64810_43284.jpg
Taufik
Budaya · 6 menit baca

Nasionalisme Sontoloyo

Meminjam istilah Bung Karno, Islam Sontoloyo, yaitu istilah yang digunakan sebagai otokritik Bung Karno pada kondisi penganut agama islam era 1940-an, dipandang sepadan untuk digunakan sebagai otokritik terhadap orang-perorangan maupun kelompok yang menganggap dirinya paling nasionalis namun senantiasa 'memfitnah' orang islam sebagai komunitas berkumpulnya paham radikalisme dan terorisme.

Nasionalisme yang dalam bahasa Belanda natie (bangsa) merupakan paham kebangsaan, artinya meyakini dengan sesungguh-sungguhnya bahwa persamaan kebangsaan akan dapat mewujudkan tatanan masyarakat yang sempurna, damai, adil, dan sentosa.

Semangat nasionalisme mengajarkan kecintaan akan tanah air dengan semangat ukhuwah (persatuan) dan perdamaian, sehingga islam pun mengamini semangat ini sebagai bagian dari konsekuensi keimanan.

Islam dan nasionalisme adalah alasan mengapa Indonesia masih berdiri kokoh. Hal ini senada dengan pemikiran Bung Karno.

Bung Karno sadar kalau Islam dan nasionalisme dipisahkan atau diadu-domba, maka hancurlah Indonesia (Ahmad Basarah pada acara Haul ke-47 Bung Karno, 21/6/2017). Artinya, islam dan nasionalisme bagaikan dua mata uang yang tak dapat dipisahkan.

Baca juga: Nasionalisme Baru

Namun, nasionalisme dan islam akan menjadi dua kutub magnet yang saling tolak-menolak. Keadaan ini terjadi apabila nasionalisme sudah pada tahap sontoloyo, yaitu nasionalisme yang memposisikan kecintaan dan kepentingan kepada tanah air di atas segala-galanya walaupun dengan konsekuensi harus mencibir, mencemooh, menghina, dan menistakan suatu keyakinan beragama. 

Penyerangan, pencibiran, pencemoohan, penghinaan, dan penistaan dilakukan karena menganggap derajat agama lebih rendah dari derajat kebangsaan (chauvinisme). Paham ini secara ekstrem pernah digelorakan oleh Adolf Hitler (1889-1945) yang membawa dunia ke kancah Perang Dunia II (dua) sehingga Jerman dipandang sebagai negara yang paling kejam di dunia.

Walaupun semangat nasionalisme sontoloyo Jerman didasarkan pada ras dan nasionalisme sontoloyo di Indonesia berdasar pada agama, namun kedua-duanya memiliki substansi yang sama, yaitu berupa pandangan mengagungkan derajat bangsa dan merendahkan derajat yang lain.

Baca: Agamawan Sontoloyo

Menurut KBBI, arti dari sontoloyo adalah konyol, tidak beres, dan bodoh. Utroq Trieha (ensiklo.com) memberikan pandangan bahwa kata sontoloyo lebih sering dipakai sebagai kata makian dan umpatan.

Dalam istilah Jawa, sontoloyo merupakan kata umpatan atau pisuhan (sumpah-serapah) yang menggambarkan reaksi kejengkelan. Dari terminologi ini, jelaslah bahwa penggunaan istilah islam sontoloyo oleh Bung Karno bukan sekadar otokritik, namun memiliki indikasi makian. 

Dalam konteks Indonesia, yang paling banyak diserang, dicemooh, dihina, dan dinistakan adalah Islam. Sangat jarang kita temukan serangan, kritikan, dan penistaan yang diarahkan kepada agama maupun kepercayaan lainnya.

Sudah barang tentu, orang-perorangan maupun kelompok yang senantiasa menistakan islam adalah penganut dan pengabdi nasionalisme sontoloyo. Karena nasionalis sejati akan bersikap gentle untuk mengakui bahwa islam dan nasionalisme adalah penyebab utuhnya Indonesia, layaknya Bung Karno.

Dari artikel (esai) Bung Karno yang kemudian dituangkan dalam buku yang berjudul: Di bawah Bendera Revolusi (1959), dan artikel (esai) bertajuk Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara (Pandji Islam, 1940), maka dapat disarikan bahwa yang dimaksud dengan islam sontoloyoleh Bung Karno itu memiliki 5 (lima) karakteristik.

(1) Mudah mengkafirkan (mudah mencap), (2) Taklid buta, (3) Mengutamakan fikih, (4) Buta sejarah, dan (5) Menggunakan hadis lemah sebagai pedoman.

Maka, untuk mengetahui dan memahami sepak terjang nasionalisme sontoloyo, perlu analisis kritis yang terukur seperti yang dilakukan oleh Bung Karno terhadap islam sontoloyo. Sehingga, nasionalisme sontoloyo pun memiliki karakter yang mirip dengan islam sontoloyo, yaitu:

Pertama, mudah mencap radikal. 3 (tiga) tahun terakhir masa kepemimpinan Presiden Republik Indonesia yang ke-7 (tujuh), kita familiar dengan istilah islam radikal, lebih kencang terdengar dari pada masa-masa sebelumnya. Sebagian ulama, pengamat politik, jurnalis, akademisi, tokoh partai politik, petugas partai, dan pejabat negara, bahkan kepala negara begitu mudah, gemar, dan royal sekali dengan perkataan islam radikal.

Cap radikal seolah-olah sangat kental dengan umat islam yang berada di luar lingkaran istana. Menjalankan syariat islam dengan benar, radikal. Kesadaran serta partisipasi umat islam terhadap politik meningkat, radikal. Tidak mendukung kebijakan pemerintah, radikal. Mengkritik pemerintah, radikal. Antisipatif terhadap gerakan 'senyap' komunis, radikal. Membela kitab suci, radikal. Bercadar, radikal. Bergaul dengan para ulama, radikal.

Hebatnya lagi, kegemaran mereka mencap islam radikal diiringi pula oleh istilah yang memposisikan umat islam sebagai komunal yang mesti dilawan, yaitu istilah anti pancasila dan anti kebhinekaan. Perorangan dan kelompok onilah yang kemudian disebut sebagai penganut nasionalisme sontoloyo.

Kedua, taklid buta dan mengutamakan 'fatwa' ketua partai. Taklid artinya mengikuti suatu ajaran atau faham hanya berdasarkan ketokohan seseorang, bukan atas dasar argumentasi yang benar. Sehingga sikap nasionalisme yang benar hanya berdasarkan persepsi yang bersumber dari legitimasi 'seorang tokoh' atau komunitas tertentu.

Urusan tafsiran itu benar atau salah, bukan lagi menjadi hal mendasar. Yang penting tafsir tersebut keluar dari fatwa tokoh atau legitimasi kelompoknya. Akhirnya, nasionalisme seolah-olah menjadi hak paten seorang tokoh, instansi, ormas dan partai politik yang lagi-lagi berada di pusaran penguasa. Sedangkan sikap perorangan, ormas dan parpol yang berada di lingkaran oposisi dan terlebih lagi yang beragama islam dianggap tidak nasionalis. 

Nasionalisme sontoloyo menjadikan status para penganutnya menjadi status robotik yang semua tindak-tanduknya harus sesuai dengan kehendak dan fatwa-fatwa ketua partai. Bernasionalisme menjadi sempit, hanya sebatas kepentingan pendukung kekuasaan, nasionalisme tidak lagi terbang dengan sayap independensinya sendiri melainkan persepsi-persepsi yang syarat akan nilai-nilai fragmatis.

Ketiga, buta sejarah. Umumnya, penganut nasionalisme sontoloyo melakukan aktivitas-aktivitas berupa pengeksploitasian 'ibu pertiwi', penghinaan terhadap islam, penambahan utang luar negeri, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar, impor beras besar-besaran, penaikan harga BBM, TDL, dan sembako serta bagi-bagi kursi senantiasa disematkan atas nama 'mewujudkan cita-cita bangsa dan semangat kemerdekaan' yang notabene telah diperjuangkan oleh keringat dan darah para founding father.

Artinya, penganut  nasionalisme sontoloyo melakukan 'kejahatan' di bawah 'kedok' kebesaran sejarah. Hal ini terjadi karena pada dasarnya mereka tidak memahami sejarah mengenai kekuatan-kekuatan masayarakat yang menyebabkan kemajuan atau kemunduran bangsa Indonesia di masa yang lalu, terutama kekuatan-kekuatan yang bersumber dari umat islam. Justru, malah ada pula sejarah-sejarah yang 'sengaja' disembunyikan dan dibelokan oleh penganut nasionalisme sontoloyo.

Baca juga: Gelora Baru Sukarno

Sejarah Indonesia mencatat bahwa mayoritas perlawanan terhadap penjajahan kolonial Belanda datang dari kekuatan umat islam. Namun, akhir-akhir ini, islam justru diposisikan sebagai kekuatan yang mengancam NKRI. Padahal islam dari dulu selalu menjadi front terdepan dalam memperjuangkan dan mempertahankan NKRI.

Andai kata ada perorangan maupun kelompok yang merasa terancam oleh kekuatan-kekuatan islam, itu bukanlah NKRI kita, tetapi yang terancam adalah penggila kedudukan dan penguasa yang berlaku dzolim.

Keempat, berpedoman pada logika (kepentingan) kekuasaan. Ketika krisis ekonomi serta soal penegakan dan perlakuan hukum yang cenderung tebang pilih, para pemangku kebijakan hanya melontarkan jawaban yang hanya sebatas pada logika-logika formal yang berbau comedy yang menjurus pada ‘latius hos quam praemiisae conclusion non vult'.

Seyogianya, sebagai seorang yang mengaku paling nasionalis, tentu harus mendasarkan ucapan dan tindakan pada logika material (epistimologi) yang syarat akan kebenaran yang bersifat ilmiah dan legal reasoning yang konstitusionalsehingga setiap masalah dapat dijawab dengan solusi-solusi kongkret. 

Masalahnya adalah terletak pada logika kekuasaan, di mana rasionalitas dan pengabdian kalah oleh 'kursi' jabatan. Bertindak dan berucap pada jalan dan cara yang benar (on the track) dipandang bisa menimbulkan hilangnya 'kekuasaan', sehingga ketakutan dan kepentingan mampu merobohkan kuatnya rasa nasionalisme, bahkan keyakinan beagamanya sendiri bisa tergadaikan.

Pedoman hidupnya tidak lagi bertumpu pada ayat-ayat suci dan ayat-ayat konstitusi, tetapi setiap ucapan dan tindakanya perpedoman pada ayat-ayat 'kursi'.

Abraham Lincoln, Presiden ke-16 Amerika Serikat (1809-1865) pernah mengatakan bahwa jika Anda ingin menguji watak manusia, coba beri dia kekuasaan. Watak seorang maupun kelompok yang mengaku paling nasionalis dan terdepan membela rakyat, namun sesudah menduduki kekuasaan justru malah mencekik dan mendzolimi rakyat. Inilah nasionalisme sontoloyo. 

Bernasionalisme yang utuh hendaknya tidak menyinggung sentimen keagamaan apalagi jika sampai pada tahap fobia agama tertentu. Dalam kacamata demokrasi praktis, Islam sebagai mayoritas tentu merupakan pemilik saham terbesar di NKRI kita, maka islam pun memiliki hak untuk tidak dihujat, dihina, dicemooh, dan dihina.

Islam juga membutuhkan perlindungan dan penegakan hukum yang adil. Islam mengecam setiap tindakan-tindakan korup (merusak) dan zalim yang dibalut oleh nasionalisme, termasuk pejabat dan pemimpin negara. Penguasa hendaknya menjadikan umat islam sebagai rakyat yang menjadi mitra dalam merawat dan menjaga keutuhan bangsa kita, Indonesia.

Erich Fromm,  seorang filsuf dan psikolog dari Jerman dan Amerika Serikat (1900-1980) mengatakan bahwa di masa lalu, pemimpin adalah bos; namun kini, pemimpin harus menjadi partner bagi mereka yang dipimpin.