“Meet on the cloud.” Alleta, seorang gadis asal Bandung memberi kode merah pada kotak pesan laman Facebookku. Kira-kira pukul 21.40, aku masih mengaktifkan ruang kerja Facebook. Dalam daftar obrolan – yang semula kira-kira ratusan yang aktif – kini berangsur-angsur memadam. 

Tak banyak lagi yang hidup. Ada penanda memberitahukan, tiga menit yang lalu, satu jam yang lalu. Tinggal beberapa warganet yang asyik selancar. Rupanya mereka memilih hijrah ke dunia “cyber” karena kesepian atau jenuh di dunia nyata.

“Hy, met malam.”

“Hy, mlm juga!”

“Lom tdr, ya?” sahut Alleta membuka percakapan baru.

“Kayaknya sih. Mangnya knp?” sahutku kepo.

 “Ngapa’in aja, mlem2 gini, smp lum tdr?”

“Nyari temen curhat nih!”

“Aku mau koq, jadi ruang sampahx, wkwkwkw,” Alleta meyakinkanku.

Sebenarnya, aku hanya iseng untuk mengatakannya demikian. Akan tetapi, karena direspon aktif, obrolan pun berlanjut. 

Singkat kisah, Alleta dan aku berkenalan lebih dalam. Aku menganggap Alleta sebagai sahabat baru di dunia maya. Sekali-sekali kita perlu masuk dalam kebiasaan warga dunia maya. Setiap kali kubuka laman facebookku, kotak pesan selalu memberi kode merah. Ketika dicek, eh ternyata Alleta.

Alleta begitu perhatian sama aku. Kami berdua sering membahas tema-tema seputar kuliah, wisata, bahasa Inggris, dan dunia buku pada branda pesan. Banyak sebenarnya! 

Tapi, ya perlu ditahan-tahan dulu. Alleta orangnya lugu, polos, manis, ya, pokoknya almost perfect deh. Dia juga orangnya baperan. Aku sih ngga nyangka, kenapa ya, kok dia bisa begitu asyik ketika diajak ngobrol. Dapet gitu “chemistrynya.” Jangan salah, chemistry buat ngobrol maksudnya.

Eh satu lagi, Alleta orangnya perhatian. Ia rajin menanyakan kabarku setiap hari. Karena saking dekatnya, suatu ketika, dalam narasi obrolan, kami sampai pada sebuah ritual pembahasaan isi hati. Kami mengungkapkan perasaan satu sama lain. Untuk apa didekap, toh perasaan selalu mendorongku untuk membuka mulut, untuk menyajikan kata-kata via kotak pesan yang setia menanti. Alleta dan aku jadi satu. Dipertemukan melalui kamar facebook.

Sebagaimana layaknya orang yang berinteraksi di chat-room, kami terlibat obrolan serius. Sering curhat, lempar foto, telfon-telfonan biar relasinya tetap awet. Saling percayalah. Tepatnya komunikasi. Ya memang, media ini sengaja diciptakan untuk membangun komunikasi. 

Facebook bagi saya adalah sebuah bilik komunitas imajiner di cyberspace. Ia menghibur, memberi ruang, mempertemukan, tapi kadang menyayat. Banyaklah dan bervariasi. Dari sekian banyak portal medsos yang ada, saya pikir Facebook masih yang terbaik. Boleh mikir bentar biar masti’in, benar gak omoganku.

Sejatinya, saya hendak menekankan peran ruang ruang maya ini untuk berbagai kebutuhan. Dari sebagai tools komunikasi, menjadi lahan bisnis, hiburan, ruang menjadi bintang, mengejar popularitas, bahkan sampai ke kanal asmara. 

Semuanya mempunyai peluang ruang maya. Dengan kata lain, cyberspace merupakan replika dari sebuah negara demokrasi dimana saya sendiri menjadi pemimpin sekaligus warga negaranya.

Mark Slouka penulis buku terkenal “War of the Worlds: Cyberspace and the High –Tech Assault on Reality” menyebut “cyberspace” sebagai “negeri elektronik maya”. Terdiri atas komoditas swadaya, tak memiliki ruangan, tak tercatat dalam sensus namun dihuni oleh orang dari seluruh penjuru dunia. 

Dengan segala plus-minusnya, aktivitas chatting di dunia cyberspace bisa dibilang kini telah tumbuh menjadi fenomena tersendiri di kalangan para warganet di seantero dunia. Yang membuat chatting begitu cepat populer bisa jadi juga karena tak ada persayaratan khusus bagi seorang yang ingin mencoba masuk ke bilik elektronik itu. Seorang yang ingin nimbrung dalam komunitas ini hanya perlu menyapa “hy” atau “hallo”, lalu dengan segera disahut. Itu aja!

“Cyberspace” menyajikan banyak kemudahan. Gak rumit kalo mau masuk ke “negeri elektronik maya” seperti yang dikemukakan oleh Mark Slouka ini. 

Administrasinya gak ribet. Tidak terlalu birokratis. Tidak butuh KTP atau surat keterangan bebas Covid-19. Kita mudah diterima dengan baik di bilik maya. Untuk menjumpai tertangga baru, ya tinggal nyapa aja. Sekali sapa, Anda langsung disahut dan mendapat reaksi ratusan orang. Gitulah!

Dari sekadar teman, negeri elektronik maya pelan-pelan menggiring kita (user) untuk berperilaku laiknya interaksi non-virtual. Awal mula, seseorang akan membuka jendela peretemanan. Akan tetapi, jendela ini akan dengan mudah memberi sebuah pola interaksi yang lebih mendalam: lari ke persoalan hati.

Maka, negeri elektronik maya, tak sekadar menampung geliat pertemanan. Dalam proses, negeri elektronik maya akan mengantar kita pada masalah hati - dar sekadar teman menuju kencan. Orang tak segan-segan mengekpresikan mood hati kepada sesamanya di dunia maya atas dasar keseringan berkontak. 

Berteman, lalu memilih berkencan. Instruksi ini lahir tanpa komando dan pengawasan pihak security negeri elektronik maya. Identitas seadanya memberikan informasi mendalam mengenai kualitas pribadi yang akan berdomisili, berteman, hingga berkencan di negeri elektronik maya.