Mahasiswa
1 minggu lalu · 394 view · 5 min baca · Budaya 49512_90002.jpg
Inkcinct

Negeri Pemuja Simbol

Garuda gagah menaungi bumi pertiwi dengan 5 prinsipiel yang menjaga harmoni bermacam-macam elemen di dalamnya. 5 prinsipiel tersebut merupakan impian terdalam manusia nusantara, yang digali dan dirumuskan menjadi identitas dari masyarakat yang (konon) berbudaya ini.

Sila pertama melambangkan zat yang diyakini dan dipegang teguh sebagai pedoman bagi seluruh rakyat. Tuhan, nama-Nya menduduki tingkat paling atas, menaungi keempat sila di bawahnya.

Kata guru saya, tanpa keempat sila di bawahnya, sila pertama hanyalah pajangan semata; tidak ada artinya sama sekali. Mengapa demikian? Tanpa kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan, Tuhan hanyalah candu bagi rakyat; sabdanya hanyalah ganja yang menenangkan para pecandu yang tidak sadar bahwa mereka sedang dibius.

Dilihat dari identitasnya, negeri ini sangat menjunjung tinggi keadilan pula. Kalimat "Adil" menduduki 2 sila sekaligus: kemanusiaan yang "Adil" dan ke-Adil-an sosial. Sungguh diberkati penduduknya yang menjunjung tinggi keadilan sebaik ini dan tetap dalam naungan Tuhan.

Teruntuk rakyat kecil, mereka sudah dijamin dengan sila terakhir, yaitu keadilan sosial. Ingat, tanpa keempat sila, Tuhan hanya pajangan; dan sila terakhir berarti fondasi yang menopang keempat sila di atasnya. 

Maka berada di urutan terakhir bukan berarti dikesampingkan, melainkan untuk membuktikan bahwa Tuhan yang namanya dipinjam di sana bukan sekadar dipajang untuk menjaga kepercayaan rakyat, melainkan dasar dari keempat sila di atasnya yang (konon juga) merupakan jati diri masyarakat.


Sebelum beranjak pada kemanusian, dibutuhkan persatuan terlebih dahulu. Kemanusian akan terancam jika timbul perpecahan dalam tubuh masyarakat. Keadilan sosial dan musyawarah yang berada di bawahnya tentu akan melahirkan persatuan jika benar-benar diamalkan.

Dengan keadilan sosial yang terjaga, melalui musyawarah yang adil dan beradab, persatuan pun terjaga dan makin erat ikatannya, dan di situlah kemanusiaan benar-benar bisa diprioritaskan. Kemanusiaan akan mengetuk hati tiap individu, persatuan yang baik pun ikut menjaganya. Dalam suasana harmoni semacam inilah Tuhan benar-benar menunjukkan wujudnya: keharmonisan.

Negeri yang percaya akan keharmonisan, dengan filosofinya yang luhur, beragam suku dan budayanya turut mewarnai negeri ini. Sejarah panjang perjuangan para pendahulu pun tak sia-sia rasanya. Indah sekali rasanya jika konsep negeri ini kita bawa ke dalam ranah filosofis, mengajaknya bermain dengan angan dan menemukan mimpi yang terkandung di dalamnya.

Ternyata kita telah menemukan mimpi itu, bukan? Dan ya, ia tadi itu mimpi. Mimpi yang selamanya dalam mimpi. Mimpi yang dijaga untuk terus diceritakan pada anak-anak kita, untuk menanamkan rasa cinta terhadap tanah airnya. 

Bocah yang beruntung akan terus mempertahankan mimpi itu hingga menjadi bagian dari aparat dan angkatan bersenjata, demi menjaga simbol dengan mimpinya yang terus diimpikan.

Bocah lainnya akan tumbuh dan berhadapan dengan realitas yang berbeda. Persaingan, keuntungan, nama, pengaruh, dan uang melenyapkan mimpi dan mengkompromikan fakta bahwa mimpi tidak berpihak pada realitas; tidak ada pula yang perlu diperjuangkan untuk itu; bertahan hidup adalah yang terpenting.

Beberapa dari mereka mampu mengemban tugas untuk mewujudkan mimpi itu. Dengan sumpahnya di bawah naungan kitab suci, jiwa mereka dipertaruhkan pada Yang Maha demi mimpi dan simbol yang masih berdiri dengan kokoh.

Tapi semua tahu itu, semua sadar dengan fakta bahwa perjuangan terdahulu telah berlalu. Dunia bukan lagi tentang perebutan kemerdekaan. Dunia kini adalah tentang kerja keras mengejar kemapanan, bertahan hidup dengan mencari keuntungan, dan sebisa mungkin berperilaku baik, serta tersenyum walaupun itu hanya formalitas.

Urusan lainnya, serahkanlah pada penguasa. Mereka tahu apa yang harus dilakukan. Jika ketidakadilan merajalela, itu hanyalah konsekuensi. 


Yang penting gedung kita jangan kalah tinggi dengan mereka yang di seberang. Wajah kota-kota kita harus bersinar seperti Tokyo. Kita jangan pernah ketinggalan trend, terus bersaing hingga kekayaan menumpuk. Yang tersingkir adalah konsekuensi dan mereka harus berjuang untuk bangkit.

Mereka yang tersingkir pun sadar diri, mereka terlahir dengan kapasitas yang berbeda. Lakukan saja apa yang bisa dilakukan. Yang terpenting adalah tetap hidup. 

Dunia sudah begini adanya. Sistem demikian sah-sah saja. Mereka sadar bahwa mereka tak cukup cerdas untuk terjun dalam dunia persaingan skala besar. Mereka cukup bersaing mengejar dan menjaga nama baik.

Dunia sudah begini adanya, begitu pula kata kelima pemuka agama yang bermandikan harta. Simbol dari perpanjangan tangan sosok yang dipinjam nama-Nya di sila pertama pun sadar akan itu. Namun mereka tetap setia mengawal mereka yang tersingkir. Kaum miskin yang rapuh pun tak pernah luput dari doa mereka.

Demi penyegaran itu, kaum miskin rela memeras dompet keringnya, asalkan sabdanya mampu menyemangati hidup mereka. 

Dunia sudah begini adanya, kurang lebih begitu inti dari retorika berapi-api mereka. Tak lupa juga kaum miskin seluruh dunia didoakan oleh mereka, di dalam rumah mewah dan hangat miliknya, sambil membangun gedung-gedung mewah lainnya yang disematkan pula nama-Nya.

Garuda itu masih kokoh, dihormati dengan rutin, dipuja sebagai kewajiban. Kelima simbol perpanjangan tangan dari Tuhan pun masih mengawal manusia agar tak tersesat di jalan setan. Setan yang memanjakan nafsu manusia, melalui wanita, harta, takhta. Yang melahirkan sifat angkuh, iri hati, tamak, amarah, rakus, dan malas. Malas untuk bertindak, malas untuk belajar, malas untuk peduli. Semuanya masih disuarakan, sambil bermandikan uang hasil memperdagangkan nama Tuhan.

Jangan sampai seorang pun mempertanyakan hal yang tak perlu dipertanyakan tentang mereka. Sama saja bunuh diri. Atau setidaknya nama baikmu yang kau bunuh. Bukan mereka pula yang ditakuti, nama mereka terlalu suci untuk ditakuti. Namun mereka punya pengikut yang akan menginjakmu hingga tak berbekas-bekas.

Sama halnya dengan kelima sila yang terpajang. Jangan sekalipun kau pertanyakan mengapa semuanya tak sesuai dengan yang diimpikan. Sedikit memplesatkannya pun bisa membuatmu tersingkirkan atas nama persatuan.


Sebab negeri ini telah merdeka, dan kemerdekaan ialah hak segala bangsa kata mereka. Hanya saja, mereka yang tak tahu berterima kasih selalu berusaha untuk memutar balik sejarah demi mengesahkan tindakan separatis. Mereka pikir mereka mampu hidup tanpa negeri yang kaya raya ini.

Kaum miskin cukup diyakinkan dengan sumpah para penguasa ketika dilantik. Ketika kepercayaan mereka mulai pudar, meminjam sabda Tuhan dalam tiap kampanye akan sangat membantu. Terlebih lagi jika para wakil Tuhan yang kaya raya itu bersanding dengannya.

Tapi kami tetap berdiri dengan bangga. Selama simbol-simbol itu masih kokoh, selama itu pula kebenaran masih tegak. Kebenaran tanpa simbol-simbol itu hanyalah palsu, bukan? 

Kami pun tak mampu hidup tanpa doa dari mereka. Kami terlalu kotor untuk dirahmati oleh Tuhan hingga kami tetap miskin sampai kini. 

Kami juga terlalu bodoh untuk bisa mengatur hidup kami sendiri tanpa campur tangan dari mereka, yang begitu karismatik tiap kali tampil di hadapan kami. Kami yang miskin dan rapuh ini harus tetap patuh pada mereka agar tidak tersesat dalam kebingungan. Terima kasih.

Artikel Terkait