4 bulan lalu · 2813 view · 4 min baca menit baca · Politik 73774_95295.jpg
tirto.id

Neno Warisman dan Fantasi Radikalisme

Ketika kemakmuran Kota Venesia redup sekitar abad ke 16, seorang bernama Bragadino tampil sebagai harapan akan kembalinya kegemilangan kota itu dengan segera.

Bangsawan hingga rakyat jelata datang berbondong-bondong menemui dan memenuhi keperluan hidup Bragadino yang mampu bermukjizat, yaitu mengubah suatu zat misterius menjadi emas dalam waktu singkat.

Namun,  mukjizat  yang ditunggu tak kunjung terjadi. Bragadino ternyata hanyalah seorang pria biasa yang bernama Cypriot Mamugna. Ia adalah seorang penipu.

Keberhasilan tipuannya disebabkan oleh kejeliannya memanfaatkan fantasi massa. Ia tahu bahwa penduduk Venesia sangat menginginkan kemakmuran yang sebelumnya mereka miliki.

Dengan mengeksploitasi fantasi kemakmuran, Bragadino membuat penduduk Venesia menyerahkan sisa-sisa harta mereka kepadanya secara sukarela.

Poin utama dalam kisah Brigadino di atas adalah pentingnya memahami fantasi. Berkaitan dengan Neno Warisman (Neno), saya ingin mendorong untuk menelusuri fantasi apa yang ada di balik sepak terjang Neno terkait orientasi politik.

Baru-baru ini, Neno kembali memantik polemik terkait isi dari puisi yang dibacakannya saat berpartisipasi dalam acara Munajat 212 di kawasan Monas, Jakarta pada tanggal 21 Februari 2019. 

Bagian yang dipersoalkan ialah: Karena jika Engkau tidak menangkan, kami khawatir ya Allah, kami khawatir ya Allah, tak ada lagi yang menyembah-Mu.


Saya menempatkan bagian puisi Neno tersebut ke dalam perspektif fantasi radikalisme Islam (fantasy of Islamist radicalism). Fantasi diartikan sebagai sebuah aktivitas merindukan atau mencita-citakan sesuatu hal secara mendalam yang mana sesuatu tersebut diharapkan agar terealisasi sebagai fakta.

Dalam sejarah manusia, sebuah fantasi sering ditemukan melandasi suatu perubahan yang sebelumnya dianggap mustahil (impossible).

Radikalisme Islam adalah paham yang melihat Islam bukan sekadar sebuah agama, tetapi juga kaidah etik bagi struktur sosial, hukum, dan politik. Implikasinya, tidak ada pemisahan antara agama dan negara. Segala aspek kenegaraan harus diselenggarakan menurut syariat Islam.

Menurut Andree Feillard dan Remy Madinier, kelompok Islam radikal membagi dunia ini secara biner. Sejarah umat manusia adalah pertempuran antara yang baik dan yang jahat, dunia Islam melawan dunia Barat, atau Islam yang autentik versus Islam yang palsu dan kaum kafir.

Indonesia adalah bagian dari peperangan besar tersebut. Jadi, bagi mereka, semua kekuatan jahat hanya dapat dikalahkan dengan dominasi Islam secara struktural di Indonesia. Indonesia sebagai negara Islam dan hukum Islam sebagai hukum positif. Itulah yang disebut sebagai kemenangan Islam (the triumph of Islam).

Sikap politik Neno sering mengambil logika radikal. Ia selalu mendorong publik untuk  melihat bahwa Islam di Indonesia secara keseluruhan sedang berada di tengah kecamuk perang antara yang baik dan jahat, antara yang “Islam” dan kaum kafir.

Bagian puisi yang kontroversial itu memuat nalar yang demikian. Pilpres adalah sebuah “perang”. Kekalahan kubu Neno dan kawan-kawan diasumsikan sebagai kemenangan kaum kafir yang dapat berakibat lenyapnya umat Islam yang autentik di Indonesia.

Apakah tabu bagi Neno untuk berambisi dan beraspirasi politik yang demikian? Menurut hemat saya, tidak. Selama orientasi radikal itu tidak menuju pada konflik terbuka. Walaupun tetap terlalu potensial untuk melahirkan tindakan kekerasan.

Eksploitasi identitas secara situasional demi kepentingan elektoral tentu dimungkinkan dalam demokrasi secara substansial.


Pada saat yang sama, potensi konflik horisontal mungkin akan sangat tinggi mengingat ada muatan supremasi etnis dalam kognisi radikalisme Islam. Misalnya, kelompok dari suatu agama, dalam hal ini Islam, lebih superior untuk menata publik dari kelompok agama yang lain.

Ihwal radikalisme Islam dalam sejarah Indonesia dapat dipetakan dalam tiga tahap perkembangan utama menurut Feillard dan Madinier. Pertama adalah kegagalan pemahaman yang demikian untuk menginisiasi berdirinya negara Islam Indonesia atau negara Indonesia sebagai negara Islam.

Perdebatan mulai dari sidang BPUPKI hingga PPKI akhirnya mengesahkan Indonesia bukan sebagai negara agama. Indikasinya adalah rumusan Pancasila versi Piagam Jakarta tentang ketuhanan ditolak karena mengesankan superioritas satu agama.

Kedua, adanya fenomena makro, yaitu gerakan Islam internasional. Tahap ini dipicu oleh kekalahan dunia Arab dari Israel dalam perang Yom Kippur pada tahun 1973. 

Arab Saudi kemudian menarik mahasiswa-mahasiswa muslim dari negara-negara miskin untuk belajar di universitas mereka. Banyak mahasiswa dari Indonesia pergi ke sana.

Tujuan mendasar dari program ini adalah membangun solidaritas dan soliditas umat muslim sedunia. Di sana, sebagian mahasiswa Indonesia menjadi penganut salafisme, kelompok neo-fundamentalisme Islam yang merupakan jaringan dari kelompok jihad di Afganistan. Mereka ini kemudian kembali ke Indonesia.

Tahap yang ketiga adalah kejatuhan Presiden Soeharto dan demokratisasi di Indonesia. Soeharto bersikap ambigu terhadap kelompok Islam. Ia lebih mesra dengan kelompok militer yang mampu mengamankan sumber daya ekonomi dan politik bagi dirinya.

Keakraban Soeharto dan militer membuat aktivitas Islam politik tersendat-sendat karena kontrol ketat yang diterapkan negara. Keruntuhan rezim Soeharto ikut memutus rantai yang mengekang pergerakan Islam radikal. Pergerakan ini kemudian bebas dan berani terbuka dalam menyampaikan arah politiknya.

Demokratisasi yang sedang berlangsung di Indonesia memberi peluang besar bagi keberhasilan kelompok ini untuk mewujudkan cita-cita, yakni negara Islam.


Dari beberapa tahap perkembangan di atas, bisa dilihat bahwa radikalisme Islam di Indonesia memang tidak pernah mati. Neno Warisman berupaya merangkul kelompok ini melalui pemanfaatan fantasi mereka. 

Mungkin puisi Neno sebatas untuk mendulang suara pada 17 April 2019 nanti. Akan tetapi, implikasinya ialah itu juga mengingatkan bahwa ada kemenangan yang belum diraih.

Artikel Terkait