Beberapa waktu lalu, saya memutuskan untuk meng-unfollow beberapa influencer di instagram. Alasan utamanya sederhana: meminimalisir distraksi.

Bukan karena konten-konten mereka tidak menarik atau berfaedah bagi kehidupan mental dan materiil umat manusia. Bukan juga lantaran saya iri serta dengki pada representasi hidup mereka yang sepintas tampak mudah dan menyenangkan. 

Sungguh, di era overload information ini, saya kerap insecure: merasa tidak punya pencapaian apa-apa. Perasaan insecure inilah yang bikin saya terdistraksi. Ujung-ujungnya, merutuk diri, merasa tidak berkembang sama sekali.

Beruntung saya cukup sadar diri. Sadar kalau saya pada dasarnya adalah netizen. Netizen selalu benar, katanya. Berarti, apa pun keputusan saya, saya selalu benar. Tidak bisa dibantah lagi. Mutlak. Saya juga kan netizen. Maka, keputusan untuk unfollow sebagian influencer adalah benar.

Saya tidak mengajak siapu pun untuk tidak lagi mengikuti para infulencer di media sosial. Apabila Anda rasa mengikuti keseharian mereka mampu membuat diri Anda merasa lebih baik, silakan saja. 

Lagipula, salah satu fungsi media sosial memang adalah sebagai sumber obrolan di dunia nyata. Sah-sah saja kok membicarakan orang, apalagi orang-orang berpengaruh. Siapa tahu Anda memang sedang tidak punya persoalan-persoalan yang lebih penting untuk dibahas bersama sanak saudara dan handai taulan ketika tengah arisan. 

Sebagai mahasiswa komunikasi, saya paham kalau media sosial bisa juga jadi sarana membebaskan diri dari rutinitas yang menjemukan. Atau bahkan justru membebaskan diri dari persoalan yang kita alami di dunia nyata.

Baca: Media Sosial sebagai Teknologi Pembebasan

Terkadang, menemukan ketidaksempurnaan orang lain di media sosial bisa membuat kita merasa lebih baik dan mensyukuri hidup. Komentar-komentar macam ini tentu jamak kita temukan di linimasa:

“Cakep-cakep pelakor.”

“Eh, si nganu buka jilbab. Sebagai public figur, harusnya bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat...”

“Pake gincu kok warna biru. Situ siluman?”

“Duit jutaan buat beli eyeshadhow pallete?  Lebih baik untuk sedekah.”

Sadarkah Anda kalau influencer pada dasarnya adalah netizen juga? Mereka juga punya hak buat nyinyir atau merespons komentar followers suka-suka mereka.

Jangan salah, para influencer juga tidak senantiasa membicarakan yang baik-baik soal followers mereka. Influencer tidak selalu tabah, ikhlas, ridho, tawakal, dan bebal menghadapi sesama netizen yang melontarkan komentar bernada negatif ke mereka.

Bahkan tak jarang mereka memutuskan untuk mem-block, report, atau melakukan apa pun agar linimasa mereka tidak teracuni oleh hal-hal negatif.

Sementara followers yang merasa tidak terima lantas mengkritik demikian:

“Ihkakak sombong ya! Mentang-mentang terkenal.”

“Begini nih, nggak mau dikritik. Kelakuan. Padahal followers makin banyak. Harusnya bisa jadi panutan.”

Sebagai netizen, tentu terserah kita mau melakukan apa dengan akun-akun medsos masing-masing. Kalau kata J. Biafra, “Don’t hate the media; become the media!”

Kita adalah representasi dari media itu sendiri. Kita punya kontrol terhadap media yang kita gunakan, tentu kalau kita tidak enggan untuk belajar. Meski memang kontrol kita tidak sebesar pemilik media yang gemar memutarkan lagu mars partainya, itu.