Kematian selalu menjelma melalui wajah yang rupa-rupa. Pesakitan, bencana, depresi bunuh diri dan misteri. Kematian seolah mengembalikan semua orang
ke titik nol. Nawal El Saadawi, feminis terkenal Mesir itu juga melalui lajur yang sama setelah melawan sakit. Nawal meninggal di usia 89 tahun. Sebagai penulis besar, kematian tidak melenyapkan dirinya, melainkan secara historis menghidupkannya berkali-kali. Kematiannya semacam mengingatkan kita akan nasihat-nasihatnya yang diucapkan Firdaus, seorang perempuan yang hidup dibawa derita dan kuasa patriarki Mesir. Dalam novelnya yang terkenal, Woman at Point Zero, Nawal menulis :  “Everybody has to die. I will die, and you will die.
The important thing is how to live until you die
”. Semua orang mengalami kematian. Saya akan mati dan kamu juga akan mati. Namun, yang paling penting adalah bagaimana kita menjalani kehidupan ini hingga mati”.

Nawal adalah monumen perlawanan perempuan Mesir terhadap struktur patriarki disana. Perlawanan Nawal atas patriarki menyasar tengkorak pikir masyarakat Mesir, rezim politik, ayat-ayat suci, narasi-narasi keseharian hingga struktur pernikahan yang sarat patriarki. Perlawanannya dicicil melalui sejumlah konsekuensi besar. Kehilangan pekerjaan, karya-karyanya dilarang, majalah dan organisasinya dibubarkan, bahkan dijebloskan ke penjara di tahun-tahun 1981.

Nawal berbahaya bagi mereka yang tak ingin menghormati perempuan.
Seperti ucapannya : “they said, you are a savage and dangerous woman.
I am speaking the truth, and the truth is savage and dangerous”. 
Kritik Nawal tak hanya menyangkut urusan-urusan domestik formal yang memapankan praktik-praktik patriarki, melainkan juga menyasar struktur sosial dan politik yang dianggap absah dalam menetapkan standar-standar “resmi, baik dan pantas”
bagi perempuan. Salah satu kritiknya kemudian berusaha membongkar
lapis-lapis kekerasan terhadap perempuan yang bersembunyi dibalik struktur resmi pernikahan. Bahwa pernikahan pada suatu waktu bisa dilembagakan sebagai institusi patriarki, baik oleh negara maupun agama. Hingga pada akhirnya pernikahan bermatamorfosa menjadi arena “transaksi” ekonomi,  investasi tubuh, maupun melegitimasi struktur panjang kekerasan, penundukan, dan pelacuran terhadap perempuan. 

Struktur “Misoginis” Pernikahan 

“Istri adalah pelacur yang dibayar paling murah.” Tulis Nawal dalam novelnya. Nawal sedang membahasakan institusi pernikahan yang hanya menstrukturisasi seorang perempuan sebagai arena reproduksi dan pemuas tubuh laki-laki. Kritik ini diarahkan tepat pada persepsi sebagian besar orang yang berpandangan bahwa tujuan menikah hanyalah untuk menghalalkan persetubuhan seksual. Dalam kaitannya dengan kebiasaan sosial kita, asumsi ini sering dihidupkan dengan narasi-narasi anti zina. Seolah cara satu-satunya untuk menghindari zina adalah menikah. 

Pandangan hitam-putih macam ini, pada akhirnya memaksa banyak orang untuk terburu-buru dalam menikah meskipun tanpa persiapan mental yang baik. Mereka pada akhirnya sekadar tunduk pada tradisi menikah sebagai orientasi pemenuhan kebutuhan seksual. Dalam sembarang waktu, kita bisa menyaksikan bahwa sebagian besar orang menganggap ini sebagai jalan satu-satunya untuk melegalkan hawa nafsu . Mereka yang belum siap secara mental dan ekonomi, pada akhirnya selalu menjadi korban dari anggapan-anggapan esensial macam ini.

Pikiran-pikiran Nawal hendak mengoreksi hal ini, dan bukan ditujukan untuk menolak nikah. Refleksi atas pemikirannya patutu dibacara dalam kerangka penolakan nalar misoginis di institusi pernikahan. Dalam perluasannya kemudian, termasuk menolak menjadikan pernikahan sebagai sarana melegitimasi persetubuhan dan ruang penundukan yang sah atas kaum perempuan. Hingga akhirnya banyak perempuan kemudian ditundukan dengan cara-cara kekerasan lalu dimaklumi sebagai konsekuensi normal dari menikah.

Laporan SIMFONI PPA Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak,
per tanggal 1 Januari sampai 6 November 2020 bahwa dari seluruh kasus kekerasan terhadap perempuan (5.573 kasus), mayoritas kasusnya adalah kasus KDRT (3.419 kasus atau 60,75%). Data yang persis juga ditunjukan oleh Komnas Perempuan, bahwa sepanjang tahun 2020 sepanjang tahun 2020 sebesar 299.911. Adapun dari 8.234 kasus yang ditangani Komnas Perempuan, kasus yang paling menonjol terjadia di Ranah Personal (RP) atau disebut KDRT/RP (Kasus Dalam Rumah Tangga/Ranah Personal) sebanyak 79% (6.480 kasus). Diantaranya terdapat Kekerasan Terhadap Istri (KTI) menempati peringkat pertama 3.221 kasus (50%) (Komnas Perempuan, 2021).

Dalam kaitannya dengan pernikahan, kritik Nawal tepat pada penindasan terhadap perempuan seperti ini. Dimana dalam institusi pernikahan, perempuan kerap dijadikan objek kuasa laki-laki, dibatasi ekspresi dan peran sosialnya. Mereka diperlakukan secara keras lalu ditundukan melalui pernikahan yang kerap dianggap sebagai pintu masuk kepatuhan terhadap laki-laki. Mirisnya, perlakuan-perluan tersebut kemudian dilegitimasi dengan mitos-mitos misoginis setelah menikah. Seperti, patuh terhadap suami simbol kepatuhan terhadap Tuhan, istri yang baik adalah istri yang tidak membantah, persoalan dalam rumah cukuplah dipendam di rumah, dan tugas istri adalah melayani suami.  

Jika institusi pernikahan diperlakukan demikian, maka ia tak ubahnya lembaga pelacuran formal. Apalagi keduanya sama-sama membutuhkan uang muka atau mahar. Bedanya, pernikahan dilegitimasi dengan status  administrasi yang jelas seperti, buku nikah, ijab kabul, pengakuan masyarakat serta legitimasi suci agama dan negara untuk membedakannya dengan lembaga pelacuran . Nalar misoginis kemudian menyelinap diam-diam ke dalam institusi pernikahan yang seperti ini. Banyak perempuan yang tanpa pertimbangan kuat, memaklumi kuasa dan dominasi laki-laki pasca menikah sebagai hal yang normal dari pernikahan.
Pada bagian ini, Nawal mengingatkan kita dengan tegas lewat novelnya itu.  

“Semua perempuan adalah korban penipuan. Lelaki memaksakan penipuan kepada perempuan dan kemudian menghukum mereka karena telah tertipu, menindas mereka ketingkat terbawah, dan menghukum mereka karena telah jatuh begitu rendah, mengikat mereka dalam perkawinan dan menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang umur mereka, atau menghantam mereka dengan penghinaan atau dengan pukulanµ. Kini saya sadari bahwa yang paling sedikit diperdayakan dari semua perempuan adalah pelacur. Perkawinan adalah lembaga yang dibangun atas penderitaan yang paling kejam untuk kaum perempuan”. 

Nawal sedang menyesali sebuah praktik kekerasan yang dilakukan atas nama pernikahan. Seolah saat menjalani pernikahan , kita sedang membuka
lapis-lapis praktik misoginis yang melekat kuat dan mapan. Baik pada tafsir ayat-ayat suci, ukuran-ukuran moral di masyarakat, alibi keluarga dan nama baik, maupun kebiasaan-kebiasaan keseharian. Suasana kebathinan dari kritik Nawal di atas adalah : pernikahan harusnya membebaskan sekaligus mengintimkan. 

Sebagai seorang timur, meskipun berdiri di Mesir, namun pertalian teoritiknya tetap relevan di segala penjuru dunia. Kritiknya ini mengingatkan kita pada demontsrasi tajam dari Emma Goldman dalam essaynya di It’s I can’t Dance to It, It’s Not My Revolution (2014). Bahwa “perempuan dipelihara sebagai komoditas seks, namun dia terus saja tidak tahu soal arti dan pentingnya seks”.  Dua kritik ini adalah sintesis terhadap institusi pernikahan yang dianggap sebatas arena reproduksi seksual.

Dalam tradisi patriarki yang kuat, perempuan dipaksa tunduk pada nama baik
yang disimbolisasi dalam kebiasaan-kebiasaan sosial keseharian. Struktur pernikahan misoginis seolah menjadi alat legitimasi yang menukar perempuan dengan sejumlah investasi ekonomi, klaim moral dan syarat administrasi negara.
Seakan-akan, dalam arena pernikahan, laki-laki diberi jaminan yang luas untuk menundukan perempuan dengan asuransi yang ia bayar saat mengucapkan ikrar pernikahan. Sehingga, pasca itu perempuan harus menukarkan semua jaminan tersebut dengan harga diri, tubuh, kepatuhan, ekslusi dan kesedihan-kesedihannya yang tak berujung sepanjang hidupnya. Pada titik ini, pernikahan secara jelas telah dimaklumi sebagai arena kuasa laki-laki atas tubuh dan kehidupan perempuan.  

Nawal meneropong endapan-endapan beku misoginis ini dengan menyerang sejumlah otoritas politik dan keagamaan di Mesir yang terlibat melanggengkannya.  Nawal hendak merajut ulang sisi-sisi kemanusiaan dan hak asasi perempuan yang hilang saat pernikahan dirituskan. Seolah perempuan harus terkurung dalam perspektif sepihak kaum laki-laki saat ia hendak dan telah menikah. Kebebasan mereka harus terbatasi oleh akses dan kontrol penuh laki-laki atas sumber daya ekonomi dan tubuhnya sendiri. Jejejaran asumsi kolot yang kelak mengubah wajah institusi pernikahan menjadi sarana dominasi, dimana eksploitasi atas tubuh perempuan seolah dilegitimasi secara formal oleh negara, diakui dengan dalih moril oleh agama, lalu dimaklumi berabad-abad oleh masyarakat kita.

Nawal dan kritiknya adalah tubuh dan peristiwa historis yang sebenarnya tak pernah mati melawan hal-hal itu. Kematian Nawal hanyalah kematian tubuh biologis bukan kematian tubuh historis. Namun sebagai seorang penulis dan kritikus sastra ternama, Nawal telah meletakan batu-bata terkuat bagi perjuangan perempuan hari ini. Dalam jejak historisnya di kemudian hari, Nawal adalah oase padang pasir Mesir yang mengalir dan membasuh isi-isi kepala masyarakat dunia tentang perempuan.  Sekali lagi, Nawal tidak pergi, ia hanya pulang dan menggenapkan kata-katanya dengan kematian. Everybody has to die. I will die, and you will die. The important thing is how to live until you die.