Siapa yang tidak kenal Gus Dur, sosok kiai yang "nyentrik" sekaligus humoris. Dialah sosok yang sering melontarkan kata-kata: "Gitu aja kok repot". Selain faktor humor dan kenyentrikannya, jawaban-jawaban yang sangat tajam dan visioner terhadap persoalan bangsa dan keummatan menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh wartawan.

Dengan alasan inilah kemudian Gus Dur sempat menjadi "media darling" dulu, istilah untuk orang yang menjadi sumber pemberitaan kesukaan wartawan atau media. Tapi apa jadinya, ketika Gus Dur menyindir atau dalam bahasa halusnya menasihati wartawan. Ya, itu terjadi ketika wartawan meminta pendapat Gus Dur mengenai gempa bumi.

Ketika itu Gus Dur ditanya sama wartawan, mengapa di Indonesia sering terjadi gempa bumi? Jawab Gus Dur: Itu karena Nyai Roro Kidul disuruh pake jilbab. Hehehe.

Bagi sebagian orang, jawaban itu magis, dan Gus Dur dianggap mengada-ada. Tapi Gus Dur bilang: saya ini kiai, kalau masalah gempa bumi tanya sama BMKG, jangan tanya saya. Ya saya jawab kayak gitu.

Ada dua hal penting yang bisa kita ambil dari jawaban Gus Dur di atas. Yaitu, pertama, masalah proporsionalitas dan yang kedua masalah profesionalitas. Dengan jawaban seperti di atas, sebenarnya Gus Dur ingin mengajari atau kalau bahasanya diperhalus menasihati wartawan agar bersikap proporsional. Yaitu sikap bertanyalah kepada ahlinya masing-masing.

Masalah politik, seharusnya wartawan tanya sama ahli politik, masalah agama sama ahli agama, masalah pendidikan sama ahli pendidikan, masalah kesehatan sama ahli kesehata, begitu seterusnya. Sikap yang seperti ini yang akhir-akhir ini yang mulai hilang dari sebagian wartawan. Tentunya tidak semua media melakukan ini. Kasusnya apa yang ditanya siapa.

Wacana Full Day School umpamanya, yang sempat dilontarkan oleh Muhadjir Effendy, menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru diangkat beberapa bulan kemarin. Wacana itu sempat menjadi pro-kontra di tengah-tengah masyarakat. Tapi aneh yang diwawancarai dan di-blow up ke publik justru bukan pendapat para ahli pendidikan. Bahkan tidak jarang yang diwawancarai malah selebriti, dan politikus yang nyata-nyatanya itu bukan ranah mereka.

Terkadang lucu saja melihatnya.

Kenapa wartawan tidak mem-blow up pendapat para ahli pendidikan, atau yang sudah lama berkecimpung di dunia pendidikan saja, seperti Prof. Arief Rahman, Prof. Renald Kasali, atau Prof. Komaruddin Hidayat, yang jelas- jelas lebih paham, dan mendukung wacana Full Day School. Sehingga kesalahpahaman di masyarakat reda.

Belum lagi, banyaknya media daring yang menjadikan suara netizen sebagai landasan. Di sebuah negara demokrasi itu sah-sah saja. Akan tetapi menjadikan itu sebagai rujukan untuk mengabsahkan atau membatalkan suatu kebijakan adalah sebuah kekeliruan. Karena tidak semua netizen paham atas sebuah persoalan. Bahkan tidak jarang ada yang asal komentar.

Nasihat Gus Dur di atas, sebenarnya bukan hanya ditujukan kepada waratawan saja,melainkan kepada semua orang, termasuk saya. Agar bertanyalah sama ahlinya dan berkomentalah sesuai keahlianmu.

Di tengah-tengah masyarakat sekarang ini. Dengan adanya media sosial seperti sekarang, orang bisa ngomong apa saja. Padahal itu jelas-jelas bukan bidangnya, bahkan tidak jarang orang yang tidak tahu apa-apa ikut berkomentar. Mbok, kalau nggak tahu apa-apa mending nggak usah komentar.

Kita dengan mudah menemui kasus, di mana anak yang baru belajar agama, atau malah Iqra' 6 saja belum lulus, sudah berani mengafirkan dan menyuruh Quraish Shihab agar belajar tafsir lagi.

Indonesia ini ribut, ruwet, dan semrawut, karena manusia-manusia di dalamnya belum tahu aturan main. Mungkin inilah keanehan Indonesia, ahli agama mengomentari masalah politik, ahli politik ngomong soal agama, masalah pendidikan dikomentari politikus, dan lain-lain.