Arsiparis
1 bulan lalu · 43 view · 3 min baca menit baca · Cerpen 64470_71150.jpg

Ngabuburit di Pantai Lorena

Sore itu kami masih berjalan menyusuri pantai desaku. Senja makin lama makin memerah, aku dan kamu masih sama sama diam menghadap ke Barat. Di ufuk lingkaran keemasan itu hampir tenggelam ditelan lautan.

“Ramadhan  kali  ini kita akan sering bertemu setelah kamu kembali dari Hongkong,” aku mengawali perbincangan.

“Ya, aku suka menikmati senja itu bersamamu, apalagi sambil ngabuburit, Maghrib seolah berjalan cepat sekali,”   balasnya sambil memainkan pasir pantai.

Sementara kami masih berbincang, orang orang sibuk memanggil anak anaknya untuk diajak kembali pulang. Gelap kemerahan warna senja menandakan Maghrib segera tiba  dan saatnya berbuka akan segera tiba.

Pantai Lorena berbentuk laguna melengkung memang sering menjadi jujukan warga kampung kami untuk meluangkan waktu di sore hari. Terutama saat bulan ramadhan sambil menunggu bedug Maghrib.

Sebelumnya pantai lorena ini kumuh dan banyak sampahnya. Selama bertahun tahun tak  ada yang  berani menjamah pantai lorena. Disamping karena kumuh juga karena dianggap angker. Seringkali banyak orang yang kesurupan ketika habis bermain di sana.

Pantai lorena letaknya persis di seberang kuburan kampung Penanjan. Dulu kuburan kampung ini adalah tempat menguburkan korban penembakan misterius.

Disamping itu, di tengah tengah kuburan yang menghadap pantai ini ada pohon beringin besar. Dan kebiasaan di kampung pohon beringin selalu dianggap sebagai sarang makhluk halus.


Setelah di desa kami berdiri tempat wisata bahari, pantai Lorena pun terkena imbasnya. Para pelancong sering memarkir mobilnya untuk beristirahat sebelum menuju ke tempat wisata. Lambat laun warga di sekitar pantai lorena mulai mendirikan tenda sederhana untuk berjualan.

Karena semakin banyak pengunjung, akhirnya warga desa kami berinisiatif membersihkan pantai lorena agar terlihat bersih dan bisa dipakai sarana bermain.

“Dulu kita tidak berani bermain ke sini, ya, saat masih kotor,” Esti mengingatkanku.

“Lho, jelas tidak berani lha wong tempatnya terkenal angker dan banyak kisah horornya ,” balasku

Di kampung dekat pantai lorena  juga ada dukun asmara yang ramai sekali pengunjungnya saat orang orang mudik lebaran.

Ia telah menjalani profesinya hampir dua puluh tahun. Saat pertama memulai ia berusia tiga puluh tahun satu hari. Tepat sehari setelah peringatan  hari ulang tahunnya.

Kodir kini adalah jaminan bagi orang yang sedang kasmaran pada perempuan. Sarannya selalu terbukti cespleng dan manjur untuk menggaet perempuan yang jadi incaran para konsumen jampi jampi asmaranya.

"Jangan berhenti untuk memberinya meski perempuan yang kau ingat selalu menolaknya," saran yang kuterima ketika aku berkunjung ke tempat prakteknya. Kutahu Kodir berkat saran seorang kawan yang kasihan melihatku mabuk kepayang pada Anak juragan selep gabah yang parasnya bagai Dian Sastrowardoyo.

Banyak ibu ibu, jejaka, janda, maupun duda yang antri bersamaku saat itu. Semua bertujuan sama, minta ilmu pelet.

Sebulan berikutnya aku kembali ke tempat Kodir ingin memberi bingkisan terima kasih. Berkat sarannya aku berhasil mendapatkan hati perempuan idamanku. Banyak wajah wajah yang sama. di ruang antrian, seperti saat pertama aku berkunjung ke sana.

Dan lagi lagi tujuan kita sama akan memberi bingkisan tanda terima kasih.

"Bang Kodir memang matoh jampi jampinya, hanya sehari saat aku ikuti saranya si janda incaranku langsung klepek klepek," Bisik Karto, duda keren yang kini datang bersama Sum janda idamanya itu, padaku.

Anehnya kita semua punya pertanyaan yang sama kenapa Kodir di rumah sendirian tanpa anak dan istri.


Seorang ibu ibu paruh baya nyeletuk di tengah obrolan kami. Rupanya sejak tadi ia menguping, sambil senyum ia bekata lirih, "Dokter tak bisa mengobati sakitnya sendiri."

Itulah kenanganku pada sosok Kodir yang melegenda di kampung dekat pantai Lorena.

Saat pertama kita jadian,  selalu kesulitan untuk menemukan tempat untuk bertemu  di desa ini. Kini pantai lorena adalah sarana muda mudi bertemu mereka berbincang bebas di alam terbuka di sela kerumunan orang yang menunggu Maghrib.

Ya, begitulah gaya pacaran.di kampung kami. Berdua di tempat keramaian dan agar lebih aman dari setan. Ya maklum, meski begitu sudah banyak yang bikin gosip jika ada sejoli yang jalan berdua.

Saat pantai sudah sepi dan makin gelap kita memutuskan untuk pulang. Aku menuju ke kampungku di sebelah barat pantai Lorena dan Esti ke Timur menuju desanya yang kini makin menjamur  dengan  rumah kost. Esti salah satu pemilik rumah kost di desanya yang ia bangun dari hasil menjadi TKW di Hongkong.

Lebaran besok aku akan datang ke rumahnya untuk meminta pada orang tuanya. Aku tak mau hanya jadi gunjingan orang sekitar pantai Lorena karena kami sering jalan berdua.

Artikel Terkait