2 tahun lalu · 5994 view · 6 menit baca · Agama foto_habib.jpg
Foto: www.islamidia.com

Nasihat Habib Rizieq Semakin Membuat Saya Mantap Membela Ahok

Selama menyebarluaskan tulisan-tulisan yang membela Ahok saya tidak pernah menghina dan menjelek-jelekkan Habib Riziq meskipun sejujurnya saya kurang begitu suka dengan cara-cara Habib Riziq. Alih-alih menghina, terkadang saya malah membacakan Alfatihah dan mendoakan beliau.

Saya sangat yakin betul bahwa di mata Allah, kedudukan Habib Riziq sudah pasti lebih mulia dari saya. Perbandingan antara saya dengan Habib Riziq mungkin bisa diibaratkan seperti satu butir merica di atas hamparan tanah yang luas. Tidak ada apa-apanya.

Namun, meski demikian, kesadaran akan hal tersebut tak secara otomatis menanamkan keyakinan dalam diri saya bahwa seluruh yang dilakukan oleh Habib Riziq itu benar dan tidak pernah salah. Ya. Saya mencintai Habib Riziq. Tapi, kecintaan saya kepada beliau tak lantas mendorong saya untuk membenarkan perbuatannya yang memang kurang tepat atau salah dari sudut pandang Agama.  

Jika Habib Riziq benar, tentu saya berdoa semoga Tuhan menganugerahkan ganjaran. Dan jika ia salah, saya pun berharap semoga Tuhan memberikan ampunan. Di mata saya, baik Habib Riziq maupun Ahok keduanya adalah hamba Allah yang harus dimuliakan. . 

Sebagai hamba Allah yang hina, rasanya saya malu jika harus mengotori kehinaan saya dengan menghina salah seorang hamba-Nya yang bernama Basuki Tjahaja Purnama. Sebagai hamba Allah yang tak berdaya, saya pun malu untuk menghina Habib Riziq yang kedudukannya di sisi Allah sudah pasti lebih mulia ketimbang saya. 

Saya ingin berbaik sangka saja kepada semuanya. Saya tidak percaya kalau orang baik seperti Ahok menistakan al-Quran dan memendam rasa permusuhan kepada Agama saya. Dan sayapun tidak percaya kalau Habib Riziq selama ini dibayar oleh orang atau pihak-pihak tertentu selama melakukan Aksi Bela Islam di tengah sengitnya persaingan Pilkada.  

Saya juga tidak percaya kalau Habib Riziq berzina dengan salah seorang perempuan bernama Firza seperti yang tersiar di dinding-dinding sosial media. Saya yakin Habib Riziq adalah orang yang ikhlas dalam memperjuangkan Agama. Hanya saja, cara yang dia tempuh kadang kurang berkenan di hati banyak orang yang memimpikan perdamaian ketimbang kerusuhan di mana-mana.

Apa mau dikata. Habib Riziq adalah manusia biasa yang tak mungkin mencapai derajat sempurna. Niat baik yang dimilikinya tak secara otomatis melahirkan perbuatan yang baik pula. Sikapnya yang ngotot ingin memenjarakan Ahok hanya karena alasan penistaan Agama tentu adalah sikap yang salah. Tuduhan yang dia lesatkan kepada Ahok sebagai penista Agama adalah tuduhan yang kejam. Sebutan “kutil babi” yang dia tujukan kepada Ahok juga tak pantas dijadikan teladan.

Tapi sudahlah. Sampai kapanpun kita tak akan pernah mampu merubah pendirian Habib Riziq. Hampir semua orang Indonesia saya kira sudah tahu bagaimana karakter beliau. Secara pribadi saya hanya bisa berdoa agar setiap kesalahan yang beliau lakukan diampuni oleh Tuhan.

Tak ada gunanya kita membenci Habib Riziq. Membenci Habib Riziq hanya akan menambah dosa kita yang sudah terhampar bagaikan lautan. Lagipula, di sisi lain kita perlu menyadari bahwa aksi-aksi yang dilakukan oleh Habib Riziq dan para pengikutnya telah membuka lapak pahala bagi orang banyak.

Berkat aksi-aksi yang dilakukan oleh Habib Riziq saya bisa membuat banyak tulisan. Berkat Habib Riziq saya jadi punya banyak teman lintas keyakinan. Berkat Habib Riziq saya memiliki banyak ruang untuk menyebarkan kebaikan.

Bahkan, saya kira, berkat Habib Riziq pulalah Ahok sekarang bisa menjadi lebih tenar dan memiliki banyak penggemar. Semakin rajin Habib Riziq beraksi, semakin banyak pula orang yang simpatik kepada Ahok. Coba kalau Habib Riziq cuma duduk manis menggelar majlis zikir di Petamburan? Mana mungkin Ahok bisa dikenal luas sampai ke negeri orang seperti sekarang.

Ya meskipun kadang kita dibuat jengkel juga sih. Tapi ya sudahlah, jangan baper. Ahok aja nggak baperan, kok. Lebih baik kita berpikir positif saja. Berpikir positif seperti ini kadang bisa membuat kita lebih tenang dan santai.

Dada kita terlalu suci untuk dikotori dengan rasa muak dan kebencian kepada Habib Riziq. Apalagi, seperti yang saya katakan, aksi-aksi Habib Riziq di sisi lain telah membuka pelajaran bagi banyak orang. Khususnya saya.

Saya memang tidak setuju dengan cara Habib Riziq menyikapi Ahok. Tapi, setelah saya pikir-pikir, ternyata banyak juga hikmah di balik aksi-aksi yang beliau lakukan. Ini kalau kita mau belajar melihat persoalan secara positif loh ya.

Kita harus tahu bahwa setebal apapun kebencian Anda kepada Habib Riziq, Habib Riziq tetaplah Habib Riziq. Dia adalah tipe manusia pejuang---kalau enggan berkata keras kepala--yang tak akan pernah mundur walau selangkah demi memperjuangkan sesuatu yang dia anggap benar. Kalau Habib Riziq sudah menempuh satu jalan, jangankan kita, Presidenpun dia lawan.

Sekarang Anda lihat saja. Sekalipun pembelaan terhadap Ahok mengalir deras, tetap saja Habib Riziq ngotot dengan pendiriannya yang tak tergoyahkan. Dia tetap menginginkan agar Ahok dijebloskan kedalam penjara. Titik. Tidak ada kata tawar-menawar. Yang tidak setuju dengan Habib Riziq, siap-siap berhadapan dengan jemaahnya yang santun dan mahabenar. Itulah Habib Riziq dan pengikutnya seperti yang kita kenal.

Melihat aksi-aksi Habib Riziq yang terlihat garang, ada sebagian orang yang berpandangan bahwa Habib Riziq dan para pengikutnya adalah kelompok Islam garis keras yang intoleran. Secara pribadi saya tidak berpandangan demikian. Sampai pada tingkat tertentu, Habib Riziq, di mata saya, lumayan toleran. Tapi sayang, jiwa toleransinya kadang terkontaminasi dengan kekerasan verbal. Ini yang saya kurang suka. Tapi biarlah itu menjadi urusan Habib Riziq dengan Tuhannya. Kita hanya bisa mendoakan. 

Setelah sebelumnya rajin memposting isu seputar aksi bela Islam, baru-baru ini halaman facebook Habib Riziq memuat postingan tentang toleransi dalam Islam. Betul bahwa Islam adalah Agama yang toleran. Namun, dalam pandangan Habib Riziq, toleransi dalam Islam itu memiliki batasan.

Seperti apakah rumusan toleransi dalam Islam versi Habib Riziq itu? Penjelasannya bisa Anda lihat dalam lampiran gambar di bawah ini:

Poin penting yang menarik perhatian saya dari rumusan Habib Riziq di atas ialah poin nomer tujuh dari bagian satu. “Tolong umat Agama apapun yang terzalimi.” Saya sangat setuju sekali dengan poin yang satu ini. Nasihat beliau yang satu ini seolah-olah memberikan suntikan baru bagi saya untuk kembali membela Ahok yang sekarang ditimpa kezaliman. Ini betul-betul mencerminkan ajaran Islam yang sejati.

Ajaran Islam memang sangat indah. Perbedaan keyakinan dalam Islam tak memberikan celah bagi para pemeluknya untuk melakukan kezaliman. Kezaliman tak boleh dibiarkan sekalipun pelakunya adalah saudara kita yang seagama dan seiman. Karena itu, jika ada di antara umat Agama lain yang menerima kezaliman, sebagai umat Islam kita perlu melakukan pembelaan.

Berhubung sekarang yang ditimpa kezaliman itu adalah Ahok, maka tak ada salahnya jika kita—sebagai orang Islam—melakukan pembelaan. Dengan membela Ahok kita sudah mentaati salah satu butir nasihat Habib Riziq. Membela Ahok, di mata saya, sama dengan membela keadilan. Dan keadilan adalah bagian dari ajaran Islam. Dengan demikian, membela Ahok sama dengan membela ajaran Islam.

Khusus untuk nasihat terakhir dari bagian kedua saya tidak setuju. “Jangan jadikan umat Agama lain sebagai pemimpin di wilayah Muslim.” Mengapa? Karena baik Indonesia maupun Jakarta bukan wilayah umat Islam semata. Jakarta dan Indonesia adalah milik semua umat beragama. Dan semua umat beragama memiliki hak yang sama untuk menjadi pemimpin di Indonesia.

Islam yang saya kenal tak memandang perbedaan keyakinan sebagai penghalang untuk saling bahu-membahu dan bekerjasama, baik bekerjasama dalam membangun kota, maupun bekerjasama dalam membangun sebuah negara. Karena Islam adalah Agama rahmat bagi semua umat manusia, bukan hanya rahmat bagi orang-orang Islam saja.

Dengan memilih Ahok tak berarti kita memasrahkan keyakinan kita untuk diatur apalagi disuruh keluar secara paksa. Ketika kita memilih Ahok, maka itu artinya kita memilih dia untuk bekerjasama dengan kita dalam urusan-urusan dunia. Dan sejauh menyangkut urusan dunia, Islam tidak melarang kita untuk bekerjasama, baik dengan yang seagama, maupun dengan orang-orang yang berbeda Agama. Dalam konteks ini, al-Quran berkata:

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS al-Mumtahanah [60]: 8)

Demikian, Allahu ‘alam bi al-Shawab.

Kairo, Saqar Quraish, 3 Maret 2017