Arsiparis
1 tahun lalu · 52 view · 4 menit baca · Cerpen 40273_80523.jpg

Nelayan

Biarlah kebuntuan ini kujalani karena ya memang harus buntu jalannya terus harus bagaimana aku.  Akankah kudobrak dengan palu  godam biar tembok ini berantakan lantas benarkah dibalik tembok itu ada jalan yang  lempang. Jangan jangan jalan ini memang jalan buntu. Tapi kalau memang buntu mengapa aku tidak boleh kembali apa aku akan tua dan mati di jalan buntu ini.

Aku terbangun ketika ketukan di  pintu kamarku semakin keras. Mimpi ini telah satu minggu menjadi teman tidurku. Tentang jalan buntu dan aku tak boleh kembali aku harus diam di situ mencari kehidupan di situ mencoba membuat dunia dan komunitas atau ekosistim yang nyaman di situ i entah sampai kapan.

“Ya, tunggu,” teriakku ketika ketukan itu semakin keras terdengar.  Hari sudah hampir melewatkan pagi karena suara burung tinggal satu dua tiga terdengar tidak riuh rendah bersautan sebagaimana waktu subuh. Sudah satu bulan ini aku selalu bangun kesiangan.  “Selalu saja kesiangan, kau, dasar pemalas,” kata istriku dari balik pintu. “ Cepatlah kau antar  Dina ke sekolah, Sudah setengah tujuh ini, jangan sampai terlambat lagi seperti kemarin” tambahnya.

Dengan bersungut-sungut aku turun dari tempat tidurku langsung menuju ke kamar mandi tanpa menoleh ke wajah istriku yang mematung di depan pintu kamarku. Sabun tinggal sebesar ibu jari ketika kubasuhkan kemukaku tak ada aroma wanginya lagi. Persediaan cadangan kebutuhan rumah tangga sudah habis sejak kemarin . Sudah habis semuanya, beras, uang belanja, sabun mandi,dan sabun cuci. Yang ada hanya tinggal semangat saja.

Terdengar berita dari televisi di ruang tamu kabut asap melebar kemana-mana sudah hampir mencapai Jawa. Asap pembakaran hutan yang memenuhi Sumatra dan Kalimantan rupanya ingin berbagi dengan saudaranya yang lain yaitu Jawa.

Ulah para cukong pengusaha dalam mengonsumsi kekayaan alam negeri ini seolah luar biasa rakus. Ratusan hektar hutan dibabat habis untuk keuntungan usahanya. Lingkungan yang hijau dan menyehatkan, dalam hitungan tahun ke depan hanya akan tinggal cerita yang didongengkan ke anak cucu saja. Semua gundul dibabat habis.

Tak ada lagi larangan bagi mereka karena aparat kehutanan dan para pengusaha itu sudah akrab berteman. Mereka saling membutuhkan dan disatukan oleh satu kepentingan: uang.

Televisi dengan cepat kumatikan saat anak berteriak, “Yah! Ayo mau terlambat ini, Lho.”

Di atas motor bututku sambil memboncengkan anak sulungku menuju sekolahnya, fikiranku melayang liar. Rejeki di negeri ini begitu sulit dibagi rata. Ada yang begitu mudah mendapatkannya, seperti pengusaha penghancur hutan itu,dan yang seperti aku ini entah bagaimana caranya bisa ikut menikmati. Sebagai nelayan kecil dengan pendapatan yang juga kecil ditambah daya jangkau kapal yang kecil, itupun milik juragan, apalah dayaku.  

Mungkin hanya doa dan kesabaran saja yang menghiburku selama ini. Sudah sebulan ini aku berhenti melaut karena musim angin Barat yang membuat ombak begitu besar dan membahayakan bagi nelayan tradisional seperti aku ini. Saat saat seperti ini aku biasanya ikut melaut dengan  perahu yang agak besar du desa tetangga yang terkenal bermodal menengah tapi sekarang pun sama kondisinya, juragan perahu besar takut melaut karena ada rasia pukat cantrang yang selam ini dipakainya. Dan itu  adalah alat   tangkap yang dilarang oleh pemerintah.

Meski ada larangan mereka para juragan itu  tetap main kucing kucingan dengan aparat kepolisian dengan alasan itu adalah alat tradisional yang tentunya berbeda dengan kapal yang bertonasi besar. Sudah sejak zaman kakek mereka yang dipakai ya pukat payang cantrang ini. Bagaimana mereka akan berubah jika kemampuan melautnya ya dengan pukat jenis  ini.

Motor kuhentikan di depan halaman sekolah yang sudah ramai anak anak berbaris hendak melaksanakan  upacara bendera hari Senin itu. Seperti biasa sepulang mengantar anakku aku mampir di warung kopi Lik Karto tempat berkummpulnya para nelayan desaku dan desa tetanggaku.

“Aduh, maunya pemerintah ini kita disuruh melaut paka apa. Gara gara ada larangan pukat cantrang  ini, kita sulit melaut lagi. Bahkan yang lebih parah lagi,  saat bersandar di Bawean atau Kalimantan kita diusir karena dianggap menghancurkan lahan pencaharian mereka, sial..sial…,” ujar Darman seorang juragan kapal payang saat aku tiba di warung Lik Karto.

“Coba ditanyakan ukurannya berapa sih yang menjadikan pukat cantrang kampong kita ini dilarang,” usulku sambil duduk menyebelahinya.

“pemerintah sudah nggak bisa dirembug lagi,” balas Darman seusai  menghisap rokoknya dalam dalam.

“Memang jadi orang kecil ini susah. Berbeda bila yang usul itu konglomerat, pasti akan dipermudah. Semua hal  di negeri ini kan kalahnya dengan uang,” jawabnya makin memuntab.

“Coba saja kau baca dan dengar berita di televisi dan koran; reklamasi, penjualan pulau, pencurian ikan,  semua pelakunya adalah orang berduit. Tak mungkin mereka bila menjalani itu semua tanpa kemudahan dari oknum oknum yang mau disogok, yang tertangkap itu hanya mereka mereka yang apes saja, di luar sana masih banyak,” protes Darman seperti ingin meyakinkan pendengarnya.

Mereka memang layak marah. Meski di kampung kami ada himpunan nelayan sebagai wadah aspirasi para nelayan ke pemerintah tapi pengurusnya lebih banyak bungkam. Dan lagi lagi kebungkaman itu tetap saja disebabkan karena benda satu itu; Uang.

Di negeri yang banyak warganya silau dengan uang maka setiap jalan urusan akan mudah mengalir bila disertai dengan uang. Meski reformasi sudah ahmpir dua puluh tahun tapi cara perilaku hampir tetap sama dengan tokoh tokoh yang berbeda. Buktinya Komisi Pemberantasan korupsi tidak pernah berhenti menangkap koruptor di negeri ini.

Bagi orang kecil seperti aku ini, akses kemudahan urusan sebagai warga negara masih saja sulit. Seringkali aku harus mengalah untuk mereka yang berduit bila ada urusan dengan kantor pemerintah.

Sementara para nelayan masih sibuk berbincang tentang kondisi mereka yang sulit akibat larangan dari pemerintah perihal alat tangkap mereka yang dianggap membahayakan, aku duduk menyimak dan menghirup sisa kopi di cangkirku.  Aku tersadar bahwa istriku tadi memesan lauk saat aku hendak mengantar anakku ke sekolah. Sementara kopiku ini adalah traktiran Darman dan uang di kantong celana hanya tinggal selembar  dua ribuan aku putuskan pulang.

“Mana?...” istriku bertanya

“Hari ini pakai garam saja,” jawabku dengan muka penuh rasa bersalah.

Artikel Terkait