10 bulan lalu · 3500 view · 4 menit baca · Agama 89343_20544.jpg
Ilustrasi: Ustaz Seleb

Nasihat untuk Ustaz Musiman

Nuansa Ramadan kali ini seperti sebuah telaga di tengah gurun panas. Bagaimana tidak, rentetan tindakan terorisme kemarin sempat membuat kita semua kepanasan.

Namun begitu, dalam hal wajah ustaz-ustaz yang nongol di TV ramadan kali ini, masih sama seperti ramadan-ramadan sebelumnya. Acara televisi kita masih banyak dihiasi ustaz-ustaz musiman yang sekedar membahas halal-haram, pahala-dosa, atau surga-neraka memanfaatkan momen ramadan belaka.

Sebenarnya dari dulu saya muak sekali dengan mereka yang menggelari diri mereka ustaz yang isi ceramahnya hanya seputar memberi justifikasi ini halal, itu haram, wajib melakukan ini, haram melakukan itu. Sering kali justifikasi itu mereka lakukan serta-merta tanpa terlebih dahulu melihat dan memahami duduk permasalahannya. Menurut saya, justifikasi prematur itu tak menyelesaikan masalah sama sekali.

La mbok mikir, saya berikan contohnya ya, Ustaz. Apa mereka yang melakukan hal yang diharamkan itu tidak tau bahwa yang mereka lakukan itu haram? Apa menurut ustaz, para pemabok itu sebelum minum alkohol tidak tau kalau alkohol itu diharamkan oleh agama karena memabukkan dan berbahya bagi kesehatan?

Apa menurut ustaz, para pengedar narkoba itu nggak paham kalau narkoba itu illegal dan merusak para generasi muda? Apa mereka para tukang selingkuh atau zina itu nggak sadar bahwa perbuatan mereka itu nista dan haram?

Nggak, Ustaz. Kebanyakan dari mereka sadar betul bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. Mereka paham kalau mereka sedang melakukan perbuatan dosa. Mereka semua kebanyakan sudah hafal apa yang ustaz orasikan dengan teriak-teriak setiap hari di TV mengenai ini yang halal dan ini yang haram. 

Ustaz sudah terlampau sering nongol dari pagi sampai malam setiap hari mengalahkan iklan sosis. Tapi kadang mereka tidak punya pilihan sehingga sering kali dengan terpaksa memilih yang salah.

Untuk kasus pertama, para pemabuk. Mereka jelas paham bahwa ketika ia menenggak alkohol, mereka akan mabuk dan mereka hapal betul bahwa itu adalah perbuatan dosa. Tapi banyak dari mereka yang menganggap bahwa hanya alkohol lah yang bisa menenangkan mereka dari masalah sehari-hari. Alkohol bagi mereka adalah pembebasan paling murah dari penderitaan hidup mereka, meski jangka waktu sementara.

Dengan mabuk, sekejap mereka bisa melupakan hutang, masalah keluarga dan permasalahan lainnya. Kebanyakan mereka adalah orang yang penuh masalah, dan mereka butuh pelarian yang menenangkan.

Harusnya ustaz iri dengan alkohol itu. Mengapa mereka malah mencari ketenangan dengan mendatangi alkohol yang merusak dan bukannya mendatangi ceramah ustaz? Apakah ceramah ustaz tak cukup mampu memberikan ketenangan? 

Saya bisa bayangkan ketika seorang pemabuk menceritakan masalah mereka ke ustaz lalu seketika ustaz bilang "haram itu, antum akan dibakar ke neraka" atau "dosa besar antum, segera berhenti dan bertobat, kalau tidak mau menjadi kerak neraka". 

Alih-alih menenangkan, ustaz hanya menakuti dan mengancam. Ustaz harusnya berpikir lagi bahwa ceramah ustaz yang teriak-teriak ini halal-itu haram, ini neraka itu surga, mungkin sudah tidak efektif lagi. Kenapa ustaz tidak mendekati mereka dan mencoba memahami akar permasalahannya atau setidaknya ustaz melakukan pendekatan persuasif ke mereka secara personal. Mereka butuh dimengerti, jangan hanya mereka yang ustaz minta mengerti ajaran ustaz.

Kedua, untuk mereka para pengedar narkoba. Mereka tentu paham bahwa tindakan mereka adalah ilegal dan sudah barang tentu haram pula. Tapi mereka dengan berat hati melakukan itu. Ustaz tau bahwa kebanyakan para pengedar itu berawal dari desakan ekonomi? Mereka ingin mencukupi kebutuhan anak dan istrinya, tapi daya dan usaha mereka tak jua berhasil. Mereka bukan manusia dengan iman yang tebal seperti ustaz yang bisa selalu bersabar dan pasrah. 

Ustaz mungkin belum pernah merasakan hidup hari demi hari seperti mereka. Dihardik sana-sini ketika mencari pekerjaan. Mengapa ustaz bersama ustaz lainnya tidak mengembangkan industri kreatif agar bisa sedikit membantu perekonomian mereka. Mengapa ustaz lebih memilih membangun emporium ustaz atau menambah koleksi moge ustaz? 

Iya sih, itu hak ustaz, kan itu hasil jerih payah ustaz sendiri. Tapi bukannya sebagai seorang ustaz dan pendakwah, ustaz punya tanggung jawab kepada umat? Tau nggak, Taz, itu moge ustaz kalau dijual satu saja bisa buat memberikan modal usaha puluhan pengangguran agar mereka tidak terpaksa memilih menjadi pengedar narkoba. 

Atau setidaknya, kalau ustaz ogah keluar biaya, ustaz bisa mencontohkan bagimana caranya bersabar dan bertawakal dengan cara hidup sederhana dan pas-pasan, bukan malah memamerkan mobil ustaz yang bolong atasnya itu. Paling tidak nih, ustaz bisalah pura-pura zuhud di depan TV.

Ketiga, untuk mereka yang tengah berselingkuh. Mereka paham betul kalau mereka salah dan berdosa. Tapi banyak dari mereka tidak punya pilihan lain. Sebagian besar dari mereka tidak punya kesempatan untuk berpoligami atau mendapatkan legalitas seperti yang ustaz bilang sunnah itu. Sebagian dari mereka tidak punya istri yang cukup tabah (atau bodoh) dan hanya mengharapkan surga dengan mengijinkan suaminya menikah lagi. 

Sebagian dari mereka juga tidak hafal beberapa potongan ayat atau hadist yang biasa digunakan untuk pembenaran poligami di depan istri. Ya, Taz, kebanyakan pria yang selingkuh juga akan lebih memilih berpoligami andaikan mereka mampu dan ada kesempatan seperti yang ustaz contohkan. Tapi sayangnya, ketika birahi sudah memuncak dan legalitas susah didapatkan, ya terpaksa mereka memilih main belakang. 

Nah, dari pada teriak "itu zina, dosa besar" dan dengan serta merta menghukumi mereka pantas dirajam, kenapa ustaz tak memberikan contoh kepada mereka bagaimana harusnya mencintai dan menyayangi pasangannya dengan setulus-tulusnya. Bukankah ustaz pernah bilang bahwa seribu nasihat tidak lebih baik daripada satu contoh. 

Kenapa ustaz tidak mencontohkan kepada mereka bagaimana ustaz membina hubungan suami-istri yang langgeng puluhan tahun sampai ajal memisahkan. Harusnya ustaz lebih mencontohkan bagaimana ustaz sangat bersyukur dan berkecukupan telah diberikan seorang istri, bukannya malah poligami dengan dalih sunnah nabi. Apalagi istri baru hasil poligami lebih aduhai.

Ustazku sayang, menjadi tegas memang suatu keharusan. Dengan ketegasan kita memberi batas antara yang baik dan yang buruk, yang halal dan yang haram. Tapi dengan kelembutan dan kasih sayang lah kita menyadarkan agar seseorang paham mana yang benar dan mana yang salah, mana yang seharusnya mereka lakukan dan mana yang seharusnya mereka tinggalkan. Setidaknya ajarkanlah mereka berpikir. Bukannya agama mengajarkannya demikian. Ya to, Taz? Salam.