Sore kemarin, di Youtube, saya menonton sebuah vlog milik seorang musisi asal Yogyakarta. Di video itu, ia bercerita tentang kegiatan keluarga dan teman-temannya selama dua bulan karantina di rumah. Si musisi itu belajar membuat akuarium hidup, istrinya belajar bisnis online berjualan makanan, lalu, beberapa temannya juga melakukan hal serupa, berbisnis online membuat macam-macam prakarya.

Satu pesan penting yang disampaikan si musisi di videonya itu bahwa karantina di masa pandemi ini sebetulnya adalah kesempatan besar untuk memacu kreativitas, bukan berdiam diri tak melakukan apa-apa.

Saya cukup mengamini statement itu. Di awal-awal terjadinya pandemi, seiring anjuran kampanye pemerintah untuk tetap #dirumahaja, ada sebuah lelucon yang ramai di media sosial yang berseloroh, “ini saatnya kaum rebahan menjadi pahlawan.”

Meski barangkali terdengar sebagai candaan semata, namun sesungguhnya itu bukan perkara sepele. Ia bisa jadi adalah gambaran realitas dari kesadaran massal yang melegitimasi keberadaan orang-orang  malas di negeri ini. Dan seharusnya ini menjadi kecemasan kita bersama.

Suatu istilah tentulah tidak semata lahir dari ruang hampa. Ia muncul dari sebuah konteks kondisi fenomena sosial tertentu.

Saya tidak tahu kapan istilah “kaum rebahan” itu ada, kecuali kalau boleh berasumsi, bisa jadi ia adalah istilah dari fenomena zaman kiwari yang muncul seiring merebaknya dunia digital dan media sosial yang digawangi oleh anak-anak muda yang disebut sebagai generasi milenial itu. Ya, anak-anak muda.

Istilah “kaum rebahan” lalu dilekatkan kepada suatu sikap anak-anak muda yang suka bermalas-malasan. Menghabiskan banyak waktu seharian di ranjang tempat tidur tanpa melakukan apa-apa kecuali bermain gadget.

Yang menjadi pertanyaan, kalau betul demikian, apakah ini problem massal generasi mileneal saat ini?

Saya tidak bermaksud mengecap bahwa anak-anak muda milenial saat ini pemalas. Sama sekali tidak. Ada juga anak-anak muda di luar sana yang bersemangat, mau berpeluh keringat, menjadi agent of change untuk perubahan masyarakat dan lingkungannya, dan jumlah mereka juga banyak.

Hari ini, pandemi memang belum berakhir. Tapi wacana new normal sudah bergulir. Kita akan memasuki sebuah perubahan kondisi kehidupan yang sama sekali baru.

Kalaulah new normal kita sebut sebagai perubahan, lalu, apa sebetulnya makna perubahan ini? Selama masa karantina, sudahkah kita belajar dan bersiap diri untuk berubah? Ini pertanyaan penting yang perlu kita jawab bersama.

New normal yang akan kita jalani ini sebetulnya bukan soal pergeseran aktivitas semata, tapi ada yang jauh lebih mendasar dari itu semua. Ini adalah perubahan struktural yang terjadi dengan sangat singkat yang menuntut kita hidup normal kembali dengan basis kesadaran yang baru. 

Selama karantina, kita sama-sama merasakan, betapa begitu banyaknya dinamika dan perubahan yang terjadi dalam aktivitas hidup kita sehari-hari. Mulai dari cara bersosial, cara berkomunikasi, cara belajar, hingga aspek-aspek kehidupan lain yang menuntut kita untuk berubah. Pendek kata, pandemi Covid-19 yang kita rasakan selama ini merubah kebiasaan dan membentuk habit baru kita.

Inilah sebetulnya tantangan new normal itu. Selama masa karantina di rumah, kita memiliki surplus waktu dan pilihan kegiatan yang sangat luas. Berapa banyak di antara kita yang betul-betul memanfaatkan kesempatan ini untuk berinvestasi skill dan belajar pengetahuan baru di rumah?

Hari ini, di tengah era mudahnya akses informasi memberi peluang bagi kita untuk belajar apa saja. Hari ini pula, di tengah pandemi, kita merasakan bersama, teknologi internet seolah tidak lagi menjadi kebutuhan sampingan, tapi sudah menjadi sesuatu yang harus ada di kehidupan kita sehari-hari. Belajar dari internet bukan lagi menjadi hal baru. 

Rhenald Kasali mengatakan, pasca pandemi akan terjadi dua aspek yang menjadi tuntutan tinggi dari masyarakat, yakni aspek kesehatan dan tentu saja pada teknologi. Semua aspek kehidupan akan sangat bergantung pada teknologi (RumahPerubahan Youtube Channel, 12 Mei 2020).

Ke depan, orang menjadi bisa dan mahir dari internet juga bukan barang baru lagi. Namun, sekali lagi, teknologi seperti internet hanyalah media, semua tergantung kita, memanfaatkannya dengan baik atau sebaliknya.

Hanya mengonsumsi apa yang kita yakini bermanfaat, atau lebih memilih konsumsi yang hanya berupa hiburan semata. Kemampuan seleksi inilah yang begitu mahal di tengah lautan informasi yang disediakan oleh internet itu. Belajar saat ini bukan lagi suatu aktivitas eksklusif. Yang kita butuhkan saat ini adalah kesadaran untuk mau dan terus belajar.

Menyongsong new normal adalah hidup dengan kebiasaan baru yang lebih baik. Anak muda terutama adalah aktor-aktor yang seharusnya paling bisa beroleh kesempatan besar ini.

Generasi milenial yang katanya paling lekat dengan internet ini seharusnya menjadi harapan besar bersama. Apalagi kita juga tahu bersama, Indonesia diprediksi mengalami bonus demografi pada 2030-2040. Pada periode tersebut, diprediksi jumlah penduduk usia produktif akan mencapai 64% dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan mencapai 297 juta jiwa. 

Pandemi ini sudah selayaknya menjadi pelajaran untuk kita, terutama anak-anak muda, para generasi milenial bahwa kita akan memasuki sebuah keadaan baru yang menuntut kesadaran dan kebiasaan yang baru pula.

Sebagaimana yang disampaikan oleh si musisi di awal itu. Pandemi adalah ladang untuk memacu berkreativitas. Kita butuh anak-anak muda yang bekerja keras dan mau terus berkreativitas, bukan lagi yang suka menjadi pemalas. Jadi, menatap sebuah era baru bernama new normal itu, tidak ada lagi ceritanya kaum rebahan adalah pahlawan.