Sampai hari ini, Ndikkar masih saja tidak dipahami oleh sebagian besar masyarakat Karo apalagi generasi mudanya. Kebanyakan malah tidak tahu apa itu Ndikkar dan sebagian besar menyamakan Ndikkar dengan tari atau pencak silat. Jadi, Ndikkar itu sebenarnya apasih? 

Ndikkar kan gerakannya indah-indah gitu apa bukan tari ya? --- Ndikkar kan ada nyerang-nyerangnya apa bukan pencak silat ya?

Pertanyaan seperti ini acap kali dilontarkan oleh mahasiswa yang berasal dari daerah Karo yang kebetulan berkuliah di Medan. Sehingga terdapat praduga bahwa Ndikkar sendiri sebagai budaya Karo sudah mulai terkikis eksistensinya dari masyarakatnya. Padahal keberadaan suatu kebudayaan tergantung pada pemilik budaya tersebut. Jika tidak ada lagi anak muda Karo yang menguasai Ndikkar atau sekedar mengetahui dan mengenalinya maka sudah dapat diprediksi seberapa lama Ndikkar dapat bertahan. 

Untuk pengenalan pertama mari kita bahas sejarah bermulanya Ndikkar di bentala Karo. 

Ndikkar, pada mulanya dapat dikatakan sebagai intuisi dasar manusia yaitu sebagai mekanisme pertahanan diri. Dimanapun manusia selalu menghindarkan diri dari bahaya dan menginginkan keselamatan, begitupun para leluhur Karo yang mulai mendiami Tanah Karo yang saat itu masih hutan belantara. Berdasarkan wawancara dengan salah satu penggiat Ndikkar bernama Simpei Sinulingga, ia mengatakan bahwa Ndikkar ini digunakan bukan untuk manusia tapi untuk melindungi diri dari alam. 

Ya, Ndikkar ini tercipta karena dulu jarak rumah orang Karo itu jauh dari satu rumah ke rumah yang lain, ladang dan rumah berada di satu kawasan sehingganya kalau kami tidak bisa melindungi diri sama siapa kami minta tolong. Di sekitaran rumah ada banyak binatang buas maka kami belajar bagaimana menaklukan mereka. Tupai bisa melewati ranting dengan keseimbangan yang luar biasa maka kami pelajari bagaimana cara tupai melakukannya.

Ndikkar menjadi salah satu metode bertahan hidup bagi masyarakat Karo dalam menghadapi alamnya yang masih belia. Alam menjadi salah satu guru bagi orang Karo untuk membangun peradaban. Pada masa tersebut tidak dikenal Ndikkar sebagai metode beladiri yang dalam artian digunakan untuk melawan manusia. Tujuannya untuk belajar dari alam dan hidup dari alam. Namun sejarah Ndikkar tidak berhenti sampai di sana. Ndikkar juga berkembang menjadi pertunjukan budaya oleh Belanda.

Memasuki era kolonialisme, Ndikkar kerap diminta oleh Belanda menjadi hiburan dalam acara-acara yang digelar oleh pihak Belanda. Kendatipun sangat sedikit kejelasan tentang pergelaran Ndikkar oleh kolonial. Sejauh ingatan dari para tetua Ndikkar saja dapat merekam perjalanan Ndikkar di era tersebut. Selain itu, penyebutan Ndikkar sebagai silat juga dimulai ketika gerakan Aron mulai merekrut pemuda Karo untuk ikut berjuang menghadapi kolonial. Juara R Ginting, seorang antropolog mengatakan untuk merekrut pemuda Karo tersebut dilaksanakan ritual yang dinamakan Mantek Gelanggang (Agi, 2019).

Ketika tatanan masyarakat telah matang, di setiap Urung (perkampungan) Ndikkar tidak lantas dipertunjukkan secara bebas. Ndikkar hanya dipertunjukkan ketika ada permintaan raja-raja yang hendak membangun rumah adat. Dipertunjukkannya Ndikkar bertujuan agar rumah adat yang dibangun bisa sekuat para Pandikkar (orang yang menguasai Ndikkar). Selain itu hanya ditampilkan ketika pesta rakyat seperti Guro-guro Aron, panen buah dan bunga. 

Sampai pada fase ini kita dapat melihat keberadaan Ndikkar yang secara fungsional telah berubah. Mulanya hadir sebagai bentuk pertahanan diri atau bahkan cara bersahabat dengan alam lalu seiring dengan berkembangnya zaman menjadi mekanisme beladiri dalam upaya mempertahankan hak milik (tanah), sampai pada fase masyarakat mapan menjadi budaya luhur yang digunakan sebagai dasar filosofis rumah adat. 

Hari ini Ndikkar lebih sering naik pentas karena undangan, job dari dinas untuk penyambutan tamu negara atau memeriahkan HUT. Selain itu, potensi penerusnya juga minim karena beberapa sebab yakni; Pertama, adanya anggapan bertentangan dengan norma agama. Untuk belajar Ndikkar dulunya disyaratkan memotong ayam hitam serta mesti bersumpah kepada perguruan, hal tersebut menjadi salah satu kausa adanya anggapan tersebut. 

Kedua, para guru yang mulai lenggana memberikan ilmunya, hal tersebut tentu saja terjadi atas dasar pertimbangan dari para guru. Jika menurut pembacaan si guru Ndikkar calon muridnya akan berniat buruk atau tidak akan serius maka ia tidak akan membuka diri untuk mengajarkan. Selain itu, si guru juga akan menguji kesabaran dari calon muridnya, jika ia serius mau belajar maka ia akan meminta dan menunggu terus agar diajarkan. 

Ketiga, kategorisasi atas Ndikkar yang kurang tepat. Tak sedikit yang mengelompokkan Ndikkar sebagai jenis tari karena sama-sama menggunakan tubuh dan gerak sebagai medianya. Banyak pula yang menyatakan sama dengan pencak silat karena merupakan mekanisme beladirinya. Lantas bisakah kita secara instingtif mengkategorisasinya atas dasar tersebut? 

Rasanya akan kurang bijak kita jika menyikapinya secara arbitrer. Para penggiat Ndikkar menyebutkan bahwa Ndikkar sama sekali berbeda maka cukup memanggilnya sebagai Ndikkar saja. Hal tersebut juga dimaksudkan agar Ndikkar tidak kehilangan identitasnya.