Pemerintah sudah memutuskan untuk memperbaiki segala aspek pemerintahan, baik segi perekonomian, segi pendidikan, dan lainnya memutuskan bahwa Republik Indonesia bersiap menyambut new normal. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 15 Juni 2020 telah memutuskan untuk kembali membuka sekolah dan melaksanakan kegiatan pembelajaran secara tatap muka untuk tahun ajaran baru untuk mendukung pemerintah dalam era new normal. Pembukaan kembali sekolah-sekolah hanya dipertuntukkan bagi sekolah yang berada di zona hijau. 

Sekolah-sekolah yang berada di zona kuning dan merah harus kembali melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Hal demikian juga diperuntukkan bagi perguruan tinggi di Indonesia, bahwa pembelajaran jarak jauh dilakukan sampai akhir tahun 2020.

Kebijakan untuk kembali ke sekolah

            Beberapa sekolah di zona hijau mulai menyibukkan diri menyambut tahun ajaran baru. Guru dan pihak sekolah mulai berkemas dan menyiapkan sekolah umtuk kembali melakukan belajar tatap muka di sekolah. Kebijakan pemerintah untuk menerapkan new normal dan pembukaan sekolah di zona hijau oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan disambut hangat oleh pihak sekolah. 

Sekolah menyatakan siap dan sanggup melaksanakan proses belajar tatap muka dengan mengedepankan protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah. Beberapa persiapan mulai dilakukan, yaitu menyemprotkan disinfektan di area sekolah, mengatur ruangan kelas sedemikian rupa sebagai upaya physical distancing, membangun fasilitas cuci tangan dengan air mengalir atau hand sanitizer, penggunaan masker selama proses belajar, dan mengurangi jam belajar di kelas.

            Persiapan sekolah yang begitu matang untuk menyambut tahun ajaran baru juga didukung oleh antusias para siswa untuk kembali bersekolah. Mereka senang mengetahui sekolah kembali dibuka dan tidak sabar untuk belajar di kelas dengan guru dan temannya. Orang tua siswa juga mendukung sekolah kembali dibuka, sebab mereka merasa bahwa proses belajar jarak jauh atau belajar di rumah tidak efektif. Banyak kendala yang harus mereka hadapi untuk membimbing anak-anak belajar di rumah.

            Banyak pro dan kontra terkait kebijakan tersebut, masih banyak orang tua yang khawatir sekolah menjadi pusat penyebaran Covid-19 dan anak-anak bisa menjadi korbannya. Rasa khawatir tersebut berdasar pada kasus positif Covid-19 di Indonesia yang semakin hari semakin bertambah. New normal dan pembukaan sekolah di tahun ajaran baru yang digagas oleh pemerintah tentu saja membuat orang tua tetap resah. 

Kemudian timbul berbagai pertanyaan, salah satunya bagaimana siswa yang tinggal di zona merah dan bersekolah di zona hijau? Apakah mereka harus tetap bersekolah. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang kemudian membuat pemerintah memutuskan bahwa kebijakan kembali ke sekolah diserahkan kepada masing-masing orang tua, apakah mereka mengizinkan anak-anaknya untuk kembali belajar secara tatap muka di sekolah.

Sekolah di zona merah nekat membuka sekolah

            Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk kembali membuka sekolah dalam pelaksanaannya sudah ada sekolah yang melanggar. Pelanggaran tersebut dilakukan oleh beberapa sekolah yang berada di zona merah, tidak terkecuali di DKI Jakarta. Sebagai kota yang memiliki kasus Covid-19 tertinggi se-Indonesia, ternyata masih membuat beberapa orang mengabaikan dan meremehkan Covid-19. Setelah dihebohkan oleh kegiatan Car Free Day di kawasan Sudirman-Monas yang mengabaikan protokol kesehatan, rupanya masih ada beberapa bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat.

            Salah satunya pelanggaran dari aspek pendidikan, yaitu kembali dibukanya sekolah. Pemerintah sudah jelas melarang sekolah untuk melaksanakan belajar tatap muka di sekolah dan memperpanjang kegiatan belajar di rumah. Praktiknya tentu saja, masih ada sekolah yang nekat untuk membuka kembali sekolah di wilayah zona merah.

            Salah seorang narasumber yang saya temui, seorang guru taman kanak-kanak di Jakarta bercerita bahwa ia terpaksa untuk kembali membuka sekolah. Banyak orang tua yang meminta kepada guru-guru dan pihak sekolah untuk kembali membuka sekolah dan melaksanakan pembelajaran tatap muka di sekolah, mereka mengeluhkan bahwa anak-anaknya selama dirumahkan ketika pandemi ini tidak belajar dengan benar serta mereka lebih banyak bermain ketimbang belajar.

            Hal ini yang kemudian membuat orang tua sedikit khawatir, sebab anak-anak mereka tidak belajar dengan baik, lebih banyak bermain, dan kehilangan interaksi sosial dengan teman-temannya. Desakan-desakan tersebut yang kemudian membuat pihak sekolah terpaksa membuka kembali sekolahnya dengan catatan untuk penerapan protokol kesehatan oleh orang tua dan siswa.

            Dibukanya kembali sekolah tersebut disambut hangat oleh orang tua dan siswa, siswa yang sangat bersemangat untuk kembali bersekolah membuat guru lebih waspada. Bagaimanapun mereka adalah anak-anak yang tidak tahu dan belum paham apa itu Covid-19 dan bagaimana pencegahannya.

            Hal-hal seperti itu yang kemudian harus menjadi kajian bersama pemerintah dan Kemendikbud. Bagaimana kondisi dan persiapan pemerintah, sekolah, guru, siswa, dan orang tua dalam menghadapi pembelajaran jarak jauh atau belajar di rumah. Masih terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki dalam pelaksanaannya dan persiapan untuk menghadapi fenomena serupa seperti saat ini. Realitas tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia belum siap untuk menghadapi perkembangan teknologi terutama dalam dunia pendidikan, bagaimana masyarakat belum siap dan terbiasa oleh sistem pembelajaran seperti ini, dan peran penting bahwa sekolah dan guru tidak akan pernah bisa tergantikan oleh kecanggihan teknologi.