Semarang, Juli 2012

Aku melangkahkan kakiku melihat keadaan sekeliling. Bandara Ahmad Yani terlihat sibuk sore ini. Di manakah aku sekarang? Apa yang akan kulakukan?

Untuk sesaat aku menenggelamkan diri di antara kesibukan orang-orang yang begitu padat. Pikiranku melayang. Beberapa jam yang lalu, aku masih berada di bandara Hang Nadim, Batam. Namun saat ini ragaku telah meninggalkan tanah kelahiranku tersebut. Aku menghela napas.

Aah, belum-belum aku sudah merasa rindu.

***

“Kharisma,” aku mendongak begitu mendengar ada yang memanggilku. Seorang dosen tengah memanggil satu per satu mahasiswanya. Oh, iya. Saat ini aku telah resmi menjadi mahasiswa. Kini pikiranku telah kembali ke asal.

“Saya, Pak.”

“Dari mana asalmu?”

Selalu seperti itu pertanyaan wajib yang diajukan oleh mahasiswa dan dosen-dosen di perguruan tinggi ini pada awal-awal masa kuliah. Terutama saat masa-masa menjadi mahasiswa baru. Dan aku tidak punya pilihan lain selain menjawabnya.

“Saya dari Batam, Pak.”

Hening sesaat. Aku selalu menantikan saat-saat seperti ini. Menunggu reaksi orang-orang yang bertanya padaku sambil menebak apa yang sedang ia pikirkan melalui sinar matanya. Terkadang ada orang yang mengira dirinya salah dengar, sehingga ‘Batam’ terdengar seperti ‘Batang.’

Ini tak lain adalah tanggung jawab dari orang-orang zaman dahulu yang menamai kedua daerah ini sedemikian mirip, padahal letaknya sedemikian jauh.

Dosen itu tersenyum kecil dan berkata,”Wah, jauh sekali, ya. Menuntut ilmu hingga kemari.”

Beberapa rekanku kemudian lanjut bertanya,”Kamu kenapa bisa sampai di sini, sih, Ris?”

Aku hanya memamerkan cengiran kuda andalanku. Kukira, tak perlu kubeberkan jawabannya sendiri karena ada banyak sekali faktor. Faktor yang paling mutlak tentulah karena pendidikan di Jawa mutunya lebih baik.

Tak butuh waktu lama bagiku untuk menyesuaikan diri. Semarang kota yang menyenangkan, meskipun terkadang aku masih rindu dengan kampung halaman. Hal yang membuatku harus bersabar tentulah kendala bahasa. Seperti kata pepatah; di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Karena aku berada di tanah Jawa, sudah sepantasnyalah aku mengikuti adat berbahasa di sini.

Namun menguasai bahasa Jawa ternyata susah-susah gampang. Apalagi kudengar ada tiga tingkatan bahasa Jawa menurut siapa yang kita ajak bicara. Aku kurang hafal apa istilahnya. Aku hanya paham bahasa Jawa yang digunakan pada teman sebayaku dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam hal yang lain aku berusaha menyesuaikan diri semampuku.

Aku menyukai tanah di mana aku tinggal sekarang. Fasilitas yang lengkap dan mudah dicapai. Jarak antar kota yang mudah ditempuh dengan bis atau kereta api. Bayangkan saja pulau Batam yang dikelilingi oleh laut. Di mana-mana laut. Tidak ada kereta api. Di sini penduduknya padat. Aku mengakui hal itu. Dan panasnya tidak karuan. Untuk dua hal terakhir ini, Batam setara dengan Semarang.

Terkadang aku teringat dengan teman-teman yang ada di sana. Apa kabar mereka, ya? Kesibukan kuliah yang padat dan jarak yang terbentang ribuan kilometer menyebabkan aku tak bisa berkomunikasi dengan leluasa dengan mereka.

Mungkin aku bisa memanfaatkan media sosial untuk terus berhubungan dengan mereka, namun tak ada yang mengalahkan bagaimana bahagianya bisa berkomunikasi secara tatap muka.

Bagiku, media sosial hanyalah bagian dari teknologi canggih yang diciptakan oleh manusia, namun tak mungkin sebanding dengan tangan yang diciptakan Tuhan untuk berjabatan, mata yang diciptakan untuk melihat, telinga yang diciptakan untuk mendengar, mulut yang diciptakan untuk berbicara dan berbagi kebahagiaan dan hati yang diciptakan untuk saling menularkan kehangatan  melalui komunikasi secara langsung.

Namun malam ini, ketika tugas-tugas yang menyerbuku mulai berkurang, aku menyempatkan diri menelepon seorang teman yang juga merantau ke Yogyakarta. Saat aku tak bisa bertatapan langsung dengannya, setidaknya aku bisa mendengar suaranya.

“Halo, Nayla di sini.”

Aku tersenyum. Sapaan khasnya belum juga hilang rupanya.

“Halo, Nay. Ini Riris,” aku menyebutkan nama kecilku.

“Riris! Apa kabar?” Ia berteriak kegirangan. “Sombong ya, nggak ada kabarnya.”

“Hehe, maaf, maaf… biasa, orang sibuk,” aku balas bercanda.

Sesaat kemudian kami sudah terlarut dalam perbincangan yang seru. Aku merasa tersedot dengan perputaran waktu yang melemparku ke masa lalu. Aku merasa Nayla ada di depanku saat ini, dengan dua gelas jus mangga yang biasa kami pesan untuk menemani perbincangan kami.

“Gimana hidupmu di Yogya, Nay? Senang?” tanyaku.

“Enggak. Nay nggak bisa bahasa Jawa,” gerutunya. “Tapi di sini kan merata, Ris, pakai bahasa Indonesia juga oke.”

“Tapi lebih enak di Yogya kan?”

“Siapa bilang?” tukas Nayla. “Lebih enak di Batam, Ris. Nay nggak terbiasa di sini.”

Tak lama kemudian perbincangan kami pun usai. Aku menghela napas.

***

Semarang, Maret 2013

Aku teringat masa-masa awalku di Semarang ini. Semua terasa begitu berbeda. Terutama dari asal daerahku yang sepertinya mengejutkan banyak orang. Meskipun aku berasal dari luar Jawa, aku tetap merasa bahwa aku sama saja dengan orang Jawa. Toh kita kan sama-sama berada dalam satu negara, yaitu Indonesia.

Namun sepertinya mindset itu belum tertanam dalam benak setiap orang.

Aku masih merasa asing. Apalagi ketika suatu hari, ada yang memanggilku,”Hei, luar Jawa!” karena dia lupa siapa namaku. Wah, aku merasa seperti alien yang salah mendarat di sebuah planet. Seolah-olah aku bukan bagian dari golongan mereka saat ini.

Sejak itulah aku tahu mengapa sulit sekali menghargai perbedaan. Karena terkadang kita terlalu fanatik dengan persamaan yang kita miliki tanpa ingin melihat ke dunia yang lebih luas.

Saat aku mulai masuk ke dunia mahasiswa pun, aku mendapati hal yang sama terhadap universitas. Misalkan kita bertemu dengan mahasiswa dari fakultas lain, mungkin terbersit rasa yang lain. Semacam perasaan yang berbeda.  Lain halnya apabila bertemu dengan mahasiswa yang berasal dari fakultas yang sama.

Padahal, apa sih yang berbeda? Kita hanya berbeda nama, berbeda bidang ilmu yang dipelajari, namun kita sama-sama bernaung dalam satu atap universitas, bukan? Toh, persamaan itu tak bisa diukur hanya dari persamaan warna jas almamater!

Perbedaan itu memang tak akan ada habisnya.

Perbedaan yang paling kusukai adalah perbedaan seni dan budaya. Aku terkesan dengan bunyi gamelan yang mengalun. Aku terpesona melihat pertunjukan wayang yang seumur hidup baru kali ini kulihat. Aku menyukai pertunjukan tari dari Jawa yang beraneka ragam. Semuanya menarik. Mungkin karena di sana tidak ada gamelan, sementara irama musik Jawa dan Melayu agak berbeda.

Seperti kali ini, aku kembali mengajak temanku untuk menonton pertunjukan ketoprak di kampus. Kau tahu? Untuk menonton ini pun butuh usaha keras karena tak semua orang bersedia menontonnya. Padahal, mumpung tidak membayar. Bandingkan dengan menonton konser yang harga tiket masuknya bisa untuk makan seminggu, namun pengunjungnya malah membludak.

“Aduuh, kamu ngapain toh pakai ngajakin aku nonton ketoprak? Aku males,” ujar Widya begitu kuajak pergi.

“Masa kamu tega membiarkan aku pergi sendiri?” rajukku. “Mumpung malam minggu nih, kamu nggak kemana-mana kan?”

“Karena aku jomblo, aku mau tidur saja,” ujar Widya. Aku meringis. Susah mengajak orang yang tidak punya jiwa seni.

“Ayo dong, Wid. Aku kan tidak mengerti bahasa Jawa,” ujarku sekali lagi. Bahasa Jawa dalam pertunjukan wayang atau ketoprak sulit sekali untuk dipahami. Aku membutuhkan seorang penerjemah  untuk mengartikan.

“Aku juga tidak mengerti, Riris…,” sahut Widya tidak sabaran. “Aku yang orang Jawa saja tidak mengerti bahasa Jawanya, apalagi kamu! Kenapa sih kamu suka sekali menontonnya? Toh, tidak mengerti juga.”

Aku menghela napas. Sulit sekali bagiku untuk menjelaskan bahwa aku senang melihat pertunjukan wayang atau ketoprak. Selain tidak ada di Batam, kesenian itu amat menarik. Wajar saja aku tidak mengerti bahasanya, aku baru tinggal di Semarang beberapa waktu ini.

Namun yang membuatku kecewa adalah nada bicara Widya yang sepertinya bangga sekali mengatakan bahwa dia yang orang Jawa saja tidak mengerti, apalagi aku! Bagiku kalimat itu sangat pesimistis. Bukankah seharusnya dia menyemangatiku, agar aku bisa sedikit memahami bahasa Jawa yang sulit itu? Bukan mematikan semangatku seperti ini.

Padahal, aku sangat berusaha untuk memahami budaya Jawa. Aku ingin mempelajari bahasanya, aku ingin mendalami kesenian yang ada di sini. Aku memperhatikan bagaimana masyarakat Jawa bergaul dan bertutur sapa. Aku belajar dari watak teman-teman yang sebagian besar berasal dari Jawa. Aku ingin diakui sebagai bagian dari warga Semarang juga, walaupun untuk sementara.

Aku lalu meninggalkan Widya dan berjalan keluar ruangan. Saat seperti ini aku jadi teringat Nayla. Kira-kira, apa yang akan ia lakukan ya? Aku segera mengambil ponsel dan memijit nomornya.

“Halo, Nayla di sini.”

Begitu Nayla mengangkat teleponnya, aku tahu bahwa ia sedang tidak kuliah. Langsung saja aku menceritakan masalahku.

“Yaelah Ris, aku juga nggak pernah nonton pertunjukan seperti itu kok. Males! Nggak ngerti bahasanya.”

“Jadi Nay nggak suka juga?”

“Enggak!” tegas Nayla. “Nayla kan nggak senang-senang banget di sini, Ris… mau ada apa juga Nay enggak peduli! Nay mau balik ke Batam saja secepatnya!”

Ooh, jadi Nay juga sama saja, pikirku. Seharusnya aku sudah menduganya. Nayla kurang bisa beradaptasi di Yogya. Adat Melayu dan Jawa memang tampak berbeda, terutama dalam hal berkomunikasi.

Orang Jawa sangat mendewakan adanya unggah-ungguh, atau apapun itu disebut. Tata karma yang santun dalam berbicara, bahkan saat marah sekalipun. Berbeda dengan di sana yang terbiasa berbicara ceplas-ceplos apa adanya, tanpa tahu apa yang dikatakan itu menusuk hati seseorang atau tidak.

Baiklah, aku memutuskan untuk pergi sendiri saja. Reaksi Widya dan Nayla yang berada di luar perkiraanku tak kujadikan masalah. Namun di tengah jalan mendadak aku berpikir. Aku dan Nayla sama-sama berasal dari Batam, dan sama-sama berlayar ke pulau Jawa untuk menuntut ilmu.

Namun, di tengah jalan ternyata prinsip hidup kami berubah. Aku berusaha keras untuk diakui sebagai orang Jawa, sedangkan Nayla kekeuh untuk mempertahankan keaslian identitasnya tanpa mau susah-susah mendalami budaya Jawa sepertiku. Kenapa bisa seperti itu ya?

Kemudian khayalan kembali menyelimutiku. Sebentar, apa jadinya bila saat ini aku berada di Papua atau Nusa Tenggara Timur yang tempatnya begitu terpencil? Apa aku juga akan menonton pertunjukan kesenian di sana dengan semangat membara yang sama? Atau justru sebaliknya?

Diam-diam aku mulai mempertanyakan hatiku. Apa benar aku sudah mengamalkan pepatah dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung? Aku mulai didera sebersit keraguan.

Bagaimana mungkin aku menganggap Widya dan Nayla tidak punya rasa nasionalisme yang tinggi hanya karena mereka menolak menonton pertunjukan wayang?

Bagaimana mungkin rasa nasionalisme itu dapat diukur hanya melalui pertunjukan kesenian? Bagaimana jika  seandainya Indonesia tidak memiliki kesenian yang beragam dan mumpuni, akankah aku masih bangga sebagai warga negara Indonesia?

Duh, apa sih yang kupikirkan?

Aku mengutuk diriku sendiri yang demikian mudah menilai seseorang hanya dari pertunjukan kecil semacam ini. Seharusnya aku tidak usah ribut. Mau mereka senang, atau tidak, itu urusan mereka. Selama aku menyukai pertunjukan tersebut, ya sudah.

Aku tak berhak menghakimi mereka sebagai manusia-manusia yang tak punya rasa bangga pada kesenian daerah mereka sendiri. Aku juga tidak berhak untuk memaksa. Karena aku yakin, mereka pasti punya cara lain untuk menghargai kesenian wayang. Dan kesenian yang lain. Karena seni itu hadir untuk dinikmati dan dilestarikan, bukan?

“Kharisma!”

Aku menoleh mendengar ada suara yang memanggilku. Widya tampak berlari-lari ke arahku.

“Ada apa, Wid? Kok, heboh sekali?” tanyaku.

“Tidak. Aku mau ikut kamu nonton ketoprak, Ris.”

“Lho?” aku kaget. “Kok berubah pikiran? Tidak usah dipaksa deh, Wid.”

Widya tersenyum kecil. “Iya, aku hanya khawatir kamu diculik orang. Lagipula, bukankah kamu butuh orang untuk menerjemahkan?”

Aku mengangguk. Dan segera menggamit lengan Widya menuju lokasi pertunjukan. Sebelum dia berubah pikiran lagi!

Selesai.