Belakangan ini ramai perbincangan tentang Atta-Aurel. Kedua pasangan ini memang tak pernah sepi dari sorotan publik. Konten tentang keduanya tak pernah sepi dari mulai kabar kedekatan mereka hingga kini kabar keguguran Aurel. Mereka juga dianggap sebagai sosok ideal hingga mewakili komunitas yang kebelet nikah muda.

Bermunculannya influencer atau publik figur dalam media sosial seperti Atta-Aurel merupakan dampak perkembangan teknologi komunikasi. Tentu ini merupakan peluang terciptanya jenis pekerjaan baru, misalnya YouTuber atau Selebgram. Kehadiran mereka memunculkan komunitas virtual baru yang anggotanya terdiri dari followers mereka.

Implikasinya adalah kemunculan opinion leader dari kalangan para artis, Selebgram, atau YouTuber. Para leader ini kemudian menjadi tokoh penting sebagai pemimpin opini di masing-masing komunitas virtualnya. 

Pengaruh pemimpin opini ini kemudian berdampak pada anggapan yang mendewakan para artis, Selebgram, atau YouTuber. Para pengikutnya bahkan menolak kritik atas idolanya seolah menjadikan idolanya sebagai Tuhan jenis baru. Seolah-olah bagi mereka, suara idola mereka adalah suara Tuhan.

Kondisi anti-kritik ini terlihat dari bagaimana respon reaksioner mereka menanggapi kritik yang ditujukan pada idolanya. Contohnya, kasus Atta yang mendapat kritikan pedas atas konten yang dinilai mengeksploitasi keguguran Aurel. Pengikutnya membabi buta merespon kritikan itu bahkan justru melakukan cyber-bullying dan body shaming.

Media Sosial: Pasar dan Ruang Baru Berekspresi

Media sosial menjadi ruang bagi para penggunanya untuk bebas berpendapat hingga berkomentar apapun. Namun, kebebasan yang tanpa batas ini kemudian menghadirkan masalah baru. Para pengguna media sosial berkomentar tak kenal etika hingga tak peduli pada perasaan bahkan hak pengguna media sosial lainnya.

Kehadiran media sosial pun kini mengubah peran masyarakat sebagai pengiklan atau penonton. Iklan tidak hanya terikat pada promosi produk tertentu namun lebih pada aktifitas pribadi. 

Pengguna media sosial bisa dengan mudah membagikan aktifitas hariannya dengan tujuan untuk merepresentasikan dirinya, mengundang interaksi, melakukan kerjasama, hingga membentuk ikatan sosial secara maya antar sesama pengguna lainnya.

Sebagai penonton, para pengguna media sosial bahkan rela menyempatkan waktu untuk hanya sekedar melihat video atau foto-foto di Instagram, Youtube, Facebook, ataupun Twitter. Bagi pembuatnya, media sosial justru digunakan sebagai alat untuk menghasilkan pundi-pundi uang. 

Bahkan, hadirnya media sosial telah meleburkan antara batas privasi dan publik. Kini konten-konten privasi banyak bermunculan dan bernilai hiburan. YouTuber atau Selebgram bahkan tidak ragu untuk membagikan kehidupan pribadi mereka untuk dikomersilkan.

Degradasi Nettiquete Netizen Indonesia

Sebelum hadirnya media sosial, khalayak atau masyarakat dianggap sebagai kepala batu karena tidak berdaya dan tidak mampu melawan raksasa media. Khalayak hanya mampu pasif menerima apa yang disampaikan oleh media-media mainstream. 

Namun, kemunculan media sosial justru membalik posisi ini. Kini, komentar khalayak bahkan penting untuk diberitakan oleh media-media mainstream.

Akan tetapi, perubahan ini dapat berujung pada keaktifan tanpa dasar etika. Komentar-komentar masyarakat kemudian hanya didasarkan atas kesenangan pribadi tanpa memperhatikan netiquette atau tata nilai berprilaku saat berinteraksi di internet. 

Etika berinternet ini sebaiknya didasari oleh kesadaran pengguna akan adanya perbedaan latar belakang, jejak digital, dan internet sebagai institusi bisnis. Kesadaran akan hal itu tentu dapat membawa penggunanya lebih bijak dalam bermedia sosial.

Namun, pengguna internet di Indonesia atau netizen umumnya tidak memegang netiquette sebagai landasan mereka bermedia sosial. Mereka secara membabi buta menyerang opini yang berbeda atau prilaku yang bertentangan dengan budaya atau agama yang mereka anut.

Sudah beragam peristiwa hate speech, body shamming bahkan sexual harassment dilakukan oleh netizen Indonesia. Kasus hate speech contohnya terjadi pada kasus serbuan komentar jahat netizen Indonesia di Facebook pasangan gay asal Thailand. Mereka memberikan komentar ancaman mati pada pelaku pasangan sejenis tersebut. 

Kasus serupa yang terjadi belakangan ini dilakukan oleh para pengikut Atta-Aurel kepada Kalis Mardiasih. Lontaran komentar body shamming pada tampilan fisik Kalis menjadi kontra opini yang justru sama sekali tidak berhubungan dengan kritik Kalis atas Atta.

Respon tanpa etika yang disampaikan melalui media sosial perlahan dapat menimbulkan keselarasan hubungan menjadi tidak harmonis. Komentar yang buruk dapat menghilangkan rasa percaya diri, gagal memahami diri sendiri, minder, merusak kesehatan mental, bahkan berujung pada kasus bunuh diri. 

Implikasinya yang lebih buruk adalah membentuk cyber chaos. Jika ini terjadi, budaya negatif akan terbentuk dan kedepannya dapat memecah belah antar sesama masyarakat.

Jika berkomentar bebas hanya akan menimbulkan kepuasan tersendiri tanpa melihat realitas yang terjadi nantinya, media sosial akan menjadi alat penghakiman jenis baru. 

Masyarakat tanpa moral di media sosial takkan berpikir panjang terhadap dampak realitas yang akan ditimbulkan. Ini akan menjadi permasalahan baru yang takkan terselesaikan jika tidak diiringi dengan literasi bermedia sosial terhadap penggunanya. Namun, literasi saja tidak cukup, butuh masyarakat yang sadar terhadap etika bermedia sosial.