Penulis
5 bulan lalu · 81 view · 4 menit baca · Budaya 79114_64440.jpg
serambimara.com

Nasionalisme Hari Santri

Pada 10 Oktober lalu, Kementrian Agama menyelenggarakan Muktamar Pemikiran Santri Nusantara untuk kali pertama di Pesantren Krapyak Yogyakarta. Acara ini dimulai sejak Rabu, 10 Oktober, hingga Jumat, 12 Oktober 2018. Acara yang merupakan bagian dari peringatan Hari Santri 2018 ini menjadi salah satu momen penting sebelum malam puncak Hari Santri 2018 yang akan diselenggarakan di Lapangan Gasibu Kota Bandung pada 21 Oktober 2018 mendatang.

Dengan mengambil tema “Bersama Santri Damilah Negeri”, Muktamar ini dibuka dengan “Malam Kebudayaan Pesantren” yang terselenggara di Panggung Krapyak. Paling tidak, ada tokoh-tokoh yang terlibat dalam acara ini, seperti Menteri Agama Lukman Hakim Sifuddin, Gus Hilmy, Romahurmuzy, Abidal El Khaliqie, Sosiawan Leak, Helvy Tiana Rosa, Candara Malik, Inayah Wahid, dan Habiburrahman El-Shirazy.

Di tengah hingar bingar suasana perpolitikan kita dalam menghadapi Pilpres 2018 dan adanya tren baru tentang fenomena politisasi persantren, acara ini hampir tidak tersentuh oleh politik, atau katakanlah kampanye politik dan hal-hal yang berkaitan dengan unsur-unsur politik. Ini tentu sangat menarik, dan sesuai dengan tema acara Muktamar ini, momentum Hari Santri 2018 dapat menjadi sarana untuk merajut suasana harmoni di tengah panasnya isu politik yang sedang dihadapi.

Perayaan Hari Santri Nasional ini memiliki arti penting bagi Indonesia, misalnya pemikiran santri dapat menjadi modal kuat untuk menyebarkan kepada umat tentang pentingnya menjaga keseimbangan, baik itu soal berpikir dan bertindak demi kepentingan beragama maupun demi kepentingan bangsa.

Penting juga disadari bahwa Hari Santri bukan hanya milik orang-orang pesantren yang dalam sejarahnya berjasa ikut andil dalam merebut dan menjaga kemerdekaan. Hari Santri adalah milik kita bersama, yakni milik segenap masyarakat Indonesia.

Hari Santri juga dapat menjadi sarana untuk dapat menjaga kesolidan umat Islam, melestarikan kearifan lokal dan adanya upaya-upaya untuk menjawab tantangan-tantangan baru, khususnya soal kebangsaan. Sebagai cagar budaya, peran pesantren memang tidak bisa diabaikan, pendidikan informal yang diberikan di lingkungan pesantren, juga menjadi pondasi moralitas bangsa untuk terus menjaga eksistensi negara Indonesia.

Paling tidak, acara Muktamar yang bertema “Bersama Santri Damailah Negeri” ini diangkat untuk merespon persoalan kebangsaan dan keagamaan yang semakin kompleks. Apalagi, saat ini ada isu penting yang benar-benar meresahkan segenap masyarakat, yakni menjadikan agama untuk tujuan-tujuan politik.

Medan pergaulan wacana keislaman juga sudah semakin meluas seiring menguatnya gerakan radikalisme, ekstremisme hingga ideologi Islam Transnasional yang semakin mendistorsi pemahaman keagamaan Muslim Indonesia yang sebenarnya sangat lekat dengan nilai-nilai serta kearifan lokal.

Dalam konteks ini, pengarusutamaan pesantren sebagai sub-kultur perlu ditingkatkan dengan mendayagunakan kaum santri untuk turut dalam mengukuhkan identitasnya sebagai agen perubahan sosial, alih-alih sebagai medium transfer pengetahuan semata.

 Dengan berangkat dari tradisi Islam yang moderat, sebagaimana yang selama ini dianut kalangan pesantren, kaum santri dapat memperkenalkan suatu pemahaman keagamaan yang segar, dinamis, dan mampu mendamaikan dua kutub besar antara kecenderungan tekstualisme di satu sisi dan liberalisme di sisi lain.

Hari Santri juga memiliki arti penting dalam konteks sejarah kemerdekaan Indonesia. Tercatat, penetapan hari santri ini didasarkan pada hari di mana resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH. A Hasyim Asy’ari. Resolusi jihad ini kemudian memantik perlawanan semesta yang dilakukan oleh Rakyat Indonesia untuk menentang kedatangan sekutu dan penjajah.

Jauh sebelum peristiwa resolusi jihad dan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, para santri telah berperan penting pada masa kolonial, mulai dari bagaimana mereka teguh untuk memberikan pendidikan bagi masyarakat luas, menjadi penjaga warisan intelektual bangsa, hingga menjadi pasukan perlawanan terhadap kolonial Belanda.

Pasca kemerdekaan, santri juga menjadi lini depan untuk memberikan legitimasi dalam sistem negara bangsa bernama Indonesia ini. Sejarah mencatat bahwa kaum santri ikut menjaga legitimasi kedaulatan Indonesia dengan memberikan status ulil amri al-daruri bi al-syaukah kepada presiden Indonesia yang saat itu sedang mengalami banyak pemberontakan.

Fakta sejarah ini menjadi bukti bahwa santri  menjadi lini terdepan dalam mempertahankan bentuk negara bangsa Indonesia dengan slogannya, “NKRI Harga Mati”. Maskipun, makin ke sini santri dihadapkan pada situasi yang semakin kompleks akibat situasi global yang terus berkembang. Belum lagi soal isu agama di ranah politik yang dapat memicu konflik horizontal yang semakin menampakkan diri dan memberikan ancaman nyata bagi keberlangsungan bernegara kita yang telah disepakati sebelumnya.

Terselenggaranya Muktamar Hari Santri ini dapat menjadi kekuatan baru, memberikan ruang bagi kalangan santri untuk terus mengeksplorasi persoalan-persoalan moderasi beragama dan hal-hal lain yang juga penting terkait kebangsaan. Dalam hal ini, pesantren juga menjadi wadah inovasi pemikiran yang dapat memberikan kontibusi nyata bagi segenap masyarakat Indonesia.

Kita pun tidak perlu risau dengan status apakah kita ini santri atau bukan, apakah pernah mengenyam pendidikan pesantren atau tidak, dan sejumlah hal yang membuat banyak orang merasa tidak pernah menjadi santri. Hari Santri adalah perayaan untuk semua, untuk masyarakat secara luas, dan untuk orang-orang yang memiliki komitmen untuk menjaga negara dari ancaman keretakan dan perpecahan.

Tidaklah penting memperdebatkan tentang status santri atau bukan, yang penting perilaku kita baik dan mencerminkan masyarakat Indonesia yang memiliki budi pekerti yang baik. Moralitas jauh melampui sekat-sekat perbedaan. Karenanya, kita perlu menjadikan Hari Santri ini sebagai wahana untuk mempererat tali persaudaraan, menghadapi berbagai masalah secara bersama-sama, dan yang lebih penting adalah menanamkan sikap toleransi yang setinggi-tingginya di tengah perbedaan dan keragaman.