4 bulan lalu · 1575 view · 3 menit baca · Politik 68207_24254.jpg

Mbak Neno Semestinya Bertaubat

Mbak Neno. Ya, sengaja saya sebut mbak, bukan ustazah. Sebab kita mesti melawan kecenderungan massal kini yang amat mudah memberi gelar keagamaan pada siapa saja.

Siapa saja kini dengan mudahnya tiba-tiba menjadi ustaz, ustazah, atau bahkan ulama, meski tanpa latar belakang ilmu yang cukup dan serius.

Baiklah. Sebuah puisi, lumrah saja memang ketika diekspresikan dalam cara dan diksi yang rada hiperbolis. Namun tak sebegitunya juga, mbakApalagi konteksnya munajat dan doa.

Dalam munajat dan doa, adalah tak beradab bila kita menyertai kepalsuan atau sesuatu yang sesungguhnya tak mewakili kenyataan.

Saya katakan kepalsuan, sebab menggambarkan bahwa Indonesia di masa depan yang bila tidak sesuai dengan impian politik "212", sebagai Indonesia yang "kafir", adalah upaya pemalsuan terhadap kenyataan. Atau, paling tidak, Neno dan kawan-kawan adalah orang yang tertipu dalam menilai kenyataan.

"Kami khawatir, ya Allah, bila engkau tak memenangkan kami, tak akan ada lagi yang menyembah-Mu." Rintihan yang cukup menggeramkan, juga mencemaskan.

Kita coba memahami hasrat besar di balik munajat itu. Namun, wala tusrifu; jangan Berlebihan. Demikian maklumat Allah dalam Alquran.


Neno mungkin berusaha menginspirasi diri dari doa Rasulullah dalam perang Badar. Doa dengan pola serupa, di mana Rasulullah melimpahkan kecemasan atau kekhawatiran kepada Allah bila saja kaum muslimin kalah dalam perang itu.

Doa Rasulullah tentu pada konteks yang tepat. Benar-benar perang, jihad. Dan lawan yang dihadapi adalah jelas, kaum musyrikin kafir. Konteks yang sama sekali tidak menyertai, tidak ada, dan cukup tak relevan untuk disamakan dengan keadaan Neno dan kawan-kawan. 

Dan inilah problemnya. Neno dan yang serupa dengannya, berkali-kali mengekspresikan diri sebagai para jihadis dalam pertarungan pilpres. Suatu hal yang menurut saya mendegradasi derajat jihad itu sendiri.

Mereka punya semacam kecenderungan, mengganggap pihak yang menyelisihi arah politik kelompoknya sebagai musuh agama. Kecenderungan yang lahir justru karena kurangnya upaya memahami agama itu sendiri secara benar dan menyeluruh.

Diperkuat oleh ketidakcakapan dalam menyalin fakta, atau buruknya pemahaman terhadap kenyataan (fiqhul waqi`). Maka yang dialami kemudian adalah kekacauan kategori dan identifikasi.  

Umat banyak (sebagaimana yang tercermin dalam diri Neno) menjadi begitu hitam-putihnya dalam membaca politik. Bahkan di tengah makin buramnya kategori-kategori ideologis dalam konstelasi politik itu sekalipun.

Wajah umat yang kemudian tampak adalah umat yang penuh semangat ingin membela agama, namun dengan segala ekspresi ganjil dan merisaukan. Makanya para ulama sering menasihatkan, membela agama tak cukup dengan semangat, namun butuh ilmu dan pemahaman yang benar.


Neno dan yang semisal, paling kurang, jika tak menganggap diri sedang melawan orang kafir, membangun klaim sedang melawan orang-orang yang tidak berpihak pada Islam, membenci Islam dan syiar-syiarnya, atau pihak yang berkompromi dengan orang kafir dalam menghancurkan Islam. Dan klaim seperti ini tak jauh berbeda dari anggapan sedang melawan orang kafir itu sendiri.

Kenapa? Para ulama, seperti Syeikh Muhammad At-Tamimi dalam kitabnya Nawaaqidhul Islam (pembatal-pembatal keislaman)memaparkan, di antara hal yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam (menjadi kafir) adalah membenci Islam dan syiar-syiarnya, serta berkompromi dengan orang kafir dalam menghancurkan Islam.

Maka ketika Neno (dkk) memosisikan muslim lain yang merupakan lawan tarung politiknya sebagai para pembenci syiar-syiar Islam, tidak berpihak pada Islam, atau yang mendukung orang kafir dalam menghancurkan Islam, maka Neno (dkk) telah menganggap lawan tarung politiknya berperilaku kufur yang dapat membatalkan keislaman mereka (menjadi kafir).

Benarkah demikian anggap Neno dan kawan-kawan? Secara semiotik, kita jelas dapat membaca demikian. Puisi-doanya Neno menampakkan dengan jelas anggapan itu.

Hal ini tentu berbahaya. Dapat atau mungkin sudah mengarah pada perilaku takfir serampangan (mengafirkan seenaknya). Padahal takfir (mengafirkan seseorang yang asalnya muslim) di sisi syariat adalah hal yang tidak dibuka luas pintunya hingga siapa saja seenaknya bisa memasuki pintu itu. 

Para ulama (dengan berbagai nash Alquran dan Hadis) telah menjelaskan demikian. Imam Al-Qurthubi, misalnya, menjelaskan bahwa "Bab takfir adalah bab yang berbahaya. Banyak orang yang berani mengafirkan, mereka pun jatuh (dalam kesalahan). Dan para ulama besar bersikap hati-hati dan mereka pun selamat..." (dapat dirujuk dari Fathul Baari).

Maka sebagaimana tidak dibenarkannya serampangan dan bermudahan dalam mengafirkan, begitu pula tidak dibenarkan kita dengan mudahnya mengategorikan pihak lain sebagai telah berperilaku kufur atau mendukung kekufuran. 


Dengan memosisikan mereka secara hitam-putih anti-syariat, benci pada Islam dan syiar-syiarnya, atau mendukung musuh-musuh Islam, pemosisian seperti ini amat berbahaya. Tidak bisa dibangun hanya dengan syak-wasangka. Maka hendaknya berwaspada.

Untuk itu, bagi Neno dan yang seanggapan, atau yang sama serampangnya, semestinya bertaubat. Karena syariat mencegah dan melarang hal itu. Apalagi semisal Neno yang turut menjadi propagandis untuk membangun anggapan publik tentang anti-Islam-nya kelompok lain yang merupakan lawan politiknya. Naudzubillah.

Artikel Terkait