Covid-19 merupakan penyakit yang menyerang sistem pernapasan, sehingga menyebabkan penyebaran penyakit ini dapat terjadi dengan begitu cepat. Mengingat saat ini kita memasuki era globalisasi, dengan segala kemudahan akses baik komunikasi maupun transportasi. Hal tersebut menyebabkan mobilitas manusia menjadi makin tinggi, sehingga dalam waktu yang cukup singkat penyakit Covid-19 ini sudah mampu menjadi pandemi.

Terjadinya pandemi Covid-19 telah mengubah pola kehidupan manusia di seluruh penjuru dunia. Di mana semua aktivitas yang dulu dapat dilakukan dengan bebas di luar rumah kini sebisa mungkin semua aktivitas tersebut harus dapat kita lakukan dari rumah saja.

Terjadinya pandemi Covid-19 juga telah menciptakan berbagai problem baru dalam kehidupan terutama pada sektor ekonomi, seperti banyak pekerja yang di PHK, para pekerja harian yang kini mulai kehilangan pendapatannya, melemahnya sistem perekonomian global, serta berbagai persoalan lainnya.

Respons Masyarakat atas Virus 

Ada beberapa perbedaan sikap masyarakat terhadap munculnya penyakit Covid-19 ini:

Pertama, ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa pandemi Covid-19 ini menjadi suatu hal biasa yang tidak perlu ditakuti dan dicemaskan, karena mereka yakin bahwa pandemi ini akan berlalu dan mereka akan dapat melewati itu dengan baik-baik saja. Mereka sangat percaya dengan ketentuan Tuhan, namun dengan cara mengesampingkan pengetahuan ilmiah tentang Covid-19 ini. 

Padahal menurut saya dua dimensi tersebut harus berjalan beriringan karena dua-duanya sama-sama dibutuhkan dalam menjalani kehidupan ini.

Artinya kita memang harus percaya bahwa Covid-19 ini merupakan penyakit yang diturunkan oleh tuhan, namun dalam kehidupan sehari-hari kita harus tetap melakukan berbagai upaya pencegahan penularan penyakit ini, seperti sebisa mungkin harus tetap beraktivitas dari rumah, menjaga kesehatan dan kebersihan diri dan lain-lain. Jadi bukan serta-merta percaya kemudian mengabaikan dan tidak melakukan tindakan pencegahan tersebut.

Sedangkan yang kedua, ada sebagian masyarakat yang sangat ketakutan dengan penyakit Covid-19 ini, bahkan tidak sedikit masyarakat yang melakukan penolakan terhadap kedatangan dokter maupun tenaga medis yang hendak melakukan rapid test atau ketika melakukan penjemputan terhadap pasien yang sudah terkonfirmasi positif Covid-19.

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi hal tersebut, seperti rendahnya pengetahuan masyarakat sehingga mereka tidak dapat membedakan mana informasi yang benar mana informasi yang salah.

Sedangkan yang ketiga, ada kelompok masyarakat yang dapat dengan mudah memahami penyakit Covid-19, tentang bagaimana proses penularannya, bagaimana proses pencegahannya, bagaimana proses penyembuhannya, dan seterusnya. Sehingga masyarakat pada kelompok ini tidak menganggap bahwa penyakit Covid-19 merupakan sesuatu hal yang biasa atau merupakan sesuatu hal yang sangat ditakuti.

Mereka bersikap sewajarnya dengan tetap optimis dan tidak panik, serta terus berupaya melakukan pencegahan penularan dengan cara menerapkan pola hidup sehat dan bersih secara baik dan benar.

Menghadapi New Normal 

Banyak upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk membatasi penyebaran penyakit Covid-19 ini, seperti memberlakuan Social Distancing sampai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Namun berbagai upaya tersebut ternyata belum membuat kasus terkonfirmasi positif Covid-19 mengalami penurunan yang signifikan.

Sehingga pemerintah berupaya untuk membuat sebuah kebijakan baru tentang seruan untuk berdamai dengan virus SARS-CoV-2 dengan memberlakukan new normal. Pemberlakuan new normal tentu akan dibarengi dengan mulai dibukanya kembali tempat-tempat dan fasilitas umum, seperti pasar, mall, sekolah, stasiun, terminal, tempat wisata serta tempat umum lainnya.

Istilah berdamai dengan Covid-19 ini dapat diartikan bahwa kita harus bisa memulai untuk menjalani kehidupan seperti sebelumnya, seperti bekerja di luar rumah, belajar di sekolah serta kegiatan lainnya, namun dengan menerapkan kaidah new normal, seperti sering mencuci tangan pakai sabun, memakai masker, menjaga jarak, menghindari keramaian dan seterusnya.

Hal ini bertujuan untuk kembali menghidupkan roda perekonomian masyarakat, karena tidak mungkin terus bertahan dapat situasi ekonomi terpuruk seperti saat ini. Namun jika masyarakat tidak mampu diajak untuk bekerja sama dalam menjalankan kaidah new normal dengan baik, ini justru akan menjadi boomerang bagi kita sendiri. 

Seperti halnya yang terjadi di Negara Korea Selatan memberlakuan new normal dinilai gagal, karena malah kembali menimbulkan ledakan jumlah kasus Covid-19 yang cukup tinggi.

Banyak elemen masyarakat menolak untuk berdamai dengan Covid-19 dan akan terus berkomitmen untuk melakukan upaya perlawanan demi memutus penularan penyakit Covid-19 sampai pandemi ini benar-benar berakhir. 

Hal itu dilakukan karena melihat masih tingginya jumlah kasus yang terkonfirmasi positif, dan belum terjadi penurunan jumlah kasus secara signifikan, serta banyaknya jumlah tenaga medis yang mulai berguguran ketika menjalankan tugas untuk membantu proses menyembuhkan terhadap pasien Covid-19, ini menjadi prihatin tersendiri.

Menurut saya pemberlakuan new normal atau kehidupan normal yang baru ini tidak perlu tergesa-gesa. Mengingat masih belum siap diterapkan dalam waktu dekat ini. 

Mengingat masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga pola hidup bersih dan sehat. Pemberlakuan new normal ini membutuhkan adanya kerja sama dari seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali, jadi sebagai individu dan merupakan bagian dari masyarakat kita harus siap menjadi garda utama untuk menekan angka penyebaran penyakit Covid-19.