Legal Officer
1 minggu lalu · 320 view · 4 min baca · Hiburan 97127_90060.jpg
Okezone

Nasionalisme Humanistis Shodanco PETA Buruan Jepang

Ulasan Film Perburuan (2019)

Setelah kegagalan pemberontakan 14 Februari 1945, bersamaan dengan aksi militer Shodanco Supriyadi di Blitar, Shodanco Raden Hardo (Adipati Dolken) menjadi objek perburuan militer Jepang. Perwira PETA itu akhirnya ditinggalkan teman-temannya.

Hardo sendirian hidup di gua. Ia meninggalkan kekasihnya, Ningsih (Ayushita), orang tua, dan kehidupan “normal”-nya sebagai perwira dan anak priyayi. Enam bulan kemudian, Hardo kembali ke Blora. Ia melangkah ke kampung halaman dalam keadaan lusuh dan persis seperti pengemis.

Di malam sebelum proklamasi, perburuan terhadap Hardo di Blora makin intensif. Dalam perburuan sehari semalam, drama pengkhianatan, kesetiaan, keteguhan, frustrasi, serta relasi bapak dan anak tersingkap semua.

Apakah Hardo akan kembali bersama orang-orang yang tercinta setelah keyakinannya terbuti? Bagaimana Hardo akan mengekspresikan kegetiran hidupnya pada orang-orang yang sudah mengkhianatinya? Bagi penonton yang belum membaca novelnya, film ini akan memberi jawaban yang menarik.

Dialog dalam Perburuan sangat kuat. Rasa nasionalismenya terasa sekali. Namun juga tidak berlebihan. Pilihan kalimat sastrawi bertebaran dalam banyak adegan. Konon, naskah film ditulis secara disiplin mengacu dialog dalam novel. Dialog antara “pengemis terduga” Hardo dengan ayahnya juga sangat teatrikal.

Ketidakjelasan latar belakang motif karakter-karakter dalam Perburuan membuat janggal film ini. Bila ayah Hardo sudah tahu kebencian anaknya pada Jepang, dari mana kebencian itu tumbuh? Begitu pula dengan nasionalisme Hardo secara umum.


Tidak mungkin semangat nasionalisme tumbuh tiba-tiba dari anak priyayi yang kaya dan berkuasa. Nasionalisme di zaman itu juga berarti anti-kemapanan. Dari mana ia menginternalisasi kosakata patriotik? Bagaimana anak seorang wedana tiba-tiba mau mempertaruhkan kenyamanan dan keistimewaan hidupnya demi cita-cita kemerdekaan yang belum jelas wujudnya saat itu?

Hardo yang menyaksikan tentara Jepang menyiksa rakyat kecil bisa menjelaskan motivasi pemberontakannya. Namun, tidak dijelaskan apa alasan Hardo mau dididik menjadi perwira bawahan Jepang.

Sikap ayah Hardo terhadap Jepang juga tidak membantu menjelaskan latar belakang nasionalisme Hardo. Apakah ayah Hardo, akhirnya, berusaha melindungi pengemis terduga anaknya karena membenci Jepang atau karena naluri alamiah ayah pada anaknya?

Ningsih, yang juga anak priyayi, digambarkan juga berjiwa nasionalis. Namun latar belakang tumbuhnya nasionalisme Ningsih tidak terang. Rasa cinta tanah air Ningsih hampir tidak mungkin tumbuh dari pendidikan ayahnya.  

Dialog Ningsih dengan Hardo pun mengesankan mereka sudah punya kesadaran cinta tanah air, sebelumnya. Tidak ada penjelasan apakah Ningsih menularkan semangat nasionalisme pada Hardo atau sebaliknya.

Demikian pula alasan ayah Ningsih aktif membantu Jepang. Apakah ayah Ningsih aktif membantu Jepang karena iming-iming uang, jabatan, atau dendam? Dari tindakan-tindakan aktif ayah Ningsih, sulit dimengerti bila ia melakukan itu hanya karena tekanan Jepang.

Motivasi Karmin mengkhianati Hardo pun juga gelap. Apakah Karmin rela menikung teman-temannya karena berhasrat pada uang, karier, rivalitas dengan Hardo, atau dendam lain? Lalu, bagaimana Karmin bisa, seolah, mengubah sikap?

Kemampuan peran Adipati Dolken terlihat meningkat dalam film ini. Adegan monolog dalam gua yang gelap disajikannya dengan cukup meyakinkan. Babak dialog dengan ayahnya dalam keadaan saling tidak mengenal menjadi bagian terbaik dalam film ini. Peran Adipati Dolken sebagai Hardo jelas jauh lebih baik dibanding perannya sebagai Jenderal Soedirman (2015).

Ayushita Nugraha sangat meyakinkan memerankan Ningsih, karakter perempuan nasionalis, berpendirian teguh sekaligus guru yang welas asih pada murid-muridnya. Ningsih, dalam sosok Ayushita, berhasil menjadi pasangan idealisme dan keyakinan bagi Hardo, yang diperankan Adipati Dolken.

Sangat mungkin Pramoedya Ananta Toer, penulis novel Perburuan, membayangkan atau setidak-tidaknya terinspirasi oleh Kartini saat menggambarkan karakter Ningsih. Surat Kartini pada Stella Zeehandelaar yang dibacakan Ningsih seakan memberi sinyal tersebut.


Pemeran pembantu lain seperti ayah Hardo (Otig Pakis) dan ayah Ningsih (Eggy Fadli) bermain sama kuatnya dengan tokoh-tokoh utama. Dialog Otig Pakis sebagai ayah Hardo dengan anaknya tanpa memutuskan saling mengenali membuktikan mutu perannya.

Eggy Fadli sangat meyakinkan memerankan karakter wedana priyayi yang pengecut, licik, dan pengkhianat. Penonton akan sangat mudah membenci dan merendahkan karakter ayah Ningsih yang ditampilkan dalam sosok Eggy Fadli. Sebagai penulis berdarah Jawa, wajar diduga jika Pramoedya terinspirasi oleh tokoh Sengkuni dalam Mahabharata.

Sementara Ernest Samudra (Dipo), Khiva Ishak (Karmin), dan Michael Kho (Shidokan) bermain cukup aman sebagai pendukung. Khusus untuk Khiva Ishak, mungkin kemampuan aktingnya bisa dieksplorasi bila naskah menggali lebih dalam latar belakang tindakan Karmin.

Sinematografi dalam film ini juga cukup meyakinkan. Suasana gelap, remang-remang, dan pencahayaan yang tidak terlalu terang menggambarkan kesendirian serta kesumyian Hardo. Suasana di ladang jagung mampu menggambarkan kengerian Hardo yang sedang diburu. 

Kejanggalan terdapat pada peci yang dipakai salah satu tentara pribumi bawahan Jepang. Akurasi historis pemakaian peci oleh prajurit pribumi di zaman Jepang patut diragukan. Penggunaan peci oleh tentara baru lazim setelah Indonesia merdeka.

Aransemen musik latar oleh Purwacaraka sangat mendukung suasana Perburuan. Dalam keadaan mata terpejam saja, penonton akan mudah merasakan adegan mencekam perburan terhadap Hardo. Aransemen musik yang lembut tapi menggugah menjadi penyempurna dialog-dialog patriotik.

Perburuan adalah film yang layak tonton. Terlepas dari beberapa kejanggalan, sutradara Richard Oh kali ini mampu menafsirkan dan memvisualisasikan novel Pramoedya Ananta Toer dengan seimbang. Seimbang artinya, bobot pengisahan cukup dapat dipahami penonton. Berbeda dengan Terpana (2016) yang baru bisa dipahami setelah menonton lebih dari sekali.

Sekalipun berlatar belakang pemberontakan militer, film ini tidak menawarkan kepahlawanan militeristik maskulin. Perburuan justru menawarkan bentuk narasi nasionalisme yang manusiawi. Perburuan menuturkan kisah yang sangat berbeda dari kebanyakan cerita film sejarah yang menampilkan tentara di era Orde Baru.

Perburuan menggambarkan rasa cinta tanah air yang juga mencintai manusia. Film ini, dengan sangat cantik, membawa penonton merefleksikan keyakinan pada nasionalisme berikut sisi humanistik yang melampaui amarah dan dendam atas kegetiran masa lalu.

Artikel Terkait