Sugeng, enjing; selamat pagi mas. Masih doyan kopi, kan?

Beberapa hari ini, aku baca banyak berita. Kabarnya mas Cipto kena skorsing dari lembaga tempatmu berkarya, ya? Syukurlah akhirnya lembaga resmi itu bertindak. Sejak dulu sampeyan itu pancen njelehi kok. Terakhir ya postinganmu itu, masa nama Jokowi dan Jan Ethes sampeyan bawa-bawa. Lha mbok ya bercermin to.

Belum lagi gayamu itu lho. Masa akademisi hebat seperti Prof Dr Fathur Rokhman MHum saat tersudut atas dugaan plagiarisme malah sampeyan bersaksi. Nggak mungkinlah akademisi yang guru besar, bergelar doktor dan master humaniora mencontek karya ilmiah mahasiswinya. Masih S1 dan belum lulus pula. Kenthir po?

Pakai logika to, mas. Coba, seorang rektor, guru besar dan master ilmu humaniora kok dianggap nyontek. Kurang jaminan apa coba? Blio itu mati-matian menyelesaikan S1, S2, dan S3 dengan sungguh-sungguh.

Mas Cip, kalau mau jadi aktivis anti plagiarisme itu, mbok ya lihat-lihat. Jangan pernah mengkritisi tokoh yang punya banyak koneksi di lembaga negara. Repot sendiri nanti.

Nah, akhirnya kejadian to? Sampeyan diskorsing, nggak boleh ngajar, nggak boleh kasih bimbingan skripsi mahasiswa. Nanti yang repot, kan, mahasiswa sampeyan sendiri.

Bayangkan kalau mereka frustrasi kemudian menjadi plagiator, apa sampeyan nggak malu?

Sampeyan itu pancen njelehi kok. Dulu berkarier jadi editor Sang Pamomong sudah baik. Esai-esai bahasa Jawa mengalir keren. Aku sangat gembira ketika sampeyan akhirnya memilih menjadi pengajar di Universitas Negeri Semarang. Artinya, kalau aku butuh wawancara dengan budayawan, bisa langsung kontak sampeyan.

Benar. Masih ingat to saat aku hendak membuat cerita tentang tradisi tayub untuk radio BBC London?

Ya. Sampeyan tak hanya memberi penjelasan, namun juga memberi file 3gp yang isinya ledhek tayub sedang berpelukan dengan seorang penonton, dengan iringan Sholawat Nabi.

Untunglah saat itu kehidupan beragama kita belum seperti sekarang, jadi nggak ada gejolak. Masyarakat tidak se-religus sekarang yang gampang kesetanan saat ngomong keTuhanan.

Trus ngapain juga sampeyan mengkritik para penyinyir Jokowi dengan bahasa satire pula? Lha mbok biar saja. Jangan-jangan sanksi itu karena doa para penyinyir yang sampeyan sindir itu dikabulkan.

Sebenarnya jika saat kasus plagiarisme itu mencuat, sampeyan diam saja, tentu situasi akan nyaman dan lebih baik. Sampeyan bisa jalan-jalan ke Pati, nonton kethoprak. Kenapa sampeyan nggak seperti dosen lain yang diam?

Unnes itu nggak butuh manusia seperti sampeyan. Sampeyan kok berani-beraninya mengorbankan karier, gaji, dan tunjangan. Emang sudah ampuh?

Sikap anti-plagiarisme itu hanya keren dalam diskusi, Mas. Jadi ya nggak usah dipraktikkan. Itu sama saja mempersulit diri sendiri. Apa coba untungnya buat sampeyan, buat anak isteri sampeyan? Nggak ada to?

Mana mungkin akademisi di negeri Pancasilais ini menyontek? Nggak bakalan ada.

Saya gembira sih kalau sampeyan sekarang nggak punya kesibukan. Setidaknya bisa menambah populasi kaum rebahan.

Ealah, Mas Cip., Mas Cip. Sampeyan pancen seneng golek perkara.

Gini, mas. Saya ini sebenarnya cuma mau mengingatkan, hentikan semua kegelisahan sampeyan itu. Mahasiswa Unnes akan tetap baik-baik saja. Kalau sudah wisuda juga tetap berhak menyandang gelar S1. Tak peduli ada plagiarisme atau tidak, Indonesia juga akan tetap adil sejahtera seperti sekarang. Gemah ripah loh jinawi.

Mbok jangan cengeng. Menurunnya pendapatan saja kok dikeluhkan di media sosial. Kalau tak salah sampeyan menulis 'penghasilan anak-anak saya menurun drastis pada lebaran kali ini. apakah ini efek jokowi yang terlalu asyik dengan jan ethes?'.

Dari situ jelas banget kalau sampeyan menghina. Bukan hanya seperti yang dituduhkan, namun juga menghina Gusti Allah. Wong jelas-jelas katanya rejeki sudah dibagi dan disediakan Gusti Allah kok.

Saat ini Indonesia tidak butuh sikap sok anti-plagiarisme. Universitas maupun perguruan tinggi lainnya juga nggak butuh itu. Malah kamu nantang debat rektor segala. Mbok ya jangan gitu.

Saya ini masih ingat banyak esai sampeyan yang berbasis Jawa. Salah satunya 'ngono ya ngono, ning aja ngono'. Lha itu mbok ya dilakoni to. Sampeyan itu sudah dinonaktifkan kok ngajak debat. 

Unnes itu lebih butuh citra bagus secara instan, bukan kerja nyata yang berimbas citra. Prosesnya terlalu panjang. Ini jaman katanya sudah revolusi 4.0, jadi ayolah berpikir yang instan. Jangan berpikir dengan proses panjang, macam masih 1.0 saja.

Belum lagi kalau ngomong tentang Indonesia. Bukankah yang dibutuhkan adalah investasi, investasi, dan investasi; ekonomi, ekonomi, dan ekonomi. Jadi sikap jujur, sikap anti-plagiarisme itu jelas menyimpang dari norma masyarakat.

Berteriaklah sampai serak, paling-paling juga akan mempersulit hidupmu sendiri.

Sebagai orang yang pernah berinteraksi, aku hanya bisa kasih saran, hiduplah tenang, pikirkan diri dan kepentinganmu sendiri. Nggak perlu mikir Unnes, apalagi mikir negara. Itu sudah ada yang mikir.

Ayolah kembali ke kampung saja di Pati. Miara dan angon bebek, agar sampeyan tahu pentingnya hidup membebek.

Salam ya, mas, senantiasa sehat.