Beberapa hari lalu, ribuan mahasiswa kedokteran telah dilantik menjadi dokter, begitu pula saya. Jujur, setelah kuliah bertahun-tahun di fakultas kedokteran, fase paling berat di pendidikan ini berada pada seleksi awal masuk dan ujian untuk keluar. Pada proses sehari-hari, sebetulnya juga tidak bisa dikatakan gampang. 

Namun, jika mahasiswa tersebut tertib masuk kuliah, sedikit rajin, dan menjaga sopan santun, biasanya studinya akan dipermudah untuk lulus. Disini, yang paling penting untuk menjadi seorang dokter bukan terletak penuh pada ilmunya, namun attitude-nya. Percuma pintar kalau tidak beretika, begitu jelas dosen saya berapi-api di banyak sesi kuliah. 

Untuk kisah masuk fakultas kedokteran, cerita lengkapnya sudah ditulis Mbak Ika Susanti. Bagi mereka yang dari awal meniatkan diri untuk masuk fakultas pilihan, maksud saya bukan hanya fakultas kedokteran, harus mempersiapan dari dini. Mulai dari meraih nilai sebaik-baiknya dari kelas satu SMA, supaya bisa masuk ranking paralel sekolah dan masuk daftar siswa yang berhak mengikuti jalur SNMPTN. 

Lainnya, bisa menempuh jalur tes tulis di SBMPTN. Kalau gagal, para siswa ini harus berjuang di lini terakhir lewat jalur mandiri. Pun jika gagal di tahun tersebut, masih ada kesempatan mengikuti SBMPTN dan ujian jalur mandiri di tahun selanjutnya. 

Dalam proses menjadi dokter, cobaan tidak berhenti di awal masuk. Pada proses perkuliahan, seorang mahasiswa kedokteran harus menyelesaikan puluhan blok, yaitu kelompok-kelompok cabang ilmu seperti muskuloskeletal (otot dan rangka), cardiorespiration (jantung dan paru), serta kelompok-kelompok cabang ilmu lain yang diwajibkan untuk lulus. Setelah dinyatakan lulus semua blok, mahasiswa tersebut baru diperbolehkan untuk masuk putaran klinik, atau Co-Ass. 

Ketika sudah masuk putaran klinik, atau biasa disebut dokter muda. Seorang mahasiswa harus melewati ujian sesuai dengan putaran kliniknya. Kalau lagi putaran bedah ya harus lulus ujian bedah, kalau putaran penyakit dalam ya harus lulus ujian penyakit dalam. Begitu terus sampai semua putaran dinyatakan lulus. 

Begitulah fakultas kedokteran membuat sistem untuk mencetak dokter yang handal dan bisa bertindak di segala situasi. Belum sampai di situ, ketika seorang mahasiswa kedokteran selesai melewati semua putaran klinik, dia harus menghadapi ujian kompetensi yang difasilitasi oleh Kemdikbud, namanya UKMPPD (Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter). 

Uji kompetensi ini tidak hanya dikhususkan untuk profesi dokter saja kok. Semua profesi yang diwajibkan menempuh program profesi juga memiliki uji kompetensinya masing-masing. Dokter gigi ada UKMPPDG, perawat ada UKPerawat. Semuanya difasilitasi oleh Kemdikbud. 

Seperti selayaknya ujian, soal-soal uji kompetensi ini dikenal susah, dari semua yang ikut ujian, pasti ada yang tidak lulus. Walaupun kita berada di masa pandemi dan para tenaga medis banyak dibutuhkan di mana-mana. UKMPPD tetep menerapkan standarnya yang tinggi, dengan harapan supaya yang lulus dari uji kompetensi ini memang betul-betul mereka yang berkompeten. 

Penetapan standar tinggi tersebut jelas memiliki dua mata pedang, mata satunya akan menghasilkan dokter yang betul berkompeten. Mata satunya akan membuat angka kelulusan yang rendah akibat penerapan standar nilai yang tinggi. Buktinya, sesuai grafik yang ada di web Kemendikbud banyak diantaranya calon dokter yang tidak lulus pada UKMPPD satu tahun terakhir. Ujian pada periode Februari lalu, dari 4406 peserta, ada 1934 peserta yang tidak lulus. Terakhir, ujian UKMPPD Mei kemarin, dari 4919 peserta yang ujian, 2166 diantaranya tidak lulus.  

Ya, menjadi dokter di negeri ini memang susah, selain terkenal dengan biaya sekolahnya yang mahal jika dibandingkan dengan fakultas lainnya. Ketika mau lulus pun masih diuji sedemikian rupa.

Angka ketidaklulusan yang tinggi tadi menjadi inspirasi banyak orang untuk membuat bimbel khusus untuk menghadapi UKMPPD. Ya, Anda jangan heran, bimbel dalam hidup mahasiswa kedokteran tidak berhenti pada proses masuk kuliah. Ketika mau menghadapi uji kompetensi pun, mengikuti bimbel sudah dianggap sebagai sebuah kebutuhan.  

Pertanyaan saya, mengapa Kemdikbud sampai susah payah membuat ujian kompetensi. Bukankah kompetensi kami seharusnya diampu oleh kampus kami masing-masing. Kalau dalih diadakan ujian kompetensi itu adalah untuk pemerataan, baiknya Kemdikbud menyelaraskan lewat kurikulum kampus masing-masing saja.

Lewat kacamata efektifitas, para calon dokter lebih bisa menangkap ilmunya karena pasti akan diajarkan berulang-ulang dan detail. Daripada harus memaksa seorang mahasiswa kedokteran belajar susah payah mengulang banyak materi yang lalu ditambah banyak pula materi tambahan. Waktu mereka juga tidak banyak, hanya dipersiapkan di sela-sela selesai putaran klinik dan hari-hari menjelang UKMPPD. Sampai-sampai adanya gap ini dimanfaatkan banyak pihak untuk membuat bimbingan belajar. 

Menurut saya, adanya bimbel ini adalah tanda kemdikbud gagal menerapkan semua poin-poin ujian ke materi yang harus dikuasai ketika masih sekolah, baik fase kuliah maupun putaran klinik. Wajar, dengan keadaan ini, angka retaker (peserta yang ujian kembali sangat tinggi, hampir setengahnya).