Karena masih suasana libur akhir tahun, maka mari kita bahas topik yang ringan-ringan saja. 

Indonesia, pada dasarnya adalah negeri yang sudah dari dulu beragam dan didirikan di atas keberagaman. Oleh karena itu, narasi dan tindakan intoleran, adalah bukan produk asli Indonesia. Setiap individu atau kelompok yang menyuarakan narasi intoleran, belumlah paham budaya Indonesia yang sebenarnya, atau budaya Nusantara.

Perayaan Natal, secara keseluruhan adalah hal yang lazim terjadi di Indonesia, negeri yang mayoritas Muslim ini. Berbeda mungkin, dengan negara yang mayoritas warganya bukan Muslim, seperti Inggris misalnya, di sana minim sekali baliho atau pengumuman pada Hari Raya Idul Fitri, yang mengabarkan perayaan hari besar keagamaan umat Islam tersebut.

Tulisan ini sebenarnya, tidak akan mengupas lebih jauh tentang narasi dan tindakan intoleran, akan tetapi, akan lebih berfokus pada bagaimana sikap dua tokoh nasional yang sekarang tengah menjadi perhatian terkait dengan Hari Natal dan perayaannya.

Tokoh yang pertama, adalah Kiai Haji (K.H) Ma'ruf Amin, yang sekarang maju mendampingi Presiden Jokowi (Joko Widodo), sebagai cawapres. 

Pada Hari Natal tahun ini, media sosial cukup dihebohkan dengan beredarnya video ucapan selamat Natal dari mantan Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) tersebut. Mengapa heboh? Karena pada saat sebelum maju jadi cawapres, beliau termasuk orang yang ikut melarang pengucapan selamat Natal dari umat Muslim pada umat Kristen.

Sikap tersebut adalah salah satu dari empat sikap beliau yang lain, yang mungkin agak berbeda dengan sikap-sikap sebagian kelompok pendukung Jokowi. 4 sikap tersebut antara lain, mendukung pelarangan Ahmadiyah, mendukung pembatasan tempat ibadah, mendukung pidana LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transeksual), mengharuskan sertifikat halal untuk semua produk (Syailendra Persada, 2018, https://tempo.co/, akses 27/12/2018). 

Mungkin sikap-sikap Kiai Ma’ruf Amin pada masa lampau tersebut lebih beririsan dengan sikap sebagian pendukung Prabowo, yang mungkin bagi sebagian pendukung Jokowi, dianggap sebagai sikap ekstrem kanan. 

Tokoh kedua yang juga menjadi sorotan adalah Prabowo Subianto, yang juga berstatus sebagai capres 2018. Salah satu hal yang membuat yang bersangkutan disoroti adalah video goyang poco-poco beliau, pada waktu acara perayaan Natal di rumah keluarganya. 

Video yang diambil oleh keponakan Prabowo, yang juga anggota DPR, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo (Sara), tersebut, sempat diunggah ke media sosial, akan tetapi, kemudian setelah menjadi viral di internet, video tersebut dihapus.

Klarifikasi pun diberikan oleh kubu Prabowo, salah satunya oleh Sara, orang yang mengambil dan mengunggah video tersebut. Menurut Sara, aksi joget yang dilakukan oleh Prabowo itu tidak diiringi oleh lagu rohani, oleh karena itu, bukanlah ibadah keagamaan. Prabowo, menurut Sara, datang setelah ibadah Natal dilakukan. 

Acara tersebut adalah sebuah kebiasaan keluarga mereka, yang selalu dilangsungkan di rumah kakak Prabowo dan Hasyim Djojohadikusumo. Sebagai orang yang berdarah Manado/Minahasa, goyang poco-poco tersebut, adalah hal yang lazim dilakukan oleh Prabowo, begitu kurang lebih penjelasan Sara terkait aksi joget Prabowo tersebut (https://news.detik.com/, akses 27/12/2018).

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan tindakan Prabowo tersebut, dari dulu, walaupun Muslim, beliau lebih mengedepankan sikap seorang nasionalis. Pada bulan Juni 2014, saat berorasi singkat di Lapangan Stadion KONI Sario Manado, Prabowo menegaskan bahwa dirinya adalah seorang pluralis, yang menghargai keragaman agama. 

Lebih jauh, Prabowo menjelaskan bahwa walaupun berbeda-beda secara agama dan suku, keluarganya tetap rukun dan kompak. Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyebutkan bahwa ibunya adalah seorang Kristen, yang asli Manado, dan saudara-saudaranya beragama Katolik. 

Sebagaimana diketahui, Ibu Prabowo, Dora Marie Sigar, berdarah asli Minahasa dan menganut agama Kristen, sementara ayah Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo, adalah seorang Jawa yang beragama Islam (https://www.jpnn.com/, akses 27/12/2018).

Mungkin yang dianggap sebuah ironi, oleh orang-orang, terutama oleh sebagian barisan pendukung Jokowi, adalah status Prabowo, sebagai capres hasil Ijtima’ Ulama, yang seharusnya mungkin tidak begitu antusias mengikuti perayaan Natal. Hal ini mungkin, yang menjadi salah satu penyebab unggahan video joget Prabowo tersebut dihapus dari akun medsos Sara.

Akhir kata, tindakan Kiai Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto ini sebenarnya adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia pada dasarnya adalah masyarakat yang beragam. Seorang yang ingin menjadi pemimpin Indonesia, mau tak mau, harus mengedepankan sikap yang menghargai keberagaman. Calon pemimpin yang mengedepankan sikap intoleran, biasanya kurang dilirik oleh mayoritas konstituen. Kiai Ma’ruf Amin, yang masa lalunya cenderung bersikap berbeda, pada akhirnya harus mengubah sikapnya tersebut.

Pertanyaannya kemudian apakah beliau akan kembali ke sikap lamanya, jika menang Pilpres tahun depan? Jika iya, maka sebagian pendukung Jokowi, yang bersikap berseberangan tentu akan kecewa. Selain itu, konsistensi beliau sebagai seorang ulama, atau pemuka agama, tentu akan dipertanyakan, jika bisa dengan mudah berubah-ubah sikap tergantung dorongan kepentingan politik.

Untuk Prabowo, sebenarnya keterpilihannya sebagai capres hasil Ijtima’ Ulama, yaitu adalah karena saat sekarang, yang bersangkutan belum menunjukkan sikap anti terhadap Islam politik. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sebagian besar organisasi Islam, yang terlibat dalam Ijtima' Ulama tersebut mengusung  ideologi Islam politik. 

Pertanyaannya, apakah jika memenangi Pilpres 2019, Prabowo akan bersikap seperti mantan mertuanya, Presiden Indonesia ke-2, Soeharto, yang menghabisi Islam politik lewat tragedi Tanjung Priok? Mungkin hanya Prabowo, dan orang-orang lingkaran dalamnya saja yang tahu bagaimana sikap politik mereka, yang sebenarnya, jika berhasil memenangi Pilpres 2019.