Indonesia merupakan negara agraris, di mana sebagian besar penduduknya berpencaharian sebagai petani. Sebagai negara agraris, Indonesia didukung dengan letaknya yang dilintasi oleh garis khatulistiwa sehingga beriklim tropis. Daerah yang dilintasi oleh garis khatulistiwa dan beriklim tropis sebagian besar memiliki tanah yang subur, begitu pula Indonesia.

Pernahkah kalian dengar ungkapan terkenal “di Indonesia pensil ditancapkan ke tanah akan menjadi tanaman”? Tahukah kamu ungkapan ini bisa jadi berasal ketika penjajah Belanda melihat masyarakat Indonesia menanam singkong hanya dengan menancapkan batangnya saja bisa tumbuh sehingga munculah istilah tersebut?

Keadaan tersebutlah yang mendorong masyarakat untuk bercocok tanam, mulai dari tanaman untuk bahan pokok seperti padi dan sagu, sayuran, hingga rempah-rempah.

Sebagian besar petani Indonesia menanam tanaman padi. Hal ini dikarenakan memang saat ini nasi yang berasal dari padi menjadi makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Meskipun sebagian besar petani menanam padi, namun apakah Indonesia saat ini mampu swasembada beras? Jawabannya tidak. Dewasa ini, Indonesia masih mengipor beras dari luar negeri.

Sejak Indonesia mampu swasembada pada masa orde baru berkat adanya program pemerintah REPELITA I-VI, Indonesia belum mampu swasembada beras lagi dan masih terus mengimpor beras dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Maka, biasanya timbul pertanyaan kenapa Indonesia sebagai negara agraris tidak mampu memenuhi kebutuhan berasnya sendiri? Apa yang sebenarnya terjadi? Ya, pertanyaan itu sering kali muncul di benak kita semua. Beberapa uraian di bawah ini mungkin akan sedikit membantu menjawab pertanyaan tersebut.

Pertama, laju pertumbuhan penduduk yang tidak seimbang dibanding dengan laju pertumbuhan hasil pangan. Laju pertumbuhan seperti laju deret kelipatan 1, 2, 4, 8, 16, dst. Sedangkan laju pertumbuhan hasil pangan yang hanya seperti deret hitung 1, 2, 3, 4, 5, dst. Sehingga akan terjadi ketimpangan antara jumlah penduduk dan hasil pangan yang dihasilkan.

Sebenarnya produksi padi saat ini terus meningkat dibanding ketika swasembada dahulu. Pada tahun 2015, berdasarkan data dari BPS (Badan Pusat Statistik), menyebutkan bahwa Indonesia mampu memproduksi 75,398 juta ton gabah kering giling jauh lebih tinggi dibandingkan pada saat Indonesia mampu swasembada dulu yang berproduksi sekitar 25,8 juta ton saja.

Itu artinya, sebenarnya hasil panen di Indonesia terus meningkat, namun pertumbuhan penduduk yang terus meledak menyebabkan hasil pertanian yang meningkat tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Kedua, luas lahan pertanian yang terus berkurang. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa setiap tahunnya banyak sekali lahan pertanian yang beralih fungsi dengan ditanami beton-beton yang tumbuh menjadi bangunan-bangunan rumah, mall, hotel dll. Selain itu pembangunan yang dilakukan pemerintah juga memakan tumbal lahan pertanian seperti yang terjadi di Kulon Progo, Kendeng Rembang, Tumpeng Pitu Banyuwangi dan masih banyak yang lainya.

Meskipun pemerintah sudah membuka lahan sawah baru diberbagai tempat, semua itu belum bisa mengganti lahan-lahan yang dialih-fungsikan setiap tahunnya.Yang lebih disayangkan lagi yaitu setiap lahan yang dialihfungsikan merupakan lahan produktif, bukan lahan yang kurang produktif seperti lahan rawa, lahan yang rawan banjir, atau lahan tadah hujan yang hanya berproduksi ketika musim hujan saja.

Ketiga, bantuan pemerintah yang tidak tepat sasaran serta kurang maksimalnya kelompok tani. Biasanya adanya kelompok tani erat hubunganya dengan adanya pembagian berbagai bentuk bantuan dari pemerintah, karena dengan adanya kelompok tani akan mempermudah pemerintah untuk mendistribusikan bantuan pada masyarakat.

Namun, bantuan yang diberikan oleh pemerintah kurang tepat sasaran dan rawan terjadinya konflik seperti pemberian bantuan pupuk maupun benih yang biasanya pembagiannya kurang jelas.

Terkadang pemerintah juga memberikan bantuan alat pertanian yang diperlukan seperti mesin penanan yang diberikan di pedesaan yang masih banyak masyarakat yang bekerja sebagai buruh tanam sehingga alatnya pun tidak digunakan.

Kelompok tani yang ada saat ini biasanya kurang maksimal, di mana kelompok tani hanya untuk penyaluran bantuan saja. Padahal, kelompok tani memiliki banyak fungsi seperti penentuan masa tanam, jenis yang ditanam, pengendalian hama, penentan jadwal pengairan/irigasi dan masih banyak lainya.

Keempat, kurangnya tenaga ahli serta minat pemuda untuk terjun di bidang pertanian yang kecil. Bila kita mendengar istilah petani pasti yang terbayang oleh kita, yaitu orang tua yang bekerja di ladang di bawah teriknya panas matahari.

Ya, merekalah para petani yang terbayang oleh kita yang belajar dari pengalaman bertani yang sudah bertahun-tahun meskipun biasa terdapat cara-cara bertani yang kurang tepat. Yang paling dibutuhkan petani selain bantuan benih dan pupuk sebenarnya adalah pendampingan dari tenaga ahli pertanian.

Sayangnya, sering kali yang dilakukan hanya penyuluhan dan sosialisasi sekali dua kali saja tanpa adanya pendampingan yang kontinyu. Selain itu, mungkin juga karena kurangnya tenaga ahli yang mau terjun ke masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya mahasiswa pertanian yang setelah lulus memilih bekerja di perusahaan nasional maupun multinasional, dan sangat jarang yang memilih untuk terjun langsung ke bidang pertanian itu sendiri.

Padahal ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan akan sangat bermanfaat untuk para petani untuk menyejahterakan petani. Selain kurangnya ahli pertanian, saat ini minat pemuda untuk terjun di bidang pertanian juga sangat rendah. Hal ini terbukti dengan banyaknya pemuda desa yang lebih memilih merantau ke kota daripada bertani di rumah.

Mereka beranggapan bahwa bekerja di kota akan menghasilkan lebih banyak uang daripada bertani. Padahal itu ungkapan yang salah karena pertanian merupakan sektor yang sangat menjanjikan apabila diolah secara tepat

Pemuda dengan kemudahan informasi saat ini seharusnya memiliki potensi yang sangat besar apabila terjun di bidang pertanian karena berbagai informasi pertanian dengan mudah didapat di internet.

Mungkin beberapa catatan di ataslah yang menjadi alasan kenapa saat ini Indonesia masih mengimpor beras padahal Indonesia sendiri merupakan negara agraris.

Oleh karena itu, saya (penulis) secara pribadi mengajak mari bersama-sama kita bangun pertanian Indonesia, terutama untuk para pemuda untuk terjun ke bidang pertanian. Semoga Indonesia dalam beberapa tahun ke depan mampu menciptakan swasembada beras kembali.