Ejaan lengkap nama aku, Abbraham Raya Tyroneo. Tapi panggil saja aku Neo, tidak rumit, secara harfiah kesastraan, neo bisa diperiksa dalam ‘bahasa ibu’ komunikasi kultural daerah Kabupaten Bima kuno hingga kini.

Sesuai pertalian silsilah dari Ayah dan Ibu, bisa saja nasib aku lahir di Kenagarian-Desa (rasa) Ngali, daratan tinggi yang di huni para kastria. Tapi mata angin timur dari pulau sunda kecil, dan tentu takdir Tuhan membawa aku dilahirkan di tanah pertikelir Kota Batavia.

Lahir di 15 Januari, bukan ambisi aku mensejajarkan diri dengan sekaliber Osip Mandelstam, penyair dan penulis handal abad ke-20 yang puisinya berkontribusi besar untuk sastra Rusia, menyamakan barangkali dengan Gamal Abdel Nasser, pemimpin revolusi yang mendirikan kemerdekaan penuh bagi Mesir. Atau seperti Martin Luther King, Jr mungkin? 

Tetapi benar pada hari yang sama, mereka-mereka lahir. Termasuk waktu yang sama, Inggris menobatkan Virgin Queen Elizabeth sebagai ratu yang menjadi penguasa monarki dari dinasti Tudor.

Rasa-rasanya dari resensi orang-orang besar itu juga imajinasi nama aku terinspirasi? Bisa jadi, sebab konon kabarnya, orang tua aku tidak serta-merta nama itu asal di pungut, sedikitnya perlu waktu 5 tahun kata per kata di rakit. Dengan begitu maka jangan di tanya apa arti atau maknanya.

Jejakku

Singkatnya pagi itu, tapi sebelum aku lanjutkan, aku ingin memperjelas. Bahwa memang narasi ini tentu bukanlah aku yang bangun, aku pinjam tangan ayah dan ceritera ibu untuk mengisahkannya. Dan sebab itu juga alasan mengapa aku menyebutnya sebuah fiksi.

Begini, jejak atau rangkuman cerita drama kelahiran aku. Mula-mula pagi itu lantunan lagu Indonesia Raya sayup terdengar dari speaker radio tua milik ayah.

Media-media elektronik setiap buka hari baru diwajibkan memutarkan lagu Kebangsaan? Entahlah. Lagu itu bagi ayah, adalah pertanda sepoi pagi mulai meninggalkan kebisuan malam, lagu yang menambah hangatkan cuaca musim penghujan itu, di tiap syairnya terasa menyugestikan beban psikologis kota. Yakin melampaui batas kekurangan suasana kontrakan kecil kami.

Usai kokok ayam subuh, tampaknya pagi itu tak ada warga yang bercengkrama seperti lazimnya suasana riuh-ramai di Desa ayah dan ibu aku tumbuh besar. Sepintas tidak ada yang aneh, karena Jakarta memang begitu, tak pernah luput dari kesibukan ‘masing-masing’.

Sembari ‘ngeteh’, (ayah memang sudah lama minggalkan rokok, sejak ibu mengandung aku) ayah duduk rebahkan badan, santai di atas karpet tipis ukuran kecil satu-satu miliknya. Pagi ini ayah terlihat berlaku datar saja. Lantas apa ayah sedang gelisah memikirkan tentang kedegilan dunia politik? (seperti hari-hari biasanya). Atau tak tenang dan tidak sabar lantatan menyambut hadirnya aku di kefanaan dunia ini?

Hari semakin tua menuju siang, matahari sudah meninggi, aku kian mengerti. Benar saja hari itu aku lahir, melalui perjuangan panjang, berat dan melelahkan ibu. Senin, 15 Januari 2018 tepat azan dzuhur masih di telinga adalah waktu yang penuh dengan kesuka citaan kedua orang tua aku dan juga bagi semua keluarga besar ayah dan ibu.

Sungguh! Aku tak ingin menyinggung, aku mau lalui saja penggalan drama cerita lahir aku ini. Sebab aku takut mengingatnya lagi. Betapa aku ingin menangis sekeras-kerasnya, teriak sekencang-kencangnya dan protes mengapa! Betapa dramatis, betapa kasihannya seorang ibu, betapa khawatirnya ayah di saat melihat aku dan ibu berjuang bertahan hidup akibat harus pindah tempat bersalin dari Klinik ke rumah sakit yang cukup jauh jaraknya. 

Kenapa dirujuk? Biar ‘pengalaman buruk’ itu menjadi rahasia sekaligus pelajaran. Bayangkan macetnya Jakarta, padahal kata Bidan, kepala aku sudah mau keluar sementara air ketuban hampir habis. Aku dengar ayah komat-kamit tak menentu, berdoa sebanyak-banyaknya, dan sungguh benar saja, Tuhan menyayangi kami, aku dan ibu.

Kami berdua selamat meski di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Badan aku terasa lemas, tapi gemuruh doa-doa aku dengar. Siangnya aku sudah mulai bisa sedikit bersuara, mengumpulkan tenaga untuk menggerakkan kaki dan melambaikan tangan penanda aku sedang memberikan harapan hidup. 

Ibu hebat, meski aku sedikit sedih karena ibu mengalami baby blues syndrome. Aku tahu, sedari dalam perut ibu, ayah sering 'mengaji' al-quran. Berharap bahwa kelahiran aku adalah cikal bakal harapan, pencerahan dunia kedepan.

Ayah, ibu, dunia telah menyaksikan drama kelahiran aku. Tapi ini bukan hanya sekedar mengenang drama atau membaca cerita fiksi anak manusia yang kebetulan saja lahir di Tahun politik. 

Namun sekali lagi, meminjam tangan ayah dan rekam ceritera ibu, aku ingin persembahkan narasi (sejarah) ini untuk semua yang sedang sibuk bergulat dengan dunia, terutama kepada semua yang menjadi lakon dan dalang pesta politik pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Supaya juga agar pemandangan jalanan pedesaan, terutama sekali di Desa ayah aku tak sekedar bak kota kecil yang di penuhi sampah visual belaka.

Narasi ini mencetuskan inpirasi agar Pilkada yang meyebabkan perbaikan keadaan (fasilitas) dan peradaban (hubungan kemanusiaan). Supaya juga membuahkan generasi emas yang tak takut hidup kendati lahir pada musim apapun.

Lagi pula, tidak mengagetkan lagi, misalnya tiba-tiba saja di tengah irama suara sepatu kuda pecah. Pak kusir lantas sesumbar, politik jangan hanya isinya pepesan kosong. Kemudian dia menertawai dirinya sendiri, bahkan terpingkal-pingkal. Aku yakin suara pak kusir ini menggema sebelantara nusantara, karena aku tahu dia tidak sendiri.

Neoisme

Setelah Tyroneo tumbuh besar, lahir neo-neo baru. Tidak hanya mengagumi kisahnya, bahkan para orang tua lain pun ikut-ikutan menyamai nama bayinya dengan sebagian nama neo di ‘comot’. Tak ada yang dapat pungkiri, Neoisme muncul secara alamiah. Lagi pula tidak apa, berharap Noeisme dapat memperbaiki peradaban dunia kedepan.

Kita semua akan belajar membesarkan anak kita, memasak sendiri makanan yang kita makan. Dengarin musik, nonton film. Dan mungkin kita punya sedikit sisipan uang, kita meminta badut-badut untuk mengisi kekosongan, membebaskan mereka dengan hiburan yang menggerutu kemewahan. 

Biarkan badut-badut meciptakan kebisingan untuk “mereka” para borjuisa yang mengkonsumsi dengan sangat tamak dan serakah, mereka yang merampas makanan dari mulut anak-anak orang miskin (seperti kita).

Di saat kaum bangsawan terlelap dan mengalami kelumpuhan. Kalau kita memiliki waktu senggang, sesekali kita akan pergi berlibur bersama dengan menaiki becak atau bemo tua yang berkecepatan ringan. 

Kita akan menuju Desa yang mengagumkan satu-satunya tempat yang layak untuk hidup, Desa yang sekarang dianggap sebagai neraka. Dimana semua orang ingin meloloskan dirinya untuk tinggal di kota hanya demi satu alasan keistimewahan.

Dan yang tak kalah penting, kelak nanti anak kita tumbuh besar, kita ajarkan dia mengolah (nyangkul) tanah, membakar kulitnya dengan bercocok tanam di sawah, kebun dan gunung-gunung. Mengajarinya mempelajari sejarah dan merakit sastra sebagai syarat tambahan agar dia tak terbelenggu dengan pekerjaan kasar yang berlawanan dengan pikirannya.

Dirgahayu anakku, Abbraham Raya Tyroneo (hadiah pemberian Tuhan yang akan menjadi pemimpin besar, raja yang berkuasa untuk segala bangsa). Maaf aku agak telat merayakan hari bersejarah ini.