1 tahun lalu · 151 view · 3 menit baca · Politik 67719.jpg
pixabay.com

Nasionalisme, Jembatan Pemersatu

“Nasionalisme adalah milik berharga
yang memberi kepada suatu negara
tenaga untuk mengejar kemajuan
dan memberi kepada suatu bangsa
tenaga untuk mempertahankan hidupnya.”

~ Sun Yat Sen

Nukilan kata-kata di atas merupakan segelintir ajaran filsafat politik dari seorang intelektual China bernama Sun Yat Sen. Seperti para pendiri bangsa (founding fathers) Indonesia, sebut misalnya Ki Hajar Dewantara atau Soekarno, kiprah gerakan dan kontribusinya jelas tak jauh beda, yakni menjadi pelopor revolusi dan nasionalisme dari dan untuk bangsanya.

Mengambilnya sebagai permulaan, tentu penulis bermaksud menjadikannya landasan inspirasi di seputar gagasan nasionalisme ini. Terlepas adanya jarak pemisah antara konteks pemikirannya dengan realitas kehidupan bangsa Indonesia sendiri, tetapi gagasannya tetap mampu menjadi jembatan emas, setidaknya menjembatani lembah dinamika kehidupan dalam berbangsa.

Sun Yat Sen memang menjadi anak dari zamannya. Setumpuk gagasan yang pernah diadukannya, jelas tak mungkin terpisah dari konteks di mana pemikiran itu berlangsung dan berkembang. Apa yang melatarbelakanginya dalam menghadirkan gagasan nasionalisme dan demokrasi di China, kemungkinan besar akan ada banyak kefatalan jika itu diterapkan dalam konteks keindonesian secara tekstual.

Meski begitu, semangat gagasannya tidak akan pernah mati. Bisa dikatakan, gagasannya tetap akan membumi, kapan dan di manapun ia harus diterapkan.

***

Secara gagasan, nasionalisme mampu memberi spirit untuk mengejar suatu kemajuan. Pun nasionalisme mampu memberi spirit, tidak hanya untuk mempertahankan kemajuan, tapi juga memeliharanya (mengembangkan) demi kemajuan itu sendiri.

Pertanyaannya, benarkah nasionalisme mampu memberi spirit untuk kemajuan bangsa? Bagaimana bentuk nasionalisme yang harus kita pacu dan arahkan dalam rangka mencapai cita-cita kemerdekaan?

Dua pertanyaan di atas jelas tidak akan mungkin terjawab tanpa mendahuluinya dengan penguraian seputar riwayat nasionalisme sendiri. Bahwa gagasan kebangsaan ini tidak lahir secara apa adanya, melainkan punya pendasaran logis dalam sejarah kehidupan umat manusia.

Secara historis, nasionalisme lahir pertama kali di wilayah Eropa pada abad XVIII – IX. Negara-negara seperti Prancis, Jerman, dan Inggris, merupakan negara-negara pertama yang menganut nasioalisme—menyusul Amerika Serikat.

Seperti terlihat di masa-masa perkembangannya, nasionalisme menjadi ideologi politik yang tersentralisir dalam etape pembangunan segenap bangsa-bangsa Eropa pada saat itu.

Jika dibanding dengan ideologi-ideologi politik modern lainnya, seperti liberalisme dan demokrasi serta konservatisme dan sosialisme, atau yang paling booming hari ini, yakni fundamentalisme agama, nasionalisme-lah yang paling sederhana, paling jelas, dan paling canggih, setidaknya secara teoritis.

Menurut Ian Adams, ideologi politik inilah yang paling luas, dan memiliki daya cengkraman paling kuat pada perasaan rakyat. (Ian Adams, 2004)

Sebagai ideologi politik, gagasan ini pada mulanya lahir berdasar kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. Di Indonesia sendiri, founding fathers kita menjadikan ide kebangsaan ini sebagai jembatan pemersatu.

Dengannya, mereka mencoba mempersatukan primordialitas. Tidak hanya wilayah, tapi juga mencakup ras, etnis, agama serta budaya, ke dalam satu kesatuan yang hari ini kita kenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mungkin lantaran nilai plus yang dimilikinya, jika dibanding dengan yang lain, menjadikan eksistensi nasionalisme sebagai ideologi politik paling berhasil dalam hal mendapatkan loyalitas dan pengorbanan besar dari massa rakyat.

Tanpa perlu menelusuri jauh-jauh fakta itu, cukup kiranya melihat bagaimana organisasi Budi Utomo, yang pada perjalanannya, mampu menginspirasi lahirnya Sumpah Pemuda di tahun 1928. Upaya awal ini kemudian berhilir pada pendeklarasian kemerdekaan Negara Republik Indonesia di tahun 1945. Hasil-hasil gemilang inilah yang kemudian menjadikan nasionalisme sebagai agen perubahan politik terkuat.

Meski demikian, nasionalisme pun tak luput dari kecacatan dalam penerapannya. Sebagaimana juga bisa terjadi dalam ideologi-ideologi politik lainnya, hakikat mulianya tergantung kepada siapa yang menjadi subjek dalam praktik dan penerapannya. Dan yang terpenting lagi adalah dengan apa gagasan ini harus dipacu dan diarahkan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sungguh, ketika nasionalisme jatuh di tangan orang-orang yang agresif misalnya, maka hakikat nasionalisme-nya pun akan agresif, senofobik. Sebagai contoh, nasionalisme sayap kanan yang berkembang di Jerman pada akhir abad 19.

Yang ditekankan dalam ideologi ini adalah penegasan-kebangsaan dan kemandirian ekonomi yang sayangnya terekspresi dalam perang untuk memperluas wilayah kekuasaan. Hal inilah yang kemudian menginsprasi lahirnya fasisme dan memicu perang demi perang antar-bangsa.

Dan tentu ada baiknya pula untuk kita tekankan sedini mungkin bahwa nasionalisme bukanlah gagasan tentang superoritas. Nasionalisme bukan seperti apa yang ada dalam benak kelompok sayap kanan dan atau fasisme yang menemukan pembenarannya dalam teori evolusi Darwin, yakni prinsip “kelangsungan hidup bagi yang terkuat” (survival of the fittest).

Melainkan nasionalisme, dalam konteks kebangsaan Indonesia, merupakan jembatan pemersatu yang berasas pada kemanusiaan dan keadilan sosial. Inilah yang disebut sebagai nasionalisme Indonesia Modern. (Kaelan, 2002).

Meski demikian, kecacatan nasionalisme dalam sejarah penerapannya tetap harus kita pandang sebagai alasan mengapa kita harus mendaur ulang gagasan ini demi kemajuan bangsa kita sendiri. Dan untungnya kita tak perlu berpikir keras lagi untuk mendesain nasionalisme agar penerapannya mampu menyatu dengan kultur kebudayaan yang ada.

Sebab kita sendiri sudah punya gagasan itu. Tinggal bagaimana cara penerapannya, sembari berlandas pada nilai-nilai luhur atau kebudayaan, lagi bersinergis dengan arus kemajuan zaman (modernitas).