Barat, terutama dalam hal teknologi.

Terbukti ketika perusahaan eletronik Indonesia memproduksi sebuah smart-phone dan laptop, orang-orang yang selalu melakukan kutukan terhadap Barat itu tidak mau membeli produk lokal hasil kreativitas anak bangsa dengan alasan kualitas barang yang tidak sebanding dengan merk internasional semacam Apple, Blackberry, Dell, HP, dan yang lainnya yang umumnya adalah produk asli orang-orang Barat yang sering mereka kutuk itu.

Atau ketika ada orang yang menggunakan bahasa Inggris di forum-forum diskusi atau di lingkungan pendidikan, lagi-lagi, orang-orang nasionalis cangkang ini akan berteriak kepada orang-orang yang berbicara bahasa Inggris itu sebagai kelompok “pro-Barat”, “antek asing”, dan sebutan—kecemburuan—lainnya. Ini adalah gejala kemiskinan wawasan yang umumnya dipakai dengan menjadikan istilah nasionalis sebagai “perisai sosial” dalam upaya menutupi kekurangan mereka.

Mereka tidak mampu bersaing secara nyata dalam kompetisi global peradaban dan membela keterbelakangan pemikiran yang sudah menjadi semacam artefak pendapat di tengah kehidupan modernisme yang semakin berkembang cepat dan juga semakin borderless antara satu bangsa dengan bangsa lainnya di seluruh dunia.

Orang atau kelompok dengan paradigma berpikir sempit yang memahami nasionalisme dengan sikap anti-Barat dan modernitas hanya akan semakin mengisolasi jiwa dan raga mereka dalam jeruji kejumudan. Saya bisa—secara egois—mengambil simpulan bahwa kelompok semacam itu akan melakukan hal yang sama pula ketika mereka berurusan dengan masalah etnis, suku, agama, dan sejenisnya.

Mengapa makan cangkang bila kulit lebih nikmat rasanya? Jangan sampai di abad 22 nanti masih ada orang yang dengan percaya diri tidak mau belajar bahasa Inggris karena mengaku sebagai nasionalis. Ngomong bahasa Inggris, nggak nasionalis? Please, deh!