Content Creator
2 tahun lalu · 469 view · 5 menit baca · Filsafat 168707_1861560101375_1312117588_32235847_3653760_n.jpg
Nationalism

Nasionalisme

Dialektika Progresivisme dan Konservatisme

Sebagai sebuah ideologi, nasionalisme mengandaikan suatu kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu.

Selain melalui semangat politik, nasionalisme juga dibangun dari sebuah konstruksi yang bersifat psikis—suatu semangat kebangsaan yang memiliki prakondisi-prakondisi tertentu, seperti ikatan primordial, kesamaan agama, etnis, maupun ras.

Lebih dari itu, nasionalisme juga merupakan rentetan peristiwa kesejarahan—sebuah cermin yang hadir dari masa silam yang sama, rasa senasib dan sepenanggungan, untuk kemudian diejawantahkan ke dalam satu kerangka tujuan bersama dalam menyongsong masa depan.

Dengan menggunakan kacamata filsafat, tulisan ini akan dihadirkan dengan analisis dari pemikiran Soekarno dan Benedict Anderson. Melalui pemikiran kedua tokoh ini, penulis akan menelaah ide-ide nasionalisme, relasi antara nasionalisme dengan paham-paham progresif, serta nasionalisme sebagai suatu laku yang konservatif.

Nasionalisme: Sebuah Jargon Kebangsaan

Sebelum membahas lebih jauh mengenai nasionalisme, kita harus terlebih dahulu membahas “apa itu bangsa?”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bangsa merupakan kelompok masyarakat yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri.

Sedangkan secara antropologis, bangsa juga dipahami sebagai kumpulan manusia yang biasanya terikat karena kesatuan bahasa dan kebudayaan dalam arti umum, dan menempati wilayah tertentu di muka bumi. Dengan demikian, dapat ditarik sebuah pemahaman bahwa bangsa selalu merujuk pada ikatan dan kesamaan sosio-epistemik yang mengandaikan suatu semangat untuk mencapai tujuan bersama.

Pada tahun 1882, Ernest Renan telah membuka pendapatnya tentang paham “bangsa” itu. “Bangsa” menurutnya adalah suatu nyawa, suatu asas-akal, yang terjadi dari dua hal: pertama, rakyat itu pada masa lalu harus bersama-sama menjalani satu riwayat;kedua, rakyat itu sekarang harus memiliki kemauan, keinginan hidup untuk menjadi satu (Soekarno, 1963: 3).

Namun yang unik dari pandangan Ernest Renan ini adalah ia menyatakan bahwa paham “bangsa” ini sama sekali tidak berdasarkan persamaan ras, bahasa, agama, kebutuhan, dan letak geografis.

Senada dengan itu, Otto Bauer menyatakan bahwa bangsa itu adalah suatu persatuan perangai yang terjadi dari persatuan hal-ihwal yang telah dijalani oleh rakyat itu. Sedangkan nasionalisme, menurutnya adalah suatu iktikad; suatu keinsyafan rakyat, bahwa rakyat itu ada satu golongan, satu “bangsa” (Soekarno, 1963: 3).

Sedangkan menurut Soekarno, nasionalisme akan lahir, jika dan hanya jika satu bangsa itu memiiki musuh bersama yang harus dilawan. Dalam konteks Indonesia, nasionalisme, bersama marxisme dan islamisme, lahir untuk menjadi anti-tesis dari kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme Barat.

Di dalam “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme”, Soekarno menyatakan nasionalisme sebagai sesuatu yang bersifat taktis. Nasionalisme dilihat sebagai program minimum, di atas landasan itu unsur-unsur yang berbeda dapat bekerja sama (Kasenda, 2014: 61). Sampai sini gagasan nasionalisme yang digagas Soekarno memunculkan persoalan: bagaimana mekanisme dan proses sintesis dari ketiga paham yang digemakan oleh Soekarno tersebut?

Hal tersebut dapat dimungkinkan karena dasar pemikiran Soekarno adalah dasar tradisional Indonesia yang tidak menerima keharusan untuk mengadakan pilihan (entweder order), melainkan melihat serta mencari kemungkinan persatuan dan kesatuan yang lebih dalam dan lebih tinggi antar-unsur yang seolah-olah bertentangan dan tidak dapat disintesiskan (Kasenda, 2014: 62).

Soekarno menyatakan bahwa nasionalisme, islamisme, dan marxisme harus bersatu—tidak pada tataran ontologis, akan tetapi pada tataran aksiologis. Dr. Sun Yat Sen, seorang nasionalis dari Tiongkok, menyatakan bahwa nasionalisme harus membuka diri untuk bekerja sama dengan marxisme.

Dalam setting komunitas epistemik yang tertindas, sintesis antara nasionalisme, islamisme, dan marxisme adalah sebuah keniscayaan. Dengan sistesis tersebut, maka gagasan nasionalisme tidak hanya sekadar jargon yang kering makna, melainkan berisi gerakan-gerakan pembaharuan terhadap kondisi sosial yang telah dianggap mapan. Di sinilah letak progresivisme di dalam tubuh nasionalisme.

Nasionalisme menurut Soekarno ini juga menekankan satu hal—nasionalisme bukanlah paham yang bersifat biologis, melainkan paham yang bersifat sosiologis—yang bertautan dengan relasi sosial manusia.

Nasionalisme juga berupaya menegasikan segala pihak yang tidak memiliki keinginan untuk hidup dalam satu kesatuan. Namun, sebagaimana dikemukakan di awal, nasionalisme bukanlah paham yang dapat berdiri sendiri kecuali dengan ditautkan dengan paham-paham lain.  Disabdakan oleh filsuf sekaligus nasionalis dari India, Mahatma Gandhi:

“Buat saya, maka cinta saya pada tanah air itu, masuklah dalam cinta pada segala manusia. Saya ini seorang patriot, oleh karena saya manusia dan bercara manusia. Saya tidak mengecualikan siapapun juga”.

Nasionalis yang sejati akan selalu memiliki dasar epistemik atas satu susunan riwayat, dan bukan semata-mata lahir dari kesombongan bangsa belaka. Nasionalis yang tidak chauvinistik, yang bukan hanya sekadar meniru nasionalisme bangsa lain (Soekarno, 1963: 5). Kemudian, nasionalisme sebagai suatu semangat kebangsaan ini akan bertemu dengan lawannya, yakni nasionalisme konservatif.

Nasionalisme dan Konservatisme

Ketika dalam pemikiran Soekarno, nasionalisme dapat diartikulasikan dengan paham-paham yang bersifat progresif seperti marxisme dan islamisme, Benedict Anderson justru memberikan pertimbangan lain. Dalam bukunya Imagined Communities (1991), ia mengafirmasi bahwa nasionalisme juga mengandung bibit-bibit konservatisme dan artikulasinya dapat dinyatakan dalam bentuk-bentuk yang reaksioner, militeris, dan bahkan fasis.

Sebelum lebih jauh membahas mengenai nasionalisme konservatif ala Benedict Anderson, kita harus terlebih dahulu memahami konsepsinya mengenai negara dan bangsa. Negara, menurutnya, merupakan sebuah komunitas terbayang—sebuah komunitas politik yang pada hakikatnya hanya sebuah imajinasi. Sedangkan bangsa dipahami lebih jauh daripada itu. Bangsa diartikan sebagai sebuah komunitas yang memiliki ikatan yang dalam dan kuat.

Menurut Iqra Anugrah[1] dalam Harian Indoprogress[2], dalam buku Imagined Communities tersebut dijelaskan salah satu contoh artikulasi nasionalisme dengan kecenderungan konservatif, yaitu Nasionalisme Resmi (Official Nationalism).

Dijelaskan di sana, dalam perjalanannya, narasi Nasionalisme Resmi tidak selamanya konservatif, tetapi persoalannya dimulai ketika Nasionalisme Resmi mau tidak mau mengambil jalur statis, negara-sentris, sebagai strategi politik untuk mengimplementasikan gagasan-gagasan idealnya. Sebagaimana dituturkan Anderson:

“Model Nasionalisme Resmi mengasumsikan bahwa relevansinya mencapai puncaknya terutama ketika mereka berhasil merebut kontrol atas negara dan untuk pertama kalinya berada dalam posisi untuk menggunakan kekuasaan negara dalam upaya untuk melaksanakan visi-visi mereka. Ini menjadi semakin relevan karena bahkan para revolusioner yang paling radikal sekalipun selalu, dalam beberapa derajat tertentu, mewarisi negara dari rezim terdahulu yang bangkrut” (hal.159).

Nasionalisme Resmi ini lahir sebagai respon dari Nasionalisme Populer dan Radikal. Yang bersifat progresif sebagaimana telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya. Nasionalisme Resmi akan selalu mendapat benturan dari Nasionalisme Populer dan Radikal yang mengandaikan suatu kondisi masyarakat yang baru.

Bila ditarik ke konteks kebangsaan kita, puncak ketegangan antara Nasionalisme Resmi dan Nasionalisme Populer-Radikal adalah peristiwa Gestapu pada 1965. Hingga kemudian Orde Baru, bersama Trinitasnya—Militerisme, Golkar, dan Birokrasi dapat naik dan melanggengkan kekuasaannya hingga lebih kurang tiga puluh dua tahun.

Hal tersebut berdampak hingga hari ini, ketika nasionalisme, yang idealnya dijadikan suatu semangat perubahan untuk kehidupan yang lebih baik justru harus dibenturkan dengan realitas yang dibaca dengan semakin sempit. Hegemoni Nasionalisme ala Orde Baru yang masih terus berlindung di dalam bayang-bayang reformasi pun ternyata masih sangat kuat memberikan pengaruhnya pada bangsa ini.

Terlepas dari itu semua, ketegangan antara Nasionalisme Resmi dan Nasionalisme Populer-Radikal ini akan terus menerus menjadi—sebagaimana oposisi biner hitam-putih, terang-gelap, siang-malam—tafsir dan orientasi nasionalisme pun akan selalu berada pada dua kutub utama: Emansipatoris ataukah Represif. []

Daftar Pustaka

Buku:

Anderson, Benedict, 1991. Imagined Communities. London: Verso

Kasenda, Peter, 2014. Sukarno, Marxisme & Leninisme Akar Pemikiran Kiri dan Revolusi Indonesia. Depok: Komunitas Bambu

Soekarno, 1963. Di Bawah Bendera Revolusi. Jakarta: Tanpa Penerbit

Situs Web:

Mempertanyakan Nasionalisme: Sebuah Tinjauan atas Transmutasi Konsep Nasionalisme, terbit 23 Oktober 2015  indoprogress.com/2015/10/mempertanyakan-nasionalisme-sebuah-tinjauan-atas-transmutasi-konsep-nasionalisme/

[1] Iqra Anugrah adalah editor IndoPROGRESS dan kandidat doktor ilmu politik di Nothern Illinois University, AS.

[2]Mempertanyakan Nasionalisme: Sebuah Tinjauan atas Transmutasi Konsep Nasionalisme, terbit 23 Oktober 2015 indoprogress.com/2015/10/mempertanyakan-nasionalisme-sebuah-tinjauan-atas-transmutasi-konsep-nasionalisme/