Kesenian adalah kebutuhan. 

Pada awalnya, kesenian merupakan sarana “ibadah”. Melalui kesenian, manusia berupaya menghadirkan yang gaib (sakral) ke dunia manusia yang serba tampak (profan). Pengahadiran ini sebagai upaya peng-esa-an, manunggal. Dengan manunggalnya yang sakral dan profan, diharapkan kehidupan akan berlangsung baik, penuh berkah, dan slamet.

Konsep ini didasari pola pikir bahwa hidup dan kehidupan ini bukan perkara yang tampak saja (materiel), namun, terutama sekali, bertalian erat dengan segala yang tak tampak juga (imateriel). Yang tak tampak itu merupakan asal-usul segala “ada” yang empirik ini. 

Manusia pra-modern adalah manusia religius. Segalanya serba berkaitan dengan yang sakral (Sumardjo, 2014).

Gagasan nenek moyang ini lantas tergerus zaman dan dianggap pandangan purba. Sejarah mencatat bagaimana ilmu pengetahuan yang serba emipiris-materialis merajai dunia dan mengubah cara manusia memandang hidup. Dalam logika materialisme, yang tak tampak dianggap tidak ada, dan dengan sendirinya mustahil. Kondisi ini sampai juga pada ranah iman: Tuhan digugat!  

Apa dampaknya bagi kesenian? Dulu kesenian merupakan sarana ibadah bersama (ritual komunal; masyarakat). Sosok seniman dalam masyarakat pra-modern merupakan bagian dari masyarakat yang “bertugas” sebagai seniman. Ia adalah bagian tak terpisah dari organ komunal masyarakat.

Kesenian yang diciptakan dan dimainkannya akhirnya akan menjadi milik bersama dan merupakan ekspresi kolektif yang berangkat dari rasa estetika yang diimani bersama. 

Sang seniman bisa menguratkan cita rasa pribadinya sepanjang masih dalam batasan kode artistik dan hukum estetika masyarakat tersebut. Dan segala karya seni itu adalah “persembahan” pada Yang Tak Tampak.

Kesenian modern kini lebih merupakan “ibadah” personal. Seni sudah menjadi milik pribadi-pribadi seniman. Makanya ia sering disebut “ekspresi jiwa, pikiran, dan perasaan sang seniman”. 

Meski kesenian kini menjadi sangat individual, namun—agaknya—masih ada ruang untuk hal-hal yang imateriel, yang tak tampak. Bahkan boleh jadi yang sakral.

Sebabnya adalah kesenian. Betapapun liar dan materielnya, tetap saja akan berurusan dengan rasa (tak tampak) (Setidaknya itu yang terdapat dalam seni-seni “konvensional”. Dewasa ini, dengan membawa semangat postmodern, kesenian “teranyar” sepertinya lebih mengedepankan gagasan ketimbang yang lain).

Di tengah maraknya kesenian bernapas modern yang bertumpu pada filsafat yang antroposentris, kesenian-kesenian “lama” masihlah hidup di Indonesia meski dengan denyut nadi yang kurang menggembirakan. Karya seni “lama” ini tidak hanya berbicara tentang komposisi, bentuk, struktur, dan lain sebagainya yang terindra saja. Ada hal-hal “gaib” yang “ada” di baliknya.

Bagaimana kesenian didudukkan dalam konteks kehidupan modern? Masyarakat modern punya pola pikir yang berlainan dengan masyarakat pra-modern. 

Seperti telah disinggung di atas, masyarakat pra-modern memandang hidup berkaitan erat dengan yang tak tampak. Hal ini tentu berbeda sekali dengan pandangan masyarakat modern.

Dalam pandangan modern yang serba materialistik, karya seni “lama” macam Topeng Cirebon, Tari Saman, Batik, Keris, patung Suku Asmat, Upacara Ritual Hajat Laut, dan lain sebagainya hanya dipandang “luaran”-nya saja, yang terindra saja. Kalaupun kagum, kekaguman itu lebih pada pola, struktur, komposisi, bentuk, atau hal lain yang bersifat empirik.

Penjelajahan sampai ke “alam gaib” yang “ada” di balik simbol-simbol dalam sebuah karya seni “lama” tentu tidak masuk akal dalam kerangka pikir modern. Kuda Lumping akan diteliti dari aspek “luaran”-nya saja. Paling “dalam”, jika mengkaji fenomena trance, umpamanya, teori-teori Sigmund Freud dan turunannya yang jadi andalan.

Kekaguman masyarakat modern terhadap seni-seni “lama” (tradisi) sebatas mengagumi kehebatan leluhur tanpa berupaya masuk lebih dalam ke alam batin mereka. Hal ini boleh jadi bukan karena enggan, namun karena ketidakmampuan sebab dasar pola pikirnya memang berbeda.

Ibaratnya, seseorang berusaha membuka password sebuah telepon pintar menggunakan kunci gembok. Bukannya tidak mau berusaha membuka, namun ada pemahaman dasar yang berlainan. Meski sama-sama “kunci”, namun gagasan yang mendasari “pembuatan” password dan kunci gembok itu jelas berbeda.

Memandang kesenian tradisi dengan kaca mata modern bukanlah “suatu kesalahan”. Tidak salah dan boleh-boleh saja. Hanya saja kaca mata modern tidak akan mampu merogoh makna utuh dari sebuah karya seni “lama” sebab dasar pemikirannya—dan dengan sendirinya membuat cara pandangnya—berbeda.

Seni “lama” lahir dari rahim yang serba dualistik, materiel-imateriel. Sedang paradigma modern yang memandang, menilai, dan berupaya mengurainya lahir dari rahim dan semangat empiris-materialis (disamping idealis-raionalis). 

Meski secara “luaran”, seni “lama” itu bisa diurai sampai ke detail-detail komponennya, namun hal-hal yang imateriel, yang gaib, yang justru menjadi “tenaga dalam”-nya mustahil disentuh.

Diperlakukannya seni “lama” sebagai “barang” dalam etalase pariwisata—yang berorientasi ekonomi (materialis)—adalah salah satu dampak dari cara pandang modern yang gagal merengkuh utuh makna dan “jeroan” seni “lama”. Sekali lagi, ini tidak salah. Toh, zamannya memang demikian.

Namun, jika kondisi “ketidaksalahan” ini dibiarkan terus-menerus, maka mengapresiasi seni “lama” Nusantara lambat-laun akan sama seperti melihat kerangka manusia purba di museum. Kekaguman dan ketakjuban hanya akan berhenti pada “Wah!” atau “Oh” saja. Hanya sekadar menjadi “pengetahuan”.

Manusia Indonesia akan menjadi makin materialis dan asing terhadap dirinya sendiri. Kita—manusia Indonesia—terkagum-kagum oleh masa lalu tanpa pernah benar-benar memahami. “Cetakan” yang dipakai untuk memahami “isi” masa lalu adalah “cetakan” yang berbeda dengan yang digunakan oleh leluhur kita untuk menghasilkan “isi” tersebut.

Orang Cirebon akan asing pada Topeng Cirebon-nya. Orang Aceh akan asing pada Tari Saman-nya, orang Asmat akan asing pada patung-patungnya, dan keasingan-keasingan lainnya.

Asing di rumah sendiri tentu tidak enak. Bagaimana mengoreksi “ketidaksalahan” ini? Mari—meminjam istilam Pramoedya Ananta Toer—adil sejak dalam pikiran. Menilai dan memahami seni “lama”, gunakanlah kaca mata “lama”. Mengurai kesenian “lama” dengan kaca mata modern sama saja dengan mengebiri kesenian itu sendiri.

Perkara kita mau kembali pada pola pikir lama seutuhnya dan menggunakannya untuk memandang segala hal, itu pilihan.

Daftar Pustaka:

Sumardjo, Jakob. 2014. Estetika Paradoks. Bandung: Penerbit Kelir