Pesawat Neil Armstrong (Ryan Gosling) terpantul ke luar angkasa dalam sebuah uji coba penerbangan. Uji coba itu dilakukan di gurun Majove, tahun 1961. Insiden itu cukup membuatnya “didaratkan” sementara. Adegan awal First Man relatif sempurna menyajikan ketegangan film fiksi sains. Walaupun adegan semacam itu tidak akan memenuhi seluruh film.

First Man mengisahkan kehidupan Neil Armstrong. Sutradara Damien Chazelle mengambil sudut pandang personal kehidupan Armstrong dari tahun 1961-1969. Periode sebelum hingga dia sampai menjadi manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan.

Hampir di sepanjang film, penonton disuguhi drama hubungan Neil dengan istrinya Janet (Claire Foy) dan anak-anaknya. Berikut relasi personal Neil dengan kolega dan sahabat-sahabat. Di sini, penonton akan mendalami dinamika kehidupan Armstrong sebelum menjadi pahlawan dunia.

Tentu saja, drama gabungan kerapuhan, ketenangan, dan duka cita Neil menjadi sajian utama First Man. Josh Singer, penulis naskah, mengadaptasikan film ini dari biografi berjudul First Man: The Life of Neil Armstrong karya James R Hansen.

Drama personal yang ditampilkan dalam First Man cukup sensitif dan simpatik. Perjalanan ke luar angksa, khususnya ke bulan, tidak tampak sebagai perjalanan yang penuh kegagahan. Mengunjungi rekan yang meninggal, ruang-ruang sempit dalam tabung pesawat menjadi keseharian para astronot.

Kita juga bisa menebak-nebak, apakah kematian putri Neil saat berusia tiga tahun yang menjadi motivasi kuatnya pergi ke bulan? Kedukaan mendalam dan kemunculan almarhum putrinya dalam bayangan Neil seolah menandakan itu. Sekalipun tidak terkatakan secara eksplisit.

Adegan akhir yang disajikan dengan teknik pengambilan gambar jarak dekat benar-benar berkesan. Penonton disajikan adegan yang dipenuhi oleh tatapan dan ekspresi kuat, tanpa banyak dialog. Walaupun ritme drama dari tahun 1961-1965 terasa lambat.

Ketiadaan adegan duet Neil dan Edwin "Buzz" Aldrin (Corey Stoll) mengibarkan bendera Amerika Serikat di bulan mungkin menimbulkan kontroversi nasionalisme bagi kaum konservatif di Amerika. Namun, First Man betul-betul menunjukkan sisi manusiawi universal.

Neil Armstrong, Edwin Aldrin, dan personil profesional NASA lainnya, dalam First Man, terasa bekerja sebagai manusia profesional biasa. Konteks persaingan dengan Uni Soviet dalam situasi Perang Dingin memang tak terhindarkan dan memang harus dijelaskan. Walaupun demikian, aroma glorifikasi Amerika Serikat masih cukup wajar terasa.

Kelebihan utama First Man terletak pada keberhasilannya menampilkan sisi manusiawi Neil Armstrong. Bukan cuma Neil, tapi juga kecemasan keluarga astronot, keinginan para istri untuk hidup “normal”. Kehilangan sahabat dan kolega kerja, mabuk udara, wajah yang kotor, dan risiko kematian yang akan menimpa mereka setiap bertugas sudah jadi keseharian para astronot.

Astronot, dalam First Man, tidak digambarkan sebagai profesi heroik dan membanggakan. Sebaliknya, astronot digambarkan sebagai profesi yang amat rentan. First Man menunjukkan betapa kelalaian kecil dan kesalahan yang tidak dapat diantisipasi dapat menghilangkan nyawa para profesional terbaik. Sekaligus membuat istri mereka menjadi janda dan anak mereka menjadi yatim.

Para astronot NASA yang berjasa bagi peradaban dunia tergambarkan manusiawi seperti keluarga atau tetangga sebelah rumah kita dengan segela kerentanan mereka. Sutradara Damien Chazelle dengan unik tidak menggambarkan mereka sebagai pahlawan Amerika Serikat yang gagah berjasa.  

Ryan Gosling bermain relatif tak bercela dalam menampilkan sisi personal Neil Armstrong. Di satu sisi, Neil dalam tampilan Gosling meyakinkan sekali sebagai sosok cerdas, sederhana, tenang, dan mampu menahan diri.

Kecerdasan dan ketenangan menjaga konsentrasi memang penting sekali bagi seorang astronot saat menghadapi situasi sulit. Situasi di mana bagi kebanyakan orang dapat membuat panik seketika. Di sisi lain, Gosling juga sukses menampilkan gangguan psikologis, ambisi, dan rasa penyesalan Neil setelah kematian putrinya. Perhatikan saja saat Neil menyendiri meneropong bulan.

Claire Foy menampilkan akting yang mampu mengimbangi Gosling. Sebagai Janet, istri pertama Neil, Foy benar-benar meyakinkan menampilkan kecemasan istri seorang astronot. Sekaligus dukungannya pada Neil. Adegan akhir betul-betul melengkapi peran nyaris tanpa cela Foy sebagai istri astronot Neil Armstrong. Sementara aktor dan aktris lain bermain cukup aman. 

Komposisi musik Justin Hurwitz sangat mengesankan. Aransemen musik klasik saat Neil melihat obyek angkasa berhasil membangkitkan rasa kagum pada semesta. Sedangkan komposisi suara saat pendaratan benar-benar terasa megah.

Departemen sinematografi yang dipimpin Linus Sandgren menghipnotis penonton dengan gambar-gambar yang mewah kala menyajikan keindahan alam semesta. Sudut kamera dalam jarak dekat pada adegan-adegan di dalam kokpit pesawat mampu membuat penonton merasakan sesak dan panas yang dirasakan para astronot. Teknik kamera close-up saat adegan drama mampu membenamkan penonton ke dalam emosi setiap karakter.

Secara keseluruhan, First Man akan membayar lunas tiket bioskop Anda. Film ini berhasil mengkesplorasi sisi personal Neil Armstrong yang cerdas, tenang tapi juga mengalami gangguan psikologis. Sekaligus membuat penonton kagum pada keindahan semesta. Masuk akal saja bila First Man masuk nominasi Academy Award untuk penyutradaraan, cerita, sinematografi, dan musik. [B+]

First Man Official Trailer