Banyaknya kendaraan di negeri merupakan bentuk konsumerisme masyarakat yang semakin meningkat, rasa gengsi serta kemanjaan masyarakat, di mana-mana mau ke mana-mana harus memakai kendaraan baik itu roda dua maupun roda empat, sehingga hampir semua masyarakat mengeluhkan kemacetan jalan.

Tetapi masyarakat dan pemerintah seakan-akan tutup mata atas masalah ini, cerita kemacetan ini membuat masyarakat resah sungguh mengganggu aktivitas namun yang membuat kemacetan ini ternyata masyarakat itu sendiri yang membanjiri jalan raya baik dari angkutan umum, pribadi, sepeda motor.

Tanpa disadari bahwa akibat dari konsumerisme adalah ternyata membuat kemacetan kota yang semakin parah terbukti, di jakarta sendiri Polda Metro Jaya mencatat jumlah kendaraan roda dua adalah 2,4 juta dan jumlah kendaraan roda empat adalah 3 juta, hampir mengimbangi jumlah penduduk dan rata-rata tiap hari kendaraan bertambah 200 unit.

Banyaknya mobil pribadi dan sepeda motor bisa dilihat dari tingkatan pembeli kendaraan, ternyata Indonesia salah satu konsumen terbesar akan kendaraan roda dua dan roda empat di dunia, belum lagi di jalanan ditemukan pedagang kaki lima dan asongan yang tidak  teratur, serta anak jalanan yang sangat mengganggu aktivitas di jalan raya, apa boleh hendak di kata masyarakat melakukan semua ini karena kesenjangan sosial dan kemiskinan yang semakin merasuki republik ini dengan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat.

Pemerintah sudah melakukan upaya untuk mengurangi kemacetan dengan membuat UU lalu lintas namun praktiknya masih kurang di mana masih banyak masyarakat yang belum menaati aturan dan rasa kompromis masyarakat dan penegak hukum, sehingga mengurangi konsistensi UU atau aturan  tersebut, ditambah lagi keserakahan masyarakat yang tidak lagi bersumber sesuai dengan kebutuhan tetapi hanya menunjukkan bahwa dia adalah orang kaya dan rasa gengsi yang sangat tinggi.

Masalah baru datang dalam transportasi darat adalah perseteruan antara transportasi konvensional dan transportasi online. Macet adalah penyebab perubahan gaya transportasi yang memberikan pelayanan yang nyaman dan murah yaitu transportasi online. Masalah transportasi konvensional dan online adalah bentuk kekesalan dalam penataan transportasi darat di negeri ini.

Gaya hidup masyarakat dari kalangan anak-anak sampai orang tua menciptakan bisnis baru yang serba instan muncul transportasi darat online seperti (Gojek, Gocar, Grab dan lain-lain) keberadaan transportasi online sangat menggangu pendapatan transportasi konvensial. kalau kita mencari masalahnya maka kesalahan di dalam transportasi darat adalah pemberian izin transportasi online darat, memang benar saya juga risih melihat transportasi online merampas kekuasaan transportasi konvensinal.

Bila kita melihat transportasi laut dan udara, kekuasaan meraka tidak dirampas, kekuasaan tetap ada hanya mereka dibantu dengan online dalam sarana dan prasarana, Seperti (penjualan tiket, manajemen dan pengorgansasian yang lebih modern).

Seharusnya transportasi darat online pun harus begitu, jangan malah mengambil haknya transportasi konvensional, karena pada dasarnya transportasi darat konvensional adalah mata pencaharian kalau transportasi online hanya tambahan dan ngiseng” jadi perlu penataan antara transportasi konvensional dan online.

Dalam tulisan ini bukan saya tidak suka dengan transportasi online, namun marilah teknologi online dibuat untuk membantu transportasi konvensional supaya tercipta sinkronisasi yang saling menguntungkan. Pemberdayaan tukang becak, ojek, supir angkot dan lain-lain membutuhkan manajemen yang berbasis teknologi sehingga meningkatkan taraf hidup orang banyak.

Bila dilihat masalah kemacetan bukan hanya karena banyaknya kendaraan tetapi  jalan yang digunakan pun banyak yang berlobang dan tidak terpelihara sehingga menggangu aktivitas di jalan raya, pemerintah selalu meminta pajak kendaraan tetapi masalah jalan berlobang belum bisa terselesaikan, macet yang tak kunjung selesai membuat masyarakat jenuh.

Ditambah lagi para pengguna jalan yang tidak disiplin dan tidak teratur dengan tabiat pengguna jalan yang hanya memikirkan dirinya sendiri, sehingga dalam mewujudkankan UU No 14 tahun 1992 (mewujudkan lalu lintas yang aman, teratur, disiplin dan selamat hanyalah mimpi.

Apa lagi iring-iringan mobil pejabat tinggi negara yang harus menerobos jalan anti macet yang mengganggu angkutan umum, dimana para pejabat di negeri harus di lindungi setiap melewati jalan raya berbeda dengan presiden timor leste yang dia sendiri yang menyetir mobilnya tanpa di iring-iringi, melihat kondisi ini ternyata diskriminasi di republik ini masih parah.

Tidak bisa dipungkiri memang bahwa negeri ini masih merupakan negeri yang kasihan. Akankah kita membiarkan jalan raya di negeri ini macet terus? Saya pikir harus ada solusi untuk perbaikan ke depan di mana peraturan lalu lintas harus diperbaiki dan diperketat, hilangkan rasa kompromis terhadap peraturan serta pemerintah harus membuat kebijakan di mana setiap keluarga misalnya memiliki satu kendaraan pribadi.

Solusi yang lain adalah transportasi masal, sehingga dapat mengurangi jumlah kendaraan di jalan raya. Ini semua bisa terwujud kalau masyarakat dan pemerintah dapat bekerja sama dengan baik  untuk mengurangi kemacetan di negeri ini.

Di samping kesadaran masyarakat akan pentingnya menaati peraturan dan menjaga lingkungan hidup yang semakin hari semakin merusak lapisan Ozon akan asap-asap yang dihasilkan kendaraan. Dengan kemacetan membuat negeri ini mandek, ternyata bukan hanya macet di jalan raya lagi tetapi di berbagai bidang negeri ini sudah mengalami kemacetan berbagai solusi telah dilakukan tetapi belum bisa menjawab kemacetan yang ada.

Macet sudah menghiasi republik ini hampir dari sabang sampai merauke, macet merasuki negeri ini mulai dari macet ekonomi, macet listrik, macet kebutuhan pangan, macet pendidikan dan lain-lain. Sampai kapan kita mampu mengatasi masalah yang demikian kompleks yang tak kunjung selesai inilah yang membuat negeri ini mandek.