Pada awal abad Masehi, Romawi menguasai wilayah Judea setelah bangsa Yahudi melakukan pemberontakan dan gagal, penguasa Romawi menghancurkan tempat sembahan dan mengusir secara paksa sebagian besar penduduknya ke seluruh Eropa.

Di wilayah Eropa, penduduk yang diusir dari tempat tersebut disebut sebagai orang Yahudi, karena menganut agama Judaisme. Menurut kepercayaan bangsa Yahudi, Mesias atau Juru Selamat akan datang untuk mempersatukan mereka semua kembali ke Yerusalem.

Seperti ajaran keyakinan pada umumnya, mulai ditantang oleh aliran filosofi baru yang berkembang sangat pesat di wilayah Eropa. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan berasal dari 3 peristiwa besar.

Peristiwa tersebut meliputi Abad Pencerahan, Revolusi Perancis, dan Perang Napoleon. 3 Peristiwa tersebut mengakibatkan dua hal yaitu pemisahan agama dan kehidupan publik kemudian hal kedua adalah peperangan di Eropa yang memantik perasaan nasionalisme.

Akhirnya, orang Yahudi yang bertinggal di Eropa dipaksa untuk melupakan tradisi asli mereka untuk tujuan mengasimilasikan dirinya dengan masyarakat Eropa. Karena asimilasi tersebut, orang Yahudi mulai melupakan ajaran asli mereka.

Bagi mereka, Palestina sudah menjadi tempat yang hancur, tertinggal dan berbahaya karena wilayah Palestina dikuasai oleh Kekaisaran Ottoman. Walau diskriminasi masih tetap terjadi, Eropa Barat masih menjadi tempat yang lebih baik daripada yang lainnya.

Tetapi, situasi yang terjadi di Eropa Timur sangat berbeda. Pada saat itu, Eropa Timur belum merasakan nilai liberalisme dan diskriminasi terhadap Yahudi jauh lebih berbahaya. Mereka dipaksa bertempat tinggal di daerah kumuh, tidak bebas bepergian dan tidak memiliki hak mendapatkan pendidikan.

Sebagian besar dari bangsa Yahudi yang tinggal di Eropa Timur, bahkan tidak bisa berbahasa lokal dan sering kali menjadi target penyerangan serta pembantaian. Bagi mereka, Palestina merupakan tempat yang lebih baik daripada di Eropa Timur.

Semenjak tahun 1880, ratusan orang Yahudi di Eropa Timur memilih untuk berpindah tempat tinggal ke Palestina pada masa Kekaisaran Ottoman. Sayangnya, peristiwa imigrasi massal tersebut dilakukan tanpa perencanaan yang baik.

Banyak pendatang yang datang ke Palestina yang meninggal disebabkan penyakit Malaria, kelaparan dan ditangkap oleh pasukan Turki. Harapan mereka untuk kembali ke kampung halaman telah sia-sia.

Pada tahun 1891, seorang Jurnalis diutus untuk melakukan liputan peristiwa politik di Perancis. Jurnalis tersebut bernama Theodor Herzl. Setelah melakukan peliputan terhadap berbagai serangan yang dilakukan di Perancis terhadap bangsa Yahudi, Herzl mengambil sebuah kesimpulan yang buruk.

Bangsa Yahudi, tetap dianggap sebagai pendatang dan selalu dianaktirikan dimanapun mereka berada tidak peduli apakah mereka sudah menganut asimilasi, meyakini agama lokal serta menjadi bagian dari angkatan bersenjata di negara tersebut. Bagi mereka, bangsa Yahudi tetap dibenci dimanapun mereka berada.

Dengan peristiwa tersebut, satu-satunya solusi bagi bangsa Yahudi adalah memiliki negaranya sendiri, Herlz merasa bahwa imigrasi ke Palestina itu tidak cukup dan berbahaya. Hal pertama untuk mendirikan negara Yahudi adalah meraih dukungan dari negara di Eropa yang besar.

Setelah mendapatkan perjanjian resmi untuk membentuk sebuah negara, maka imigrasi massal bisa dimulai. Pada peristiwa tersebut ideologi Herlz sangat bertentangan dengan ajaran Judais

Jika Judaisme berlandaskan pada ajaran agama yang menantikan keselamatan dari Mesias, ideologi Herlz didasarkan oleh nasionalisme Yahudi. Herzl merasa bahwa bangsa Yahudi tidak bisa diam dan menunggu terlalu lama.

Menurut Herzl, bangsa Yahudi harus mengambil alih takdir mereka dan secepatnya membentuk negara di wilayah Palestina. Ideologi Herzl tersebut yang merupakan cikal bakal daripada Zionisme kemudian Herzl mulai menyebarkan ideologinya.

Pada tahun 1897, Herzl mengumpulkan tokoh Yahudi dari seluruh Eropa dalam Kongres Zionis Pertama. Rencana yang ditawarkan Herzl menerima banyak dukungan serta penolakan. Bagi pihak yang menentang Zionisme, membuat sebuah negara bagi bangsa Yahudi akan melanggar Kitab Taurat, dimana hanya Mesias yang bisa mempersatukan bangsa.

Tetapi, Herzl tidak menyerah begitu saja. Dia mulai mendekati beberapa petinggi yang berasal dari Jerman yang dekat dengan Kekaisaran Ottoman. Setelah mendapatkan dukungan dari beberapa pihak tersebut, kemudian Herzl beranjak ke Kekaisaran Ottoman.

Untuk mendapatkan beberapa tanah, dia menawarkan bantuan keuangan bagi Kekaisaran Ottoman. Namun, Kekaisaran Ottoman yang saat itu sedang menghadapi banyak ancaman dari Eropa, tidak ingin memberikan satu inci pun tanah di Palestina.

Sekali lagi, Herzl tetap tidak menyerah. Akibat pendekatan yang dilakukan Herlz terhadap Kekaisaran Ottoman mengalami kegagalan, Herzl mulai mendekati musuh dari Kekaisaran Ottoman yaitu Rusia dan Inggris.

Meskipun gagal dalam meyakinkan Rusia, Herzl berhasil mendapatkan tawaran wilayah dari Inggris. Wilayah tersebut bukanlah wilayah Palestina melainkan wilayah Uganda. Tetapi tawaran tersebut ditolak oleh Herzl.

Lebih parahnya lagi, Herzl tidak pernah hidup untuk melihat mimpinya tercapai. Pada tahun 1904, Theodor Herzl meninggal dunia.

Pada tahun 1914, kelompok Zionis yang sudah tersebar di mancanegara, merasakan sebuah dilema. Kekaisaran Ottoman beserta Jerman melancarkan serangan untuk melawan kekuatan sekutu.

Negara Inggris yang merupakan bagian dari kubu Sekutu tersebut, merespon hal tersebut dengan mendukung nasionalisme bangsa Arab untuk memberontak pada kekuasaan sentral Kekaisaran Ottoman.

Kelompok Zionis terbagi menjadi dua bagian. Bagi orang Yahudi yang sudah menetap di Palestina, Kekaisaran Ottoman adalah harapan besar mereka dari ancaman Inggris yang mendukung bangsa Arab.

Sementara itu, Zionis yang berada di Eropa merasa bahwa ancaman terbesar datang dari Kekaisaran Ottoman. Maka dari itu, negara Inggris harus didukung, Chaim Weizmann merupakan salah satu ilmuwan Yahudi Eropa yang mendukung Inggris.

Selama perang terjadi, Chaim melakukan negosiasi dengan Menteri Luar Negeri Inggris, Lord Balfour untuk memberikan beberapa tanah di Palestina kepada bangsa Yahudi jika Inggris berhasil mengalahkan Kekaisaran Ottoman.

“Kami mendukung Palestina sebagai sebuah kampung halaman bagi orang-orang Yahudi” ujar surat balasan oleh Lord Balfour.

Pada tahun 1918, Inggris berhasil mengalahkan Kekaisaran Ottoman selain itu dia juga diberikan mandate oleh Liga Bangsa-Bangsa untuk memiliki kekuasaan di seluruh wilayah Palestina.

Dengan kekuasaan yang baru diperoleh, Inggris mulai menentukan kebijakan yang mengandung pengingkaran janji terhadap bangsa Yahudi.

Pada tahun 1921, Inggris membentuk kerajaan Transjordan dan kerajaan tersebut tidak diperuntukkan bagi negara Yahudi. Pengingkaran janji tersebut memantik nasionalisme yang ekstrim di bangsa Arab Palestina yang menghendaki kemerdekaan serupa.

Disisi Yahudi yang semakin tidak mempercayai Inggris dan membenci bangsa Arab. Kemerdekaan bangsa Arab masih terhambat antara konflik janji Sekutu yang saling bertentangan.

Dampak kemenangan tersebut masih belum bisa ditentukan. Konflik antara masyarakat Arab dan Yahudi di Palestina semakin meningkat seiring berjalannya waktu di mana kedua belah pihak saling menyerang satu sama lain.

Seiring meningkatnya perpecahan, seorang ekstrimis bernama Vladimir Zhabotinsky membentuk sebuah milisi Yahudi bernama Haganah. Zhabotinsky percaya bahwa bangsa Yahudi tidak boleh menerima bangsa Arab karena sudah banyak negara Arab di Timur Tengah.

Dia juga percaya bahwa bangsa Yahudi tidak boleh mempercayai bangsa manapun termasuk Inggris. Seiring meningkatnya pendatang Yahudi dari Eropa, kekerasan pun bertambah.

Pada tahun 1939, Inggris mengalami kewalahan atas konflik antara bangsa Arab dan bangsa Yahudi di Palestina, maka dari itu Inggris mulai menghentikan proses imigrasi Yahudi dari Eropa ke Palestina.

Tahun 1939 merupakan sebuah tahun yang sangat mengerikan bagi bangsa Yahudi. Jerman telah dikuasai oleh Partai Nazi yang memiliki misi untuk memusnahkan seluruh bangsa Yahudi di dunia.

Selain itu, pandangan ekstrim dari Vladimir Zhabotinsky mendapat banyak dukungan dari orang Yahudi. Bahkan mereka yang awalnya ingin hidup bersama dengan bangsa Arab di Palestina, turut melakukan kebencian terhadap hal ini.

Kelompok teror Yahudi mulai terbentuk, seperti Irgun dan Lehi untuk melakukan serangan bahkan melancarkan serangan pembunuhan terhadap perwira Inggris yang dianggap menghambat imigrasi bangsa Yahudi ke Palestina.

Inggris semakin muak atas kekacauan di Palestina dan memilih untuk menyerahkan Palestina terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Palestina dibagi menjadi 3 bagian, satu untuk bangsa Yahudi, kedua untuk bangsa Arab, dan yang ketiga Yerusalem untuk PBB.

Pada 29 November 1947, pemungutan suara dimulai dengan hasil 33 negara setuju, 13 negara menolak dan 10 negara abstain. Akhirnya mimpi dari Zionisme tercapai, dunia mengakui keberadaan negara Israel meski tidak semuanya.

14 Mei 1948, David Ben Gurion memproklamasikan kemerdekaan Israel di Tel Aviv dan menjadi Perdana Menteri Israel pertama.