Peneliti
2 tahun lalu · 893 view · 6 menit baca · Pendidikan gurrrruuuu.jpg

Negeri Ini Butuh Guru Inspiratif Bukan Guru Kurikulum

Libur panjang (long week end) di penghujung tahun 2016 melambai-lambaikan tangannya tepat di depan mata, khususnya bagi para pelajar dan mahasiswa Indonesia, setelah mereka berjuang keras melewati Ujian Akhir Semester Ganjil (UAS).

Kira-kira satu pekan, bahkan ada yang lebih, mereka telah bertarung dengan masa depannya, bergelut dengan soal-soal yang mesti dijawab dengan tepat dan benar. Satu asa : “nilai bagus dan memuaskan” bagi para pelajar. “IP 4.00 atau minimal lulus mata kuliah”, bagi mahasiswa.

Di balik semua itu, ada situasi yang berbeda. Sebuah kondisi dilematis dirasakan sebagian para pengajar, khususnya guru. Pasalnya, hasil kerja keras sebagian peserta didiknya tidak sesuai harapan guru, yaitu nilainya tidak mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Padahal idealnya, seluruh peserta didik harus mendapat nilai di atas KKM. Artinya mereka harus lulus semuanya, 100%. Segala jurus untuk mencapai KKM tersebut sudah dicoba, mulai dari kegiatan pengayaan, remedial, pemberian tugas, dan seterusnya tetapi ada sebagian peserta didik yang nilainya tak berubah. Bahkan ada kasus yang sangat ironis dan dramatis, setelah dilakukan remedial, nilainya bertambah anjlok.   

Menyoal nilai yang harus di atas KKM atau setidaknya sama dengan KKM adalah PR berat bagi seorang guru, apalagi jika nilai hasil peserta didik masih berada di bawahnya. Kasus ini adalah lagu lama yang terus berulang diputar di setiap akhir semester.

Setiap semester kasusnya berkutat pada hal yang sama; nilai atau angka yang tak bisa dicapai oleh peserta didik. Entah materi pembelajarannya itu terlalu sulit dipahami oleh mereka atau metode mengajar sang guru yang tidak tepat atau ada faktor lain penyebabnya. Apalagi saat ujian kenaikan kelas (UKK), permasalahannya lebih beragam dan kompleks.

Bagaimana kemudian menyiasatinya? “Banyak jalan menuju Roma”, demikian kata pepatah. Salah satu caranya dengan mengatrol angka. Strategi tersebut paling ringan, mudah dan  jitu untuk dilakukan. Dalih apapun bisa dijadikan pembenaran atas kasus tersebut. Peserta didik merasa senang dan gurupun seakan bersikap arif karena telah “berhasil” mengantarkan peserta didik ke gerbang masa depannya dengan memberi angka aman. 

Dalam konteks peristiwa di atas, saya tidak ingin masuk pada wilayah “benar atau salah” apa yang dilakukan oleh seorang guru demikian. Karena pasti akan terjebak pada perdebatan panjang yang rumit. Setiap pekerjaan yang dilakukan selalu dibuntuti argumentasi pembenaran yang melatarbelakanginya.

Sebagaimana artikel yang pernah saya tulis di portal ini “Pendidikan Kita Berselingkuh dengan Politik?” (14/12) ada semacam perselingkuhan antara pendidikan dengan politik. Sehingga petanya bisa saya gambarkan demikian : Jika peserta didik nilainya tidak mencapai angka KKM maka akan banyak yang tidak naik kelas, sedangkan Kepala Dinas Pendidikan “tidak memperbolehkan” peserta didik tinggal kelas alias tidak naik.

Apabila terjadi demikian, konsekuensinya Kepala Sekolah siap-siap dimutasi ke zona merah atau ekstrimnya akan turun jabatan. Kondisi demikian dibaca oleh Kepala Dinas Pendidikan sebagai kinerja buruk bagi Kepala Sekolah. Sang Kepala Sekolah tidak mau nasibnya terpelanting, maka ia mengimbau kepada dewan guru untuk memberi nilai yang pantas, minimal setingkat KKM kepada peserta didiknya apapun alasannya, agar “kursi”-nya juga aman. Sungguh, idealisme seorang guru diuji dalam konteks ini.

Persis seperti ungkapan Taufiq Ismail dalam puisi “Takut 66, Takut 98”

Mahasiswa takut pada dosen/Dosen takut pada dekan/Dekan takut pada rektor/Rektor takut sama menteri/Menteri takut pada presiden/Presiden takut pada mahasiswa/ 1998

Puisi di atas adalah cermin sebuah jabatan, dimana semakin tinggi jabatan seseorang maka ia akan tunduk dan takut kepada atasan. Jika di sekolah berarti; guru takut pada kepala sekolah, kepala sekolah takut pada kepala dinas, kepala dinas takut sama bupati atau walikota, dan seterusnya dan seterusnya.

Guru Kurikulum dan Guru Inspiratif  

Keruwetan pendidikan kita seperti benang kusut. Dari mana kita akan mulai mengurainya? Saya akan jawab dengan satu kalimat “Dari manapun kita bisa mengurainya!”. Jangan menunggu kebijakan ini-kebijakan itu, UU ini -UU itu, peraturan menteri ini-peraturan menteri itu dll. Kita bisa memulainya dari mana yang kita mampu.

Saya ingin memulai mengurai benang kusutnya dari “guru”. Saya masih ingat apa yang dikatakan oleh Rhenald Kasali, Guru Besar UI dalam bidang ilmu manajemen. Beliau membagi guru menjadi dua (2) kategori : Guru Kurikulum (GK) dan Guru Inspiratif (GI)  

Pertama, GK adalah tipe guru yang sangat patuh pada kurikulum. Ia akan merasa berdosa jika tidak bisa memindahkan seluruh isi buku yang ditugaskan. Ia juga mengajar sesuai dengan standar, tak akan terlepas dari bahasan yang termaktub dalam buku pelajaran (habitual thinking). Ia juga berorientasi pada angka nilai (numbers oriented) dalam  mengajar. GK ini sangat banyak dan besar  jumlahnya, hingga mencapai 99%.

Kedua, GI adalah tipe guru yang bukan mengejar kurikulum, tapi ia mengajak peserta didiknya berpikir kreatif (maximum thinking). Ia juga mengajak melihat dan berpikir sesuatu di luar objeknya (thinking out of the box). Jumlah GI ini adalah sisa dari jumlah GK, hanya 1%.

GK dan GI, dua-duanya sangat diperlukan. GK diperlukan untuk validitas internal dan GI dibutuhkan untuk validitas eksternal dalam menjelajahi ilmu pengetahuan. Sangat disayangkan, sekolah kita, hari ini, hanya mengakomodasi guru kurikulum. Padahal, eksistensi suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh Guru Inspiratif.

Bayangkan dan pikirkan secara saksama: cara mana yang lebih cepat menyelesaikan krisis multidimensi bangsa ini; apakah memakai solusi kreatif dan cara berpikir di luar kotak (cara GI) atau memakai solusi kaku, yang dibatasi ini-itu, kebijakan ini-itu untuk kepentingan ini-itu dan sejenisnya (cara GK)? Saya kira semua pasti akan memilih cara Guru Inspiratif, karena lebih cerdas, rasional, efektif dan praktis.

Jika pendidikan kita masih berkutat pada angka-angka KKM, agar peserta didiknya, sebanyak-banyaknya, bisa masuk perguruan tinggi favorit melalui jalur undangan lewat Pangkalan Data Siswa dan Sekolah (PDSS) dalam rangka pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Nasional (SNMPTN), maka selama itu “kucing-kucingan” atau bermain angka tak bisa dihindari di sekolah.

Angka dalam rapot peserta didik “dihalalkan” untuk dikatrol demi cita-cita peserta didiknya bisa masuk jurusan favorit di kampus favorit juga. Dengan demikian orang tua peserta didik akan merasa senang, begitu juga sekolah, sebagai lembaga pendidikan, bisa berbangga jika lulusannya tembus di perguruan tinggi terkenal, favorit, hebat dan bergengsi. Hasrat semu yang justru merendahkan harga diri anak bangsa dan pendidikan itu sendiri.   

Sama kasusnya dengan Ujian Nasional (UN). Lulus dan tidaknya peserta didik dalam UN ditentukan hanya oleh angka mati. Sehingga banyak cara tercela dilakukan hanya untuk mendapat nilai tersebut agar bisa lulus akhirnya.  

Pendidikan kita dari awal sudah melenceng dari tujuan idealnya, yang termaktub dalam UU 20/23 tentang sitem pendidikan nasional, pasal 3: “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yangdemokratis serta bertanggungjawab”.

Mari kita kembalikan gerbong pendidikan yang tergelincir ini ke rel kereta api semula, yang lurus dan benar. Rel tersebut adalah media atau alat yang akan membawa anak bangsanya ke stasiun harapan. Dimana proses menuju stasiun tersebut dicapai dengan cara-cara terpuji, cara-cara beradab. Ia membeli tiket sesuai jurusan, berangkat sesuai waktu yang telah ditentukan, menunjukkan tiketnya saat pemeriksaan dan dijamin tibanya pun akan tepat waktu.   

Guru-Guru Inspiratif (GI) memang kini belum populer di negeri kita, tapi peranannya sangat penting dan dibutuhkan negeri ini. Bacalah kisah sukses Erin Gruwell, ia menjadi Guru Inspiratif yang sangat hebat dalam dunia pendidikan.

Perlu perjuangan keras untuk menjadi Guru Inspiratif (GI) ini, karena ia telah memperbaharui metode pengajaran agar peserta didiknya menjadi lebih artikulatif. Peserta didiknya senang, belum berarti kepala sekolah, guru-guru yang lain juga ikut senang. Mungkin mereka merasa terganggu oleh penyajian pengetahuan di luar kurikulum yang sudah baku.

Nasib Guru Inspiratif tak senyaman Guru Kurikulum. Sewaktu-waktu bisa saja namanya dicoret dari daftar pengajar karena penolakan dari atasan - baik itu oleh kepala sekolah, atau pengawas sekolah, khususnya, yang merasa punya kewenangan lebih dalam menilai dan mengawasi satuan pendidikan - karena tidak sesuai dengan kurikulum yang berlaku kini, dimana acuan bakunya adalah Kurikulum Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Tantangan paling besar bagi Guru Inspiratif adalah Guru-guru Kurikulum yang kaku, yang sudah terperangkap dalam kompetensi masa lalu. Guru Inspiratif dianggap sebagai ancaman berbahaya yang akan mengganggu eksistensi “pendidikan nasional” yang terlanjur sudah diamanatkan kepada Guru-Guru Kurikulum sebagai pemegang kendali pendidikan.

Jika pemerintah mau dan menyadari betapa pentingnya eksistensi Guru-guru Inspiratif di negeri ini, berilah ruang yang leluasa bagi Guru-guru Inspiratif untuk membuktikan bahwa mereka bisa menjadikan pendidikan bangsa ini lebih hebat dan bermartabat yang tidak berorientasi an sich pada nilai dan angka-angka manipulatif. Hidup Revolusi Pendidikan!