Banyak pihak yang berkomentar mengenai kondisi sekarang ini, setelah pemerintah menerapkan kebijakan baru dalam menghadapi Pandemi Covid-19 yakni kebijakan New Normal.

Setelah beberapa bulan sebelumnya pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan seperti social distancing, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan kebijakan lainnya. Dan sekarang kita telah mengalami New Normal.

Akan tetapi kebijakan ini menuai pro-kontra di mata masyarakat mengingat kebijakan PSBB sebelumnya tidak berjalan lama, tiba-tiba kebijakan New Normal pun diberlakukan hari ini. Hal ini seakan memperlihatkan kontroversi dan perspektif bahwa adanya kepentingan yang tersembunyi di balik pandemi ini.

Namun dari sisi lain, sedikit juga yang memberikan nilai positif terkait dengan New Normal ini mengingat bahwa selama pandemi melanda, selama itu pula aktivitas pekerjaan dan kegiatan sosial mengalami hambatan untuk bergerak yang tentu memicu terjadinya krisis ekonomi dan krisis kemanusiaan.

Dengan new normal, manusia akan diberikan rung untuk dapat hidup berdampingan dengan virus Covid-19 atau dalam istilahnya yang pernah terlontar di media yakni bersahabat dengan Covid-19. Akan tetapi istilah ini kurang enak didengar di telinga, mengapa demikian?

Istilah sahabat berarti saling memedulikan dan bersama dengan sesuatu yang lain, artinya bahwa seakan-akan kita tidak memedulikan lagi bahaya virus ini dan menggambarkan bahwa seakan sebelumnya tidak ada yang pernah terjadi virus yang berbahaya. Padahal, kita mengetahui bersama bagaimana di media massa beredar bahaya dan ribuan nyawa manusia berakhir setiap harinya akibat Covid-19.

Fase menjalani New Normal bukanlah hal rumit dan ini akan diterima masyarakat umum bahwa seakan tidak ada kejadian yang pernah terjadi sebelumnya. Kembalinya dibuka berbagai aktivitas manusia sangatlah dinanti-nantikan setiap manusia apalagi masyarakat sudah bosan mendengar istilah Covid-19, sehingga ada anggapan bawah Covid-19 hanyalah sebuah kospirasi.

Akan tetapi, masyarakat tidak dapat berbuat apa-apa kecuali mengikuti imbauan pemerintah karena pengendali sistem hanyalah pemerintah dan golongan atas.

Oleh karena itu, apakah New Normal ini adalah kembalinya kita pada aktivitas sebelumnya atau kita akan memulai normal baru dengan kehidupan baru? Ini mungkin saja perlu penafsiran yang jelas, apakah kita akan kembali pada masa sebelumnya yang bisa dibilang tidak normal-normal saja akibat masih banyaknya problem atau memulai kehidupan baru dengan kegiatan baru dan menormalkan problem yang dari semua aspek.  

Kebijakan New Normal haruslah kita dapat mengambil pelajaran sebelum dan setelah pandemi melanda, dengan memulai hidup baru yakni dibebaskannya kita untuk dapat beraktivitas kembali. Aktivitas sebelumnya yang tidak produktif atau perbuatan negatif harus dapat kita mengubahnya dan menjadi pelajaran besar bahwa hidup di dunia perlu adanya perjuangan dan kerja keras.

Saling memedulikan sesama makhluk merupakan fitrah manusia yang sejati. Meskipun di balik pandemi ini ada kepentingan dari pihak tertentu namun di sisi lain pula ini dapat memberikan pelajaran bagi umat manusia untuk dapat mengambil nilai positif dan dan mengubah kebiasaan buruk. Contoh kecilnya saling memedulikan terhadap sesama dan juga mengajarkan agar dapat menjalani hidup sehat.

Pola kehidupan baru dan aktivitas baru seperti halnya memulai pekerjaan dan pendidikan secara online, dengan lingkungan baru untuk membiasakan berkomunikasi tanpa bertemu langsung. Hal seperti ini bukan lagi sesuatu yang akan rumit untuk dijalankan bahkan dapat membuat manusia semakin nyaman dengan sistem yang seperti ini.

Tuntutan manusia untuk dapat mengetahui ilmu sains dan teknologi dalam menjawab tantangan zaman semakin fundamen. Pekerjaan akan lebih banyak beralih pada bantuan teknologi-teknologi canggih yang di mana setiap harinya mengalami perubahan dan peningkatan. Ketika manusia tidak mampu mengekspor dirinya dalam dunia untuk  menghadapi tantangan zaman, maka manusia akan terbawa arus dan hanya menjadi penonton.

Bagaimana pertarungan negara-negara maju untuk dapat menguasai sistem dan dunia. Ekonomi menjadi faktor untuk penguasaan dunia tersebut, ketika peran ekonomi global mampu dikuasai oleh pihak tertentu, maka aspek-aspek yang lain pun juga akan berpengaruh. Seperti aspek budaya, sistem pemerintahan, media dan teknologi akan dikendalikan ekonomi global.

Dengan memulai perekonomian baru, bukan untuk kembali pada perekonomian sebelumnya yang masih banyak menuai kontra di masyarakat mengingat adanya kebijakan hanya mementingkan kepentingan kelompok dan eksploitasi terhadap manusia.

Padahal baik ekonomi, politik, sosial budaya harus dapat dirasakan secara baik dan normal oleh masyarakat umum. Oleh karena itu, dengan new normal ini, maka normalkanlah segala kehidupan baru, bukan untuk kembali sesuatu yang tidak normal-normal saja.