To Riaja, demikian asal kata Toraja, salah satu suku besar di Sulawesi Selatan (Sulsel), yang memiliki makna "orang di dataran tinggi". Nama itu diberikan oleh masyarakat yang hidup di dataran rendah seperti Suku Bugis, Makassar, dan Mandar kepada masyarakat yang tinggal di sebuah wilayah dataran tinggi (sekarang Toraja Utara) dan memiliki tradisi, keyakinan, dan kebudayaannya sendiri.

Nama itu juga yang kemudian membentuk identitas kolektif komunitas-komunitas adat di desa-desa yang masing-masing memiliki keunikannya dan hidup terpisah di dataran tinggi, namun memiliki adatistiadat yang relatif serupa. Identitas yang menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa mereka berbeda dengan Bugis, Makassar, dan Mandar. Identitas kolektif tersebut semakin menguat saat Belanda masuk ke wilayah mereka pada awal abad 20, yang berbarengan dengan proses kristenisasi.

Makna "orang di dataran tinggi" dari kata Toraja inilah yang mengundang saya untuk datang ke Puncak Bukit Lempe-Lolai, Toraja Utara. Tempat ini tidak memiliki keterkaitan dengan asal mula Suku Toraja. Lempe-Lolai hanyalah salah satu tempat di Desa Benteng Mamulu di antara tempat-tempat lain di 151 desa di Toraja Utara. 

Meski demikian, saya ingin berada di puncak ketinggian Toraja, ingin menjadi To Riaja di Tanah Toraja walau sekejap, mumpung pekerjaan saya di Makassar selesai lebih cepat satu hari dari agenda.

Dari Negeri di Atas Awan, saya melanjutkan ke obyek wisata Ke'te Kesu', tempat situs sejarah di mana kita bisa menyambangi kebudayaan masa lalu Suku Toraja, dari pemakaman mereka. Setelah itu saya meluncur ke patung megah Tuhan Yesus Memberkati, yang bagi saya bukan hanya objek wisata religi, namun juga sebagai simbol bahwa agama Kristen (dan Katolik) telah mapan di Tana Toraja saat ini, dan dianut oleh lebih dari 80% seluruh masyarakat Suku Toraja.

Sebenarnya perjalanan bus dari Makassar ke Toraja hanya membutuhkan waktu sekitar 8 jam. Tapi sialnya, bus-bus malam itu memiliki waktu istirahat di rest area lebih dari satu jam, di beberapa titik. Meski bus mulai berangkat jam 8 malam, sampai Toraja tetap di atas jam 5 pagi.

Saya turun di pertigaan/jembatan ke arah Lolai, Toraja Utara, tepat pada pukul 6 pagi (06/10). Matahari sudah menyingsing. Sedangkan jarak dari tempat saya turun dari bus ke tempat tujuan "Negeri di Atas Awan" Bukit Lolai hingga 4-5 KM dengan jalanan mendaki, kadang curam. Padahal alangkah sempurnanya jika sampai tujuan sebelum matahari terbit.

Lebih sial lagi, belum ada ojek yang mangkal. Di atas pukul 6 saya baru mendapatkan ojek. Tarif ojek pulang-pergi Rp80.000, dan tiket masuk wisata alam Lempe, Lolai, Negeri di Atas Awan Rp15.000.

Sampai di sana, benar saja, matahari sudah naik jauh meninggalkan batas horizon. Dan awan yang menggantung pun sudah menipis. Entah menipis karena hari itu awan sedang tipis sedari subuh, atau tipis karena dimakan siang. Tapi jika merujuk nama tempat wisata ini, harusnya saya bisa menikmati pemandangan awan yang lebih tebal lagi. Saya pun akhirnya menikmati apa adanya yang tersaji di sana dari ketinggian 1500 mdpl.

Pemandangan luas Tana Toraja dari ketinggian Lempe, sedikit awan yang menggantung antara ketinggian saya berdiri dengan dasar permukaan ngarai dan Tana Toraja, dan hijau pepohonan yang membentang di jauh-bawah, pegunungan dan bukit-bukit, juga hijau perbukitan yang saya lewati saat di atas ojek, serta tawa riang muda-mudi pengunjung lokal yang memadati Lempe di mana berdiri beberapa tongkonan (rumah adat Toraja) Lempe.

Sebagai catatan, jika Anda ingin menikmati sunrise dan awan tebal yang sejajar dengan Anda berdiri atau yang menggantung di antara tempat Anda berdiri di puncak Bukit Lempe Lolai dan dataran Toraja Utara, sebaiknya Anda sudah ada di Toraja di hari sebelumnya. Bermalam di penginapan sekitar tempat wisata Negeri di Atas Awan yang banyak tersedia.

Selain Lempe, di bukit Lolai juga terdapat beberapa titik tempat menikmati ketinggian, jika Anda memiliki waktu yang banyak. Tapi Lolai memang "Negeri di Atas Awan" favorit bagi wisatawan.

Saya turun dari "Negeri di Atas Awan" ke tempat semula naik ojek hampir jam 8 pagi. Menumpang angkot, saya menuju pertigaan yang menghubungkan ke tempat Ke'te Kesu', tujuan saya berukutnya. Dari pertigaan, saya naik ojek dengan tarif Rp10.000 dan membayar tiket masuk Rp15.000.

Ke'te' Kesu' tidaklah seram sebagaimana yang digambarkan orang. Justru sebaliknya. Saya bisa dengan nyaman memanfaatkan kamar mandi umum yang relatif dan bersih untuk mandi pagi, sebelum menyambangi masa lalu Kebudayaan dan Kepercayaan Lokal Toraja, dari situs pemakaman ini.

Ke'te Kesu' adalah sebuah desa. Menjadi tempat wisata dan cagar budaya karena di desa ini terdapat situs pemakaman berusia lebih dari lima abad. Bukan pemakaman yang biasa, karena kita dapat melihat tulang-belulang manusia yang tak berbau disimpan dalam peti kayu (erong) serupa sampan yang diletakkan dan digantung di bebatuan dan langit-langit bebatuan tebing dan ada juga yang disimpan di dalam gua batu. 

Itu merupakan dua di antara tiga metode pemakaman kepercayaan adat Toraja. Cara pemakaman ketiga, yakni dimakamkan di dalam batu berukir, yang biasanya dilakukan terhadap jasad-jasad bangsawan.

Selain mata telanjang, kita dapat melihat tengkorak-tengkorak manusia yang tersimpan di dalam erong dan di atas batu-batuan. Di sana juga terdapat tongkonan-tongkonan dan lumbung padi (alang) yang berjejer indah dan berusia di atas 300 tahun; terdapat beberapa tongkonan yang menjadi tempat dimakamkannya bangsawan-bangsawan Toraja, lengkap dengan patung-patung replika (tau-tau) mereka.

Jika Anda ingin membeli oleh-oleh khas Toraja, tempat ini terdapat puluhan kios menjajakan oleh-oleh, dari pakaian, ikat kepala khas Toraja, pernak-pernik, ukiran, hingga replika mini tau-tau. Dengan barang-barang yang sama, kios-kios di sana memasang harga lebih murah daripada toko-toko oleh-oleh di Makassar.

Selepas menikmati kopi khas Toraja dan makan siang dengan menu daging pamarasan, lepas tengah hari, saya meluncur ke ibu kota Kabupaten Tana Toraja, Makale, untuk menuju Patung Tuhan Yesus Memberkati.

Patung Yesus Memberkati ini adalah salah satu patung Yesus tertinggi di dunia. Patung ini berdiri di atas sebuah bukit setingi 1.700 meter di atas permukaan laut dan memiliki tinggi badan sekitar 45 meter. Ia ada di Buntu-Burake, Kabupaten Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. 

Tempat wisata religi yang menghabiskan dana pembangunan sebesar Rp30 miliar dan dibuat oleh seniman asal Yogyakarta bernama Supriadi, dibantu dengan tim pengecor perunggu yang dipimpin oleh Wardoyo Suwarto ini, belum 100% jadi, masih proses pembangunan. Tapi sudah bisa dikunjungi, dengan tiket Rp10.000.

Saya belum beruntung saat ke sana. Karena lantai kaca yang saat kita pijaki tembus pandang ke bawah jauh jurang, belum bisa dinikmati, belum boleh dipijaki, meski sudah selesai pembangunan.

Meski demikian, saat ini pengunjung sudah bisa menikmati megah, besar, dan tingginya patung Yesus Memberkati. 

Selain itu, karena posisinya di bukit, dari tempat wisata ini, wisatawan juga dapat menikmati keindahan alam Toraja dengan jarak pandang yang luas di segala arah. Kita dapat melihat perbukitan, gunung, dan pemukiman dari atas, begitu jernih. Bahkan keindahan alam sudah disajikan selama perjalanan sejak 2 km sebelum sampai tujuan.

Untuk menuju ke sana, jika Anda dari luar kota, jika sudah sampai Toraja di mana pun titiknya, cukup bertanya saja kepada orang lokal yang ramah, "Di mana atau naik apa untuk sampai ke Patung Tuhan Yesus Memberkati?"

Untuk traveler yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, turun di Plasa Telkom Makale, lalu naik ojek ke tujuan. Tarif ojek: mengantar sampai tujuan Rp20.000-Rp25.000. Antar-jemput: Rp50.000. Jarak 4-5 KM medan jalan naik-meliukliuk.

Pilihan antar-jemput disarankan. Karena di atas (di tempat wisata) tidak ada ojek yang mangkal untuk kembali ke bawah, ke plasa telkom. Tapi bisa juga traveler ikut nebeng wisatawan lokal yang juga akan turun ke kota, yang jok kendaraannya kosong dan bersedia ditebengi.

Petang menjelang, dari Plasa Telkom, saya naik ojek menuju terminal Makale untuk mendapatkan bus malam ke Bandara Makassar, mengejar pesawat pagi pukul 09.00 wita ke Jakarta.

Sebenarnya di Toraja Utara dan Tana Toraja masih banyak objek wisata sejarah dan adat yang serupa dengan situs Ke'te Kesu' dan juga terdapat banyak obyek wisata alam selain Negeri di Atas Awan. Ingin, sangat ingin saya mengunjungi satu per satu. Hanya saja, saya harus segera ada di Jakarta pada siang keesokan harinya.