Perjalanan menuju new normal menjadi buah bibir yang ramai diperbincangkan. Pasalnya, tidak sedikit yang melihat dengan sudut pandang pribadi masing-masing. Salah satunya adalah budaya luhur atau kearifan lokal tentang perubahan zaman. Utamanya pengetahuan "Jawa" dalam sudut pandang pengetahuan.

Manusia sebatas usaha, hasil akhirnya adalah urusan Yang Maha Kuasa. Jawa secara pengetahuan merekam kelahiran seorang kesatria sakti mandraguna yang bernama Wisanggeni. Ia adalah buah hasil percumbuan antara titah lumrah (manusia) dan widodari; antara Arjuna dan Dewi Darsanala putri Batara Brama.

Dalam hal ini ada aturan yang dilanggar dalam tatanan kehidupan. Jika dewa maka harus dengan dewi, jika raksasa maka harus dengan raksasa, pun manusia maka harus dengan manusia. Hal ini sejalan dengan apa yang ada di dalam kitab suci: orang baik maka akan bertemu dengan orang baik, orang jahat dengan orang jahat, dan seterusnya.

Tetapi akan berbeda kondisinya jika bertemu dengan kun fa yakun, atau lebur dining pangastuti, atau bagaimanapun usaha dan perlawanannya maka akan kalah dengan kehendak dari Yang Maha. Hal ini adalah jawaban atas apa sebenarnya tugas manusia diciptakan oleh Tuhan? Tidak lain adalah mengabdi, menghamba, menjalankan amanah dari-Nya.

Sederhananya, setiap hal yang terjadi pasti menyimpan pelajaran yang penuh hikmah. Tugas kita mengambil dan mengurai hikmah tersebut. Seperti halnya ketika Covid-19 menjadi pandemi semenjak empat bulan yang lalu sampai sekarang. Memberi dampak yang sangat serius, tidak hanya di satu negara, tetapi seluruh dunia.

Jika kita kembalikan kepada kelahiran Wisanggeni, maka Arjuna yang kala itu dijagokan oleh dewa-dewa untuk mengalahkan keangkaramurkaan; dalam hal ini raksasa yang bernama Niwatakawaca di Negara Himahimantaka. Saat itu Arjuna mendapat gelar Begawan Ciptaning, yang kemudian kemenangannya atas keangkaramurkaan itu dianugerahi bidadari.

Tetapi para dewa diam-diam tidak menghendaki percintaan mereka. Karena aturan syariatnya tidak begitu. Manusia jodohnya manusia juga, bukan dewa ataupun bidadari. 

Tetapi apa yang kuasa melawan kehedak Yang Maha Kuasa? Bisa jadi lahirnya Wisanggeni menjadi perubahan akan tatanan lama yang cenderung membesarkan akunya ketimbang penghambaannya.

Kondisi hari ini tidak hanya berisi kecemasan, ketakutan, dan kepanikan, baik dalam bidang ekonomi dan keamanan sosial, tetapi juga menampilkan keakuan dan kecenderungan yang besar akan kekuasaan yang berada di genggaman. Kita bisa melihat perdebatan-perdebatan di media sosial tentang penanganan Covid-19 yang cenderung kepada penghakiman.

Pemerintah dianggap kurang tegas dalam menyelesaikan permasalahan yang timbul karena dampak Covid-19. Dari sembako dan bantuan yang tidak merata, sampai utang negara yang kian menumpuk tak terduga. Gerakan sosial menjadi kuda politik identitas, bahkan kendaraan kampanye menjelang pemilihan ini dan itu.

Kesaktian dan ilmu budi luhur yang dimiliki oleh Wisanggeni adalah wujud dari pranata yang harus ditata ulang. Kejujuran yang berpihak kepada kemaslahatan menjadi dasar perjuangannya. Magreh rahayuning bawana atau mencari ketenteraman kehidupan adalah tujuan luhurnya.

Sebagai hamba ia tidak mengedepankan kesaktiannya, tetapi selalu mencari petunjuk kepada Yang Maha Kuasa dalam menyelesaikan setiap permasalahannya. Hal ini dibuktikan ketika ia harus melawan Dasamuka. Secara kapasitas ia mampu, tapi ia masih melibatkan rakyat biasa, yang dalam hal ini diwakili oleh Hanuman. Pandemi ini setidaknya adalah pemberian dari Tuhan. 

Kita tidak bisa mengecilkan para medis dengan berpedoman keimanan saja. Tetapi sebagai bentuk usaha tentu perlu apresiasi atas kinerjanya. Pun demikian dengan pemerintah.

New normal adalah sebentuk pranata sosial yang dibangun kembali. Persaudaraan, kepedulian sesama manusia, gotong royong dengan tetangga menjadi topangan kuat dalam menghadapi segala persoalan sosial. Jika Wisanggeni adalah wujud dari kerja sama antara masyarakat biasa dengan 'alim 'ulama, akademisi, pun pemegang kebijakan, maka pranata sosial yang dibentuk kembali adalah kehidupan saling peduli antara sesama tanpa membedakan status sosialnya.

Pola menjaga kedaulatan pangan dan kedaulatan sosial yang diwariskan oleh Wali Sanga, dalam hal ini Sunan Kali Jaga adalah konsep tanah perdikan. Dewasa ini dikenal dengan wakaf yang berpedoman akan kemaslahatan umat. 

Contoh sederhananya adalah dengan menanam pisang, papaya dan kelapa satu pohon saja. Di mana satu pohon itu diwakafkan untuk kemaslahatan umat. dengan kata lain dari umat untuk umat.

Lantas di mana posisi 'alim 'ulama, ustaz, akademisi dan pemegang kebijakan? Posisinya adalah pembinaan dan perpanjangan tangan atas agama dan negara dalam pranata sosial, khususnya kedaulatan pangan dalam kondisi pandemi atau new normal yang akan datang.

Herakleitos mengatakan bahwa matahari yang terbit dari di pagi hari selalu baharu. Demikian juga dengan potensi dan kondisi kehidupan sosialnya. Peluang dan potensinya. Baik masyarakat biasa ataupun status sosial yang lainnya tentu akan kembali menjadi manusia biasa ketika masih membutuhkan manusia yang lainnya. Ujaran Jawa mengatakan aja dumeh!

Dengan kata lain, new normal bisa jadi kelahiran wisanggeni-wisanggeni atau justru kembalinya Niwatakawaca yang akan menebar keangkaramurkaan di muka bumi ini. Utamanya di negara ini, khususnya di wilayah terdekat kita.

Semoga semangat Wisanggeni mengalir dalam sendi-sendi kehidupan kita. Sehingga bukan kecemasan dan kepanikan yang makin menghantui, tetapi menjadi semangat persatuan dan kebersamaan saling peduli satu sama lainnya tanpa mengedepankan identitas-identitas tertentu, baik agama maupun status sosial.