Selasa 6 Desember 2016, perayaan Pra-Natal di Sabuga, Bandung, dibubarkan PAS, Pembela Ahlus Sunnah. Alasan mereka: perayaan keagamaan hendaknya berlangsung di ruang ibadah agama masing-masing.

Berita sontak menyebar ke segala penjuru. Ribuan protes bermunculan, baik dari mereka yang beragama Kristen, maupun dari mereka yang beragama non-Kristen (seneng banget rasanya bisa menggunakan istilah “non” ini). Semua menguatirkan praktik intoleran yang menjadi-jadi.

Rabu pagi, 7 Desember, pk 05:03, gempa menghantam Aceh, propinsi yang lebih dari 90% penduduknya beragama Islam. Publik kembali bereaksi, kali ini dalam nada prihatin. Uluran tangan dari berbagai penjuru datang menghampir. Media sosial jadi perekat.

Masih pada hari Rabu, dua peristiwa di atas, yang berlangsung dalam kurun waktu 12 jam, bersilang dan melahirkan tafsir. Mulai muncul komen di media sosial menghubungkan keduanya: Tuhan marah kepada umat Islam karena sebagian dari mereka telah membubarkan perayaan keagamaan Kristen.

Saya terperanjat.

Belum sempat saya bereaksi, puluhan komen di Facebook dan Twitter sudah muncrat untuk mencerca tafsir macam itu, terutama dari mereka yang beragama Kristen. ”Jangan lebay, deh,” tanggap mereka ketus. Ah, saya bangga. Negeri ini belum kecebur dalam adonan dodol garut.

Kaum beragama memang menderita inferioritas akut. Ada buah manggis, yang di dalamnya terlihat guratan menyerupai kaligrafi “Allah”, ketika dibelah orang-orang tiba-tiba menaikkan takbir—seolah alam semesta kurang menakjubkan untuk menyatakan kehadiran Allah.

Sebagian dari kita rela berbaris ratusan meter menunggu giliran untuk menyaksikan patung Maria yang menitikkan air mata darah. Di tempat lain ribuan orang klojotan ketika mendongak ke langit melihat awan-gemawan menghadirkan lambang keagamaan tertentu.

Allah rupanya jagoan neon yang eksistensinya butuh kebetulan-kebetulan semacam itu. Apa hubungan gempa di Aceh dengan pembubaran perayaan pra-natal di Bandung? Propinsi Aceh terletak di cincin api, gempa bisa terjadi kapan saja. Di Los Angeles, kota yang juga berada di cincin api, gempa sudah dianggap sebagai sesuatu yang harus terjadi. Persoalannya cuma soal waktu, tak bisa diduga. Pemerintah kota melakukan latihan kesiagaan secara berkala bagi masyarakat setempat untuk berhadapan dengan risiko tersebut.

Tapi jangan serta-merta menyalahkan umat. Alkitab, sekurangnya, menyediakan beberapa peluang bagi umaro dan umat untuk berpikir ngasal model gitu. Yang rada mirip dengan peristiwa Sabuga dan gempa Aceh adalah peristiwa penyaliban Yesus. Berikut ini saya kutip kisahnya dari Lukas 23: 39-48

Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" 

Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.

Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja."

Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."

Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua.

Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

Mari arahkan perhatian ke ayat 44: “…lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.”
Itu peristiwa alam? Tentu saja. Matius lebih lebay lagi: “Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah.” (Mat 27:15)

Gempa bumi? Ya, seperti gempa di Aceh, peristiwa alam yang bisa terjadi kapan saja oleh penyebab yang alamiah. Ada hubungannya dengan penyaliban Yesus?

Jelas gak ada. Kalau dihubung-hubungkan, ya lebay, sama lebay dengan orang Kristen 2016 yang menghubungkan Sabuga dengan Aceh.

Tapi betulkah terjadi gempa?
Saya ragu. Serius.
Kalau tidak, ngapain Lukas dan Matius menyisipkannya di sana?

Saya kira petunjuk untuk mencari jawaban atas keanehan tersebut ada pada ayat 45: …dan tabir Bait Suci terbelah dua.

Ada dua tirai di dalam Bait Suci. Yang pertama, tirai yang memisahkan pelataran dengan ruang ibadah atau ruang kudus. Yang kedua, tirai yang memisahkan ruang kudus dengan ruang maha kudus. Ruang terakhir ini hanya boleh dimasuki Imam Besar, tidak boleh yang lain, itupun setahun sekali. Itu ruang yang melambangkan hadirat Allah. Suci. Maha Kudus. Sedemikian suci hingga tirai yang menutupinya berdimensi rada gila-gilaan: tinggi 24.4 meter, lebar 7.4 meter dan dengan ketebalan 10 cm. Butuh tenaga 300 imam untuk mengangkutnya.  

Mau tanya: bencana alam seperti apa yang sanggup mengoyak tirai dengan ketebalan 10cm tanpa menghancurkan bangunannya? Sila baca berulang-ulang, Lukas dan Matius gak ngelantur. Mereka berdua tidak berkabar bahwa gempa bumi mengakibatkan Bait Suci hancur. Trus gimana tirai setebal itu terbelah?

Keterbelahan tirai setebal 10 cm hanya mungkin terjadi kalau 2 tiang, yang menjadi batang tempat ikatan di bagian kiri dan kanan bersimpul, bergerak berlawanan arah. Jika itu terjadi, Bait Suci rubuh. Ternyata tidak. Sekali lagi, bagaimana tirai itu terbelah? Enigma.

Dari enigma tersebut saya justru temukan celah untuk menyimpulkan bahwa Matius dan Lukas tidak lebay. Tak ada gempa. Secara fisikal tirai Bait Suci tidak terbelah. Lukas dan Markus "melukis" 2 kejadian alam di sana sebagai elemen metaforikal, yang mengabarkan tujuan kedatangan Yesus, yang menyimpulkan musabab inkarnasi di dalam Yesus: kekuasaan dijungkirbalikkan, termasuk kekuasaan Allah.

Oleh Lukas tafsir tersebut mendapat, katakanlah, semacam penguat di ayat 43: Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."

Itu ayat getir, terutama buat Kristen Kaffah. Bayangin, seorang penjahat besar tanpa mengaku salah, tanpa melalui masa pertobatan, ujug-ujug diterima Yesus berada di sisinya. Yesus, yang diimani sebagai Allah, bersedia satu tempat dengan penjahat yang belum disucikan, belum mengalami purgatori. Ini ajaran gelo!

Tapi Allah di dalam Yesus memang ugal-ugalan. Itu dikabar Lukas dengan menaruh 'lukisan' gempa bumi dan tirai Bait Suci terbelah. Lukas menggambarkan Yesus yang meruntuhkan tembok pemisah. Tidak ada lagi penggolongan cemar, nista, kudus, dan maha kudus dalam relasi Allah dengan manusia. Menurut Yesus: Allah dan kamu sama kudus.

Tafsir di atas bukan perkara baru, terhitung jadul malah. Masalahnya, sebagian teolog masih ngotot dengan penggolongan jaman barbarik: Allah-kudus — manusia-cemar, keukeuh mempertahankan relasi kekuasaan antara Allah dengan manusia. Padahal Yesus sudah membatalkannya. Dia memanggil Sahat Siagian dengan sebutan “sahabatku”.

Lukas bukan sekonyong-konyong berpendapat seperti itu. Sejak awal bercerita tentang Yesus dia sudah kasih tanda-tanda ke arah sana. Tapi karena bagian itu dibaca rutin setiap Desember selama belasan bahkan puluhan tahun, kita sudah tidak cukup peka membayangkan kontradiktori di dalamnya. Mari berfantasi:

Magnificat (Nyanyian Pujian Bunda Maria) -- Lukas 1: 46-56
Gak ngerti saya kenapa perempuan dapat tempat penting dalam kisah kelahiran Yesus. Maksud saya, latarnya budaya patriarkal, perempuan tempatnya di comberan. Di kisah ini Sang Perempuan malah dengan pédé berkata: “mulai hari ini semua orang akan menyebut aku perempuan berbahagia.” Dan dari mulutnya juga keluar ayat-ayat subversif: penguasa diturunkan, orang hina-dina-papa-berdosa ditinggikan.

Allah tidur di tempat makanan hewan (palungan) -- Lukas 2:7
Saban membayangkan bagian ini sebagian orang Kristen menangis tersedu-sedu—terharu kepada Allah yang rela menghina dirinya sendiri, bukan malah takjub kepada Allah yang mengangkat kita sejajar dengannya.

Kidung Malaikat di padang Efrata -- Lukas 2: 8-20
Malaikat, yang selalu digambarkan suci-cemerlang-gemilang, nyanyi bareng di hadapan gembala—sekumpulan pecundang yang kebanyakan adalah pencuri-pencuri kecil. Kata “malaikat” tak pernah ada dalam semesta para gembala, gak kepikir, gak pernah denger. Tiba-tiba Lukas memperhadapkan dua kelompok yang bedanya ekstrim. Anda gak ngebayang sebagian dari gembala langsung mendadak bego setelah peristiwa itu?

Orang Majusi -- Mat 2: 1-12
Suka atau tidak, kaum Majusi adalah orang kafir, tidak mengakui ketauhidan dalam agama Yahudi. Tapi Matius menghadirkan mereka di sekeliling palungan dengan membawa persembahan. Gilanya, setelah bertemu Sang Noel, tak ada secuilpun petunjuk dari Matius bahwa para Majusi itu bakal jadi pengikut Yesus di kemudian hari. Mereka para kafir yang tetap “kafir” sepulang menjenguk Yesus.

Semua itu ayat-ayat subversif, mengguncang stabilitas, merubuhkan tatanan. Tapi apa yang bisa Anda elak dari Allah yang berinkarnasi?

Kedatangan Yesus memang menjungkirbalikkan semua. Dalam pikiran liar saya, Allah barangkali sependapat dengan Lord Acton: power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely; daripada nanti digelandang masuk ke gedung KPK karena berkorupsi, Allah berpikir adalah baik untuk melucuti kekuasaan absolut yang ada pada dirinya. Dia menjadi sama dengan manusia, menaruh manusia untuk sama suci dengannya.

Sekarang hal absolut dalam diri Allah hanya Kasih. Kuasanya tidak lagi mutlak, semua kemahaannya dibuang ke laut, kedigdayaannya sudah jadi macan ompong, tinggal Kasih—satu-satunya dari Allah yang absolut. Dia menerima kita, yang pemaaf sekaligus pendendam, yang pemurah tapi kadang iri hati, yang penyayang namun tak jarang cemburu, dan berbagai paradoksikal lainnya. Dia berinkarnasi, mengalami dan mengangkat ketegangan antar dua kutub tersebut sebagai bagian dari kekudusan, sebagai gairah cinta yang berjilam-jilam.

Jadi, kalau dalam malam Natal nanti Anda masih cuma sekada 'mata berkaca-kaca'—seperti tahun-tahun sebelumnya—ketika menyanyikan lagu Malam Kudus, saya tak heran kalau pramuwisma Anda belum mendapatkan kamar yang layak sebagaimana pramuwisma Ahok mendapatkannya. Struktur kekuasaan di rumah Anda perlu dijungkirbalikkan.

Kalau para motivator agama di gedung megah—dengan hadirin ribuan orang—masih terus mengumandangkan sebutan kaum berdosa kepada Anda, mimbar khotbahnya perlu dibelah pakek kapak. Allah telah memanggilmu “sahabat”. Para genderuwo itu gak punya hak merampasnya.

Dan kalau selama ini kita sebatas membayangkan Allah mengangkat kaum miskin ke tempat tinggi melalui peristiwa Natal, luput memberi tempat kepada orang “kafir”, kepada koruptor, kepada mucikari, kepada kaum pedofil, kepada pemerkosa, kepada pelaku sex bebas, kepada dokter penggugur kandungan, kepada orang-orang najis dan cemar—karena kepada mereka kita kenakan syarat 'bertobat dulu sebelum kalian datang kepada Allah kami', maka celakalah kita.

Allah kita adalah Allah yang juga disembah Hitler, Stalin, dan Mussolini. Ini kidungku untukmu dalam menyambut Natal, sila klik “God of The Moon and Stars”. Judulnya dekat dengan Islam.

God of the moon and stars
God of the gay and singles bars
God of the fragile hearts we are,
I come to you

God of our history,
god of the future that will be
What will you make of me,
I come to you

God of the meek and mild,
God of the reckless and the wild
God of the unreconciled,
I come to you

God of our life and death
God of our secrets unconfessed
God of our every breath,
I come to you

God of the rich and poor
God of the princess and the whore
God of the ever open door,
I come to you

God of the unborn child
God of the pure and undefiled
God of the pimp and paedophile,
I come to you

God of the war and peace
God of the junkie and the priest
God of the greatest and the least,
I come to you

God of the refugee
God of the prisoner and the free
God of our doubt and certainty,
I come to you

God of our joy and grieve
God of the lawyer and the thief
God of our faith and unbelief,
I come to you

God of the wounds we bear
God of the deepest dreams we share
God of our unspoken prayer,
I come to you

God of a world that´s lost
God of the lonely cross
God who has come to us,
I come to you