Pemerintah Indonesia telah mengumumkan rencana penerapan tatanan baru "new normal". Mengutip pernyataan Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Pada era ini, segala aspek kehidupan dipastikan bakal banyak berubah. Akan ada banyak pola harian yang berbeda dengan sebelumnya. Masyarakat harus bersahabat dengan kebiasaan cuci tangan, bermasker saat bepergian, jaga jarak, dan olahraga serta istirahat cukup. Jika tidak dilakukan, maka dikhawatirkan akan terjadi risiko penularan.

Oleh karena itu, new normal harus menjadi norma sosial baru agar masyarakat jadi terbiasa. Sampai kapan? "Transformasi ini akan dibawa terus ke depannya sampai ditemukannya vaksin untuk Covid-19 ini,” imbuh Wiku seperti dikutip dari laman indonesia.go.id.

Untuk mengaturnya, Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi. Peraturan ini penting diterbitkan mengingat kehidupan sosial ekonomi tetap harus berjalan di tengah pandemi. Namun lagi-lagi, kesadaran warga harus selalu ditumbuhkan.

Berkaca dari pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), pelanggaran masih saja sering ditemukan. Tidak sedikit warga yang "mencak-mencak" setiap kali ditegur petugas. Meski sederet denda disiapkan, nyatanya belum mampu membuat jera. Untuk itu perlu formula baru yang disarikan dari kekayaan kultur di Nusantara. Salah satunya, tat twam asi.

Apa itu Tat Twam Asi?

Tat twam asi adalah dasar dari tata susila Hindu di dalam usaha untuk mencapai perbaikan moral. Ia berasal dari bahasa Sanskerta. "Tat"= itu/dia, "Twam"= engkau, dan "Asi" = adalah.

Secara sederhana, tat twam asi dimaknai sebagai "kamu adalah saya, saya adalah kamu". Ajaran ini begitu kental dengan spiritual dan humanisme. Saat kita membantu orang lain, berarti sebenarnya kita sedang membantu diri kita sendiri. Begitu pun jika kita menyakiti orang lain, maka sejatinya diri kita pun tersakiti.

Merujuk pada Encyclopaedia Britannica, "tat twam asi" disebutkan berulang kali pada bagian keenam Chandogya Upanishad. Kalimat ini menjadi salah satu Mahāvākya (Semboyan Utama) dari kitab tersebut. Upanishad sendiri adalah kitab yang berisi ajaran para rsi yang tinggal di desa-desa.

Di dalam Upanishad, terdapat suatu kalimat yang berbunyi "Brahman Atman Aikyam". Maknanya, Brahman dan Atman (jiwatman) adalah tunggal.

Mira Novita dalam tulisannya "Mewujudkan Kehidupan yang Damai Melalui Tat Twam Asi" mengungkap bila jiwatman semua makhluk tunggal dengan Brahman (Hyang Widhi Wasa). Oleh karena jiwatman semua makhluk tunggal dengan Brahman (Hyang Widhi Wasa), maka jiwatman suatu makhluk tunggal juga dengan semua jiwatman dan sama dengan jiwatman (roh) semua makhluk.

Jadi kesadaran akan tunggalnya jiwatman (roh) kita dengan jiwatman (roh) orang atau mahluk lain menimbulkan kesadaran bahwa kita sebenarnya satu dan sama dengan orang atau mahluk lain.

Hal ini pulalah yang disampaikan Srila Prabhupada dalam pengajarannya mengenai sloka "nityo nityānāṁ cetanaś cetanānām" dalam Śrīmad-Bhāgavatam (Bhāgavata Purāṇa). Ia pernah ditanya, "We are also person, God is also person. Nityo nityanam cetanas cetananam. He is also living entity, we are also living entity. So what is the difference between God and ourself?"

Ia menerangkan, nityah berarti tunggal dan nityānāṁ berarti jamak. Dua-duanya berwujud sama, namun mengapa yang tunggal dianggap tertinggi? Ini karena Dia telah menyediakan alam sebagai sumber makanan yang melimpah. Layaknya Sri Krisna, ia memiliki kekuasaan penuh untuk menjamin kelangsungan hidup umat manusia.

Manusia terikat dengan Brahmāṇḍa bhramite kona bhāgyavān. Maknanya, menurut karma, semua makhluk hidup tersebar di alam semesta. Ada yang ditinggikan dan ada yang ditempatkan di posisi lebih rendah. Dari banyak jutaan makhluk hidup yang mengembara, orang yang sangat beruntung mendapat kesempatan untuk mendapat pengajaran dari guru spiritual sebagai anugerah Kṛṣṇa.

Sehingga untuk bahagia perlu mengikuti prinsip-prinsip Veda. Kebahagiaan seluruh umat manusia adalah tujuan hidup. Saat kita mampu hidup bahagia maka pada kehidupan berikutnya kita tidak akan merasakannya lagi di dunia fana. Sebab kita akan berpindah secara spiritual. Dan inilah prinsip kesetaraan yang diajarkan oleh tat twam asi.

Lebih lanjut, Luh Kadek Pande Ary Susilawati dalam tulisannya menuliskan, ajaran tat twam asi tampak dalam perilaku di dalam hidup bermasyarakat antara lain:

1. Memandang semua manusia adalah sama; keberadaan sifat-sifat buruk dalam diri manusia dapat didamaikan dengan memandang semua manusia sama dan melihat manusia sebagai saudara.

2. Melaksanakan tri kaya parisudha; menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Merasakan penderitaan orang lain; mampu merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaan pribadi merupakan ukuran rasa kemanusiaan seseorang.

Sama Rasa

Menghadapi era new normal, sudah saatnya tat twam asi dijalankan oleh seluruh kalangan. Sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini, bahwa new normal tidak akan bisa berjalan baik jika tidak didukung masyarakat luas.

Perlu ditanamkan rasa saling memiliki, atau dalam bahasa Jawa disebut dengan "handarbeni". "Aku akan mematuhi protokol kesehatan untuk keselamatan orang lain. Jika orang lain selamat, maka aku jugalah yang merasakan manfaatnya".

Setidaknya ada empat asas yang dapat dipatuhi untuk menjalankan tat twam asi di kala pandemi:

1. Asas suka duka. Maknanya, suka dan duka dirasakan bersama-sama. Jika saat ini pemerintah sudah menggaungkan tata kehidupan baru, maka hendaknya peraturan tersebut ditaati bersama.

Corona bukan cuma menjangkiti Indonesia. Corona adalah bencana dunia. Dukamu, dukaku juga. Rasa tenggang rasa ini perlu dipahami agar angka pertumbuhan pengidap Corona berkurang.

2.  Asas paras paros, artinya orang lain adalah bagian dari diri sendiri dan diri sendiri adalah bagian dari orang lain.

3.  Asas salunglung sabayantaka, artinya baik buruk, mati hidup ditanggung bersama. Jika ada seseorang yang mengidap Corona, betapa indahnya dunia jika masyarakat memberikan dukungan demi kesembuhannya. Tak perlu mengorek-korek keburukan yang justru menimbulkan luka.

Begitu pun apabila ada yang harus meregang nyawa, hendaknya tidak ada lagi penolakan jenazah sebagaimana yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Tabahkan keluarganya, dan berikan dukungan agar tetap menjalani hidup selayaknya.

4. Asas saling asih, saling asah, saling asuh, artinya saling menyayangi atau mencintai, saling memberi dan mengoreksi, serta saling tolong menolong antar sesama hidup.

Jadi, di tengah new normal ini, tidak ada lagi alasan ogah memakai masker karena malas. Atau, tidak menjaga jarak karena bosan terlalu lama di rumah. Peraturan sudah ditetapkan dan mari seluruh masyarakat menaati. Karena sebagaimana ajaran tat twam asi, kebaikan yang dilakukan demi kemaslahatan bersama tentu akan kembali untuk kebaikan diri sendiri. Svaha.

Om ksantawya kayika dosah.
Ksantawyo wacika mama,
Ksantawya manasa dosah,
Tat pramadat ksamaswa mam.

Oh Hyang Widhi Wasa, ampunilah segala dosa hamba,
ampunilah dosa dari ucapan hamba dan
ampunilah pula dosa dari pikiran hamba.
Ampunilah hamba atas segaIa kelalaian hamba itu.