Setiap orang pasti suka jalan-jalan, baik itu keluar kota, keluar negeri, atau keluar kompleks. Pas ada waktu luang, masing-masing orang akan memilih berlibur ke tempat-tempat kesukaan, atau ke destinasi yang sudah menjadi incaran sejak lama.

Momen liburan dengan jalan-jalan itu banyak dinamakan travelling. Padahal travelling sama liburan itu serupa tapi tak sama.

Tak ayal, banyak orang memilih travelling untuk kulakan stok foto instastory, WhatsApp Story, status Facebook, atau hanya sekadar simpanan di ponsel. Siapa tahu fotonya bisa digunakan nanti. 

Berfoto memang menjadi agenda yang tidak dapat dilewatkan bagi setiap orang yang travellingMau travelling ke mana saja, yang jelas nomor satu adalah berfoto. Entah itu difotokan, atau dengan berswafoto di depan destinasi wisata yang disambangi.

Berfoto saat jalan-jalan semacam ini memang memiliki keuntungan sendiri bagi pelakunya. Sebagian orang berfoto saat travelling adalah untuk nanti diunggah ke media sosial mereka. Lebih-lebih, barangkali ada niat terselubung membuat iri para teman-temannya. 

Saya sering menjumpai kawan saya yang demikian. Jelas saya sedikit mangkel kalau tempat berfoto teman saya itu belum pernah saya sambangi.

Saya penyuka travelling, walaupun sampai sekarang belum begitu layak dikatakan sebagai seorang traveler. Hampir setiap ada waktu luang, dan punya duit berlebih, saya gunakan untuk travelling

Bahkan suatu saat, menjelang gajian sewaktu magang di Kominfo Kota Pekalongan, saya ditanyai kawan saya: mau dibuat apa uang gajian itu? Sontak saya menjawab: buat jalan-jalan. Kawan saya kaget, sewaktu saya jawab itu. Apalagi kala itu, smartphone saya masih buluk, belum sebagus sekarang. Dia heran kenapa saya lebih memilih menghamburkan uang untuk travelling, daripada beli hape. Mau bagaimana lagi, sudah kecanduan.

Namun boleh dibilang, saya suka travelling, tapi nggak suka berfoto. Berbeda banget sama teman-teman saya. Pokoknya, bagi mereka, kalau travelling ya harus berfoto. Karena itu pula, terkadang saya suka bingung ketika ditanyain, sudah ke kota mana saja, tapi nggak punya fotonya.

Menurut kebanyakan orang, foto adalah bukti autentik keberadaan setiap individu. Orang nggak akan percaya kalau kamu pergi ke suatu tempat, tapi nggak ada fotonya. Itu ibarat makan capcay tapi nggak ada sayurannya. Isinya cuman balungan sama ati. Selain itu, berfoto bisa jadi bukti sejarah yang bisa diceritakan kepada anak cucu.

Saya memang baru pergi ke sebelas kota. Dan hampir semuanya nggak ada fotonya. Jadi agak sulit untuk membuktikan kalau saya pernah ke Malang, Surabaya, hingga Yogyakarta. Pernah sekali waktu, ada yang nanya ke saya, kamu kok nggak pernah foto kalau pergi ke mana gitu?

Sebenarnya kalau disuruh berfoto saat travelling nggak masalah buat saya. Hanya saja, di hati seperti ada yang mengganjal. Maksudnya, saya lebih suka menikmati suasana di kota singgah tanpa perlu repot ngurusin stok foto. Karena saya merasa kalau ditinggal foto, akan ada sepersekian detik momen yang hilang.  

Terserah mau dibilang norak, aneh, atau gimana. Atau ada yang bilang, hobi jalan-jalan kok nggak foto, sih? 

Kenapa tidak. Saya travelling bukan untuk konsumsi masyarakat maya. Bukan buat iri teman saya atau gimana. Saya travelling tujuannya refreshing, biar otak rileks. 

Buat apa membuat iri kawan-kawan saya, toh mereka banyak yang lebih mapan untuk sering travelling? Lagi pula, untuk soal menceritakan ke anak cucu, cukup cerita dan warisan yang baik-baik saja, termasuk bumi yang dirawat. 

Saya setahun paling banyak dua kali ke luar kota. Itu pun kalau tak sedang krisis moneter. Ada kalanya keluar kota memang ada kegiatan dan acara, sekaligus travelling, ada pula memang sengaja. Dan saya seperti mendapat suntikan semangat buat menjadi traveler tanpa berfoto lewat film Trinity: The Naked Traveler

Loh, dalam film itu, salah satu traveler terkondang di Indonesia, Mba Trinity, saja awalnya nggak begitu suka berfoto.

Padahal saat travelling, semestinya kita bisa menikmati suasana di tempat yang kita tuju. Percayalah, dua bola mata kita jauh berjuta-juta megapiksel lebih dari kamera tercanggih di dunia. Mengabadikan lewat ponsel malah bisa menyita waktu kita untuk menikmati destinasi dengan seluru indrawi. Kendati lebih banyak orang menganggap berfoto adalah kewajiban saat travelling.

Begini, kalau travelling sendiri, nggak masalah foto-foto. Karena kalau sendirian, yang fotoin nggak ada, dan paling-paling hanya bisa berswafoto. Gayanya itu-itu saja. Kecuali kalau kamu memang hobi berfoto, apalagi swafoto. 

Kondisinya akan lain apabila kita travelling bareng-bareng. Bisa-bisa waktu menikmati lebih banyak lokasi menarik akan habis di satu tempat saja. Setiap sampai satu lokasi, pengin foto gaya ini-itu, pengin foto di sebelah sini-situ. Ini kalau sendirian ribet, apalagi bareng-bareng, kasihan teman yang mau ke tempat lain.

Alhasil, apabila sedang di museum atau tempat wisata bersejarah, nggak punya kesempatan menyentuh situsnya. Jika sedang di pantai, kita bakalan kehilangan sepersekian menit momentum menikmati kelapa muda sembari rambut morak-marik disapu angin laut. Sungguh syahdu, syekalieee.

Overall, semua kembali ke masing-masing orang saja, sih. Andaikata berfoto itu sudah tergolong fardhu ain bagi banyak orang, ya silakan. Saya nggak akan membenci kok, apalagi nyinyiri. 

Akan tetapi, tulong, kalau bertanya sudah pergi ke mana saja, jangan disertai dengan nagih mana buktinya. Lebih baik ditagih oleh-oleh saja. Eh, jangan ding.